TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KEHANGATAN KELUARGA BARU



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Julia pagi ini pulang ke Bogor bersama asisten rumah tangganya. Sejak semalam Bastian sudah rewel inginnya dia bareng Julia tapi kedua orang tuanya tentu melarang. Tak pantas calon pengantin lelaki sudah bersama di rumah calon pengantin perempuan, demikian alasan Achdiyat dan Tuti.


“Hati-hati ya Honey. Dan tiap saat hubungi A’a,” pesan Bastian. Dia sedang di rumah Julia. Ada para kerabat yang juga akan menemani perjalanan Julia kali ini. Tentu saja calon pengantin tak dibiarkan pulang sendiri.


“Iya. A’a juga selalu hati-hati. Aku enggak ingin A’a kenapa-kenapa,” sahut Julia yang hari ini juga merasa berat berpisah dengan Bastian.


Lalu mereka secara bersama meninggalkan rumah Julia, hanya Bastian langsung pulang ke rumahnya, tak ikut rombongan ke Bogor. Andai tak dilarang Apa’ dan Amahnya tentu dia rela merogoh kantong menyewa kamar hotel agar bisa deka dengan calon pengantinnya.


“Uncle,” sambut Topan yang kebetulan sedang di teras ketika Bastian masuk ke rumahnya dengan lemas.


“Hallo sayang, kenapa main sendiri?” tanya Bastian.


“Ade lagi pup,” balas Topan sambil tak mau memindahkan matanya dari buku yang sedang dia baca. Dan tangannya terus memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.


“Sudah berangkat?” tanya Tuti pada putra tunggalnya itu.


“Sudah Mah,” sahut Bastian. Dia tahu yang Amahnya tanya tentu Julia.


“Enggak usah lebay gitu. Enam hari lagi dia resmi jadi istrimu. Dan lima hari lagi kita juga meluncur ke Bogor untuk menginap di hotel sana kan?” bu Tuti menggoda Bastian yang terlihat kuyu padahal baru saja berpisah dengan calon istrinya itu.


“Lebih baik kamu siapkan baju untuk menginap di rumah mertuamu nanti. Kan sehabis akad kalian enggak bakal boleh langsung pulang ke Jakarta,” bu Tuti memberitahu Bastian soal kemungkinan dia beberapa hari tertahan di rumah Julia sebelum kembali ke rumah Julia yang akan mereka tempati. Padahal niat awalnya Bastian ingin tinggal di apartemennya saja tapi kedua calon mertuanya melarang.


‘Iya juga ya, aku enggak mikir soal itu. Aku pikir habis akad aku bisa bawa Julia keluar dari rumah itu,’ Bastian tak menjawab, dia hanya membatin membenarkan apa yang ibunya katakan.


Lelaki itu pun masuk ke kamarnya dan mulai menurunkan satu buah koper miliknya, dia akan mulai memasukkan baju untuk di rumah mertuanya di Bogor. Dan di koper lain dia juga mulai memasukkan baju serta keperluan lainnya untuk dia mulai stay di rumah Julia nanti sehabis menikah.


***


Pagi ini rumah keluarga Kesuma sangat semarak. Dimulai salat Subuh berjamaah lalu lanjut sarapan bersama. Semua menyambut hari ini dengan penuh suka cita.


“Team MUA akan mulai kerja jam setengah tujuh ya. Jam enam mereka akan datang dan akan saya suruh istirahat dan sarapan selama tiga puluh menit dulu. Jadi Uwak, Mieske dan Nazwa bersiap. Baju kalian harus yang berkancing depan. Perias Laura itu beda dengan perias kita. Dan buat para lelaki, team MUA akan membantu mengenakan pakaian adat saja. Kecuali pengantin laki-laki yang akan di beri make up sedikit untuk kesan bagus saat di foto,” Claudia memberi info tentang kegiatan pagi ini.


“Dan kalian calon pengantin, makan yang banyak agar tidak lapar. Dan khusus Kakak, antisipasi gunakan diapers saat sudah berganti baju pengantin. Jangan anggap sepele. Orang nervous akan sering ingin pipis. Padahal menggunakan baju adat sulit untuk pipis. Maka diapers adalah solusinya,” Mieske menambahkan keterangan Claudia.


“Iya juga ya Mi. Enggak kepikir soal itu,” sahut Laura. Laura sangat bersyukur dikelilingi orang yang sangat mengasihinya. Begitu pun Nazwa. Gadis kecil itu senang akan selalu dalam dekap keluarga yang mengasihinya seperti yang selama ini dia terima ketika masuk ke lingkungan keluarga mommynya.


Nazwa melihat, bahkan orang tua mantan tunangan mommynya saja masih sangat mencintai Laura. Berbeda dengan yang dia dapat dari keluarga ibunya. Keluarga ibu kandungnya tak ada yang mau mengenaalnya bahkan walau hanya sekedar menyapa. Padahal kekerabatan mereka sangat erat karena bertalian dengan satu darah. Beda dengan daddynya yang bagi kerabat ibunya bisa disebut mantan kerabat.


Itu sebabnya Nazwa bisa menilai keluarga seperti apa kerabat ibu kandungnya itu. Sedang buat Claudia dan Anjas, dia dan Fahri dianggap cucu dengan cinta tulus. Dan sekarang oma Mieske dan opa Gerhard pun juga memberikan sayang yang terhingga padahal mereka baru saja bertemu kemarin.


“Iya Oma, sepertinya Ade yang bakal banyak di luar. Aku kan kan dirias bareng Oma,” sahut Nazwa.


“Iya aku akan tunggu di depan Oma. Kan aku ganti baju nanti jam setengah sepuluh aja, aku paling akhir setelah Om Gerry,” sahut Fahri. Lelaki kecil itu bahagia karena opanya sangat perhatian pada dirinya.


“Liburan semester kalian berdua menginap di Bekasi, di rumah Oma dan Opa ya,” pinta Gerhard pada kedua ‘cucu’nya itu.


“Wah ada yang nikung nih, gimana bisa ke Bekasi, wong mereka belum menginap di rumah kami di Jakarta,” Anjas tak mau cucu-cucunya diambil Gerhard lebih dulu.


“Kalau kalian berdua rebutan cicit-cicitku, lebih baik mereka Uyut bawa jalan-jalan ke Belanda dan German,” opa Greg tak mau kalah.


Akhirnya semua yang berada di meja makan tertawa bahagia.


‘Aku tak menyangka akan mendapat kehangatan keluarga seperti sekarang. Bahkan dulu saat masih rukun saja, keluarga Ida tak pernah memberi senyum tulus padaku,’ batin Syahrul. Dia senang melihat senyum putra dan putrinya.


“Abang nasinya mau tambah?” suara lebut pujaan hatinya menginterupsi lamunan Syahrul.


“Nasinya cukup Mom, boleh minta pecelnya lagi aja?” Syahrul menjawab perempuan yang beberapa saat lagi akan menjadi istri sahnya.


Laura mengambilkan pecel juga perkedel dan emping ke dalam piring Syahrul. “Kakak mau nambah juga?”


“Enggak Mom, Kakak kenyang ama lontong sayur,” sahut Nazwa.


“Ade aja Mom, nasi ama Ayam bakar kemirinya,” tanpa menunggu ditawari, jagoan kecil Laura malah minta diambilkan nasi lagi. Dengan telaten Laura melayani anak bungsunya itu. Dan semua bisa melihat kalau hubungan Laura dan anak-anak memang sangat akrab. Andai orang tua Laura menolak Syahrul maka yang terluka bukan hanya kedua pasang kekasih itu, tapi ada dua mahluk suci yang akan ikut sedih.


“Wawa, pagi ini kamu dengan oma Mieske dan Oma Claudia aja ya, jangan ganggu Mommy mu karena dia akan mulai dirias. Kita dirias di ruang berbeda karena perias pengantin tak mau konsentrasinya terganggu,” Mieske mendekap bahu Nazwa yang dia beri panggilan sayang Wawa.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL BETWEEN QATAR AND JOGJA  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta