TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
AKU TAK AKAN PERNAH SANGGUP JADI PENDAMPINGNYA



Pagi ini August sudah berada di bandara. Dia tidak bertugas membawa pesawat, dia hanya akan ikut sampai Aussie, lalu membawa pesawat yang menuju Indonesia. Karena menggantikan rekannya yang terpaksa pulang. Tak disangka dia naik pesawat yang diawaki oleh mantan teamnya June, perempuan  teman hidup tanpa menikahnya dulu. Untungnya June sudah dipecat oleh maskapai karena istri kapten teman selingkuhnya lapor ke kantor.


“Mau liburan Capt?” sapa Grace sahabat June.


“Enggak, saya mau inval Capt Jhon yang berhalangan,” jawab August santai. Dia akan mencoba tidur saja untuk mencegah pembicaraan lanjutan. Grace yang merasa August menghindar langsung meninggalkan August dan kembali memperhatikan penumpang lainnya. Sejak kejadian perselingkuhan dengan April, August berjanji pada dirinya, dia akan mengurangi keburukannya, dia akan berubah menjadi lebih baik. Karena dia sadar telah membuang permata dan menukarnya dengan sampah. Diperjalanan hidup berikutnya dia harus bisa mendapat permata lainnya. Dan untuk mendapat permata tentu dia sendiri harus bersih.  Bahkan August berniat kembali kekehangatan rumah. Dia ingin kembali hidup bersama mami, papi dan omanya. Dia sadar sudah salah jalan menjauhi keluarga dan agamanya. Tentu tak bisa dia langsung kembali ke rumah. Dia gengsi mengakui kesalahannya. Tapi pasti dia akan bertahap kembali.


***


Sesampainya di kantor Julia langsung menuju ruangan bossnya. “Masuk,” Julia mendengar izin untuk memasuki ruangan bossnya setelah dia mengetuk pintu ruangan itu sebagai tanda minta izin untuk masuk .


Bastian tak peduli siapa yang masuk, dia tak mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. “Maaf, Bapak sudah makan siang?” tanya Julia sopan.


Bastian hanya melihat selintas lalu kembali menatap data di laptop. Julia yang mengerti langsung membuka kotak yang tadi dia beli. Tanpa berkata apa pun dia mulai menyuapi Bastian. Sengaja Julia tak mengeluarkan suara untuk meminta Bastian membuka mulutnya. Dia bertekad bila Bastian mengacuhkannya dia akan tinggal keluar dan tak mau peduli lagi. Bastian benar tak bergerak membuka mulutnya. Julia meletakkan nasi yang tadi sudah digenggam jemari tangannya, dia menutup kotak makan dan meletakkannya di meja kerja Bastian dan segera keluar.


“Yank,” Bastian memanggil Julia yang hampir mencapai pintu. Namun gadis itu tak mengindahkannya. Dia tetap keluar tanpa menoleh, langsung menuju toilet untuk mencuci tangannya bekas nasi yang akan disuapi untuk Bastian.


‘Egoist!’ dengan geram Julia memaki dalam hatinya. ‘Dia bisa seenaknya tak menjawab sapaanku, tapi begitu aku balas, pasti aku yang akan disalahkan. Rasanya aku tak akan pernah sanggup menjadi pendampingnya.’


Bastian keluar menyusul Julia. Tak didapati gadis itu di ruang kerjanya. ‘Tapi tas nya ada, ke mana dia?’ Bastian mencoba menghubungi ponsel gadis itu. Namun dia mendengar bunyi ponsel Julia dari laci meja kerja gadis itu.


Sementara gadis yang menjadi sasaran pencaharian Bastian sedang duduk manis di ruang Fanny. Dia tak membawa ponselnya. “Fann, belikan aku lemon tea ice atau carabian nut ice,” rengek Julia.


“Kita baru aja makan siang, ada apa kamu ke sini dan minta kopi dingin?” tanya Fanny bingung.


“Bete,” jawab Julia singkat. “Dan kalau boss tanya, jawab aku enggak berada di sini.”


“Kamu berani kabur dari pak Bastian?” Fanny menduga, hubungan Julia dan Bastian tentu tak seperti yang terlihat dari luar. Mereka pasti lebih dekat, karena dia tahu dari Yuni tentang Bastian yang tidak konsen saat Julia tak masuk kembali ke ruang meeting. Dan Fanny mengingat saat para petinggi kantor, termasuk dirinya dipanggil pagi-pagi untuk mendengar amarah Bastian pagi-pagi.


“Kamu bisa menutupinya dari yang lain, tapi aku tahu, kamu dan boss ada hubungan khusus ‘kan?” tanya Fanny serius.


“Aku enggak ada apa-apa,” dengan malas Julia menjawab pertanyaan Fanny.


“Saya ganggu enggak?” belum sempat Fanny mencecar Julia, Harun menyembulkan kepalanya di pintu. Tentu saja Julia merasa tertolong dengan kedatangan Manager marketing itu.


“Enggak koq Pak, silakan masuk, kalau kopi saya datang saya akan langsung keluar,” Julia membalas sapaan Harun.


“Wah kamu pesan kopi? Pesankan saya sekalian deh. Sama cemilannya perkedel jagung,” pinta Harun. Maka dengan cepat Julia kembali menghubungi kantin meminta tahu bakso dan perkedel jagung serta carabian nut ice lagi.


Bastian yang kalang kabut atas kepergian Julia mencari gadis itu di kantin. Dia tak yakin kekasihnya ada di ruang kerja rekannya, karena takut dimarahi oleh atasan temannya. Sesampai di kantin dia tak melihat sosok yang dicarinya. Tapi seorang pegawai kantin yang baru mengantar minuman atau makanan ke ruangan mendengar big bossnya mencari Julia langsung memberitahu dimana perempuan itu.


‘Julia dan Harun?’ mendengar kedua nama itu sedang bersama membuat ada yang mendidih di dada Bastian. Siapa yang masak air di dada sang boss besar sih? Koq bisa ada yang panas?


“Jadi harusnya gimana? Mas ‘kan enggak pantas ya Fann?” Bastian mendengar samar suara renyah kekasihnya.


“Aku dan bu Fanny sama-sama dari Sumatera Barat, kau boleh panggil aku Uda aja biar enggak kaku,” jawab Harun.


‘Tebakanku benar, ada sesuatu antara Fanny dan pak Harun. Dari mana dia tahu Fanny berasal dari Sumatera Barat? Rupanya ini yang masih dirahasiakan Vita. Dan Fanny mengungkap kedekatan Vita dengan Harun karena dia cemburu!’ Julia mencob mencari benang merah hubungan Harun dan Fanny.


“Wah cocok nih, aku akan panggil Uni dan Uda ya buat kalian. Kalian sepertinya jodoh, sama-sama suka ngemil perkedel jagung.” goda Julia.


“Nah gitu dong sayang, jangan panggil pak lagi,” jawab Harun. Kata-kata ini jelas Bastiaan dengar karena dia sudah membuka pintu ruangan Fanny.


‘Harun memanggil sayang pada Julia?’ geram Bastian mendengar sepotong kalimat itu.


“Iya uda,” jawab Julia sambil menyesap kopi dinginnya.


“Apa saya mengganggu?” tanya Bastian. Ke tiga orang yang ada di dalam ruangan segera menengok siapa yang berkata.


“Selamat siang Pak,” sapa Harun dengan serba salah.


“Silakan saja Pak, tak ada yang terganggu, kami hanya sedang diskusi santai,” jawab Fanny. Dia yakin Bastian tak akan marah pada mereka karena ada Julia.


“Bapak mau kopi?” sambung Fanny.


“Bo …,” belum selesai Bastian menjawab, Julia langsung memotong. “Tidak, Bapak belum makan siang, kalau mau minum akan saya bikinkan teh panas saja. Dan sebaiknya makan bakso tahu atau perkedel ini.”


‘Sebegitu perhatiannya, dia bilang tak ada hubungan khusus?’ Fanny tentu bisa menilai tentang attensi Julia. Karena itu bukan attensi sekretaris terhadap direkturnya!


\==================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta