TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
YAKIN PADAMU SETELAH MERASAKAN PELUKAN MANTAN TAK ADA RASA HANGAT



Bastian tahu, Julia masih marah kepadanya, dia duduk dan makan dalam diam. Dia tak ingin membuat Julia tambah marah.


“Teh, bawakan pisang molen yang kemarin ya, biar enggak kebanyakan yang buat kita di rumah. Kalau di kantor ‘kan banyak yang makan.” Julia meminta teh Imah menyiapkan pisang molen yang kemarin dia dapat dari seorang kerabatnya yang datang berkunjung. Oleh-oleh dari Bandung.


Setelah selesai sarapan, Julia mengambil tas dan ponsel di kamarnya, lalu dia bersiap berangkat. Namun ada yang janggal, Bastian malah duduk di sofa ruang tamunya. “Mengapa malah duduk? Apa tak jadi berangkat ke kantor?” Julia tentu bingung dengan kelakuan lelaki yang mengaku mencintainya itu.


“Duduk dulu, A’a enggak mau kita bicara di mobil lalu malah bahaya, karena A’a enggak akan fokus nyetir,” perintah Bastian diucapkan dengan lembut. Sehingga mau tidak mau Julia mematuhi perintahnya.


“A’a ngaku salah, kemarin enggak jawab pertanyaanmu. Tapi harusnya kamu ngerti, A’a enggak bisa lihat kamu dengan lelaki lain. Jangankan di peluk, kamu membicarakan nama lelaki lain aja A’a enggak suka, kamu bicara dengan lelaki lain aja A’a enggak suka. Kenapa kamu malah menerima permintaan peluk darinya? Ngerti ‘kan kenapa A’a diam kemarin?” Bastian berupaya tidak emosi. Dia sangat cemburu. Membicarakannya lagi tentu membuat dia ingat kemarahannya kemarin.


“Aku berbuat gitu di depan A’a. Aku enggak sembunyi-sembunyi, maka aku berani. Kalau dia minta dibelakang A’a, aku enggak bakal kasih. Kenapa? Karena pasti akan bisa menimbulkan fitnah bila disebar oleh orang yang tak suka,” Julia menjeda untuk menarik napas. Dia juga marah, karena Bastian tidak mengerti apa yang ada dalam benaknya.


“Mohon A’a jangan menyela, aku mau keluarkan semua uneg-unegku,” pinta Julia.


“A’a tahu, lelaki yang pernah menjadi tunanganku itu, lelaki pertama yang mengenalkan cinta beda jenis padaku. Dia cinta pertamaku. Selama ini dia lembut dan tak pernah ada cela. Dia bertanggung jawab dan tak pernah melirik perempuan lain. Kalau akhirnya dia terpeleset, itu karena dia di jebak. Ada perempuan nakal yang butuh lelaki yang bisa dia ikat untuk menjadi ayah bagi anaknya. Ada perempuan yang butuh status sebagai istri pria terhormat sehingga perilaku buruknya sebagai penjaja tubuh bisa tersamarkan. Aku tentu sakit hati dan kecewa, tapi aku bisa memaafkannya. Memaafkan bukan berarti aku bisa menerimanya kembali,” Julia masih bicara dengan runtut, dia masih bisa meredam emosinya.


“Aku terpuruk harus berpisah dengannya saat pernikahan kami akan berlangsung 3 bulan lagi. Tapi aku juga tak mau kembali padanya. Apa A’a bisa bayangkan perasaanku? Satu kakiku berada dalam zona mencintainya dengan sangat. Namun kaki lainnya menyuruhku untuk melupakan impian kami. Apa salah kalau aku ingin memberinya kenangan manis, bahwa perpisahan kami bukan menjadi tragedy yang memilukan, tapi perpisahan manusia dewasa yang bisa berpikir jernih dan dalam kondisi mencinta dalam diam?” suara Julia mulai tersendat.


“Aku sadar, tak akan mungkin bersamanya lagi, itu sebabnya aku ingin pelukan perpisahan kami menjadi kenangan indah sebagai bahan pelajaran bahwa berpisah bukan berarti kami perang. Berpisah bisa dilakukan dalam damai,” tangis Julia mulai pecah.


“Maaf … maaf, A’a salah,” Julian langsung menghampiri Julia, dia duduk di tangan kursi yang diduduki perempuan itu. “Maaf, A’a terlalu mencintaimu sehingga tak berpikir sejauh itu. Maaf,” berulang kali Bastian menyampaikan kata maaf. Dipeluknya erat gadis yang sedang terisak. Dia kecup kening dan puncak kepala Julia. Di ambilnya selembar tissue di meja dan diusapnya lembut air mata di pipi gadis itu.


“A’a yang bilang, kita harus selalu bicara. Tapi A’a yang duluan diam. Kalau kemarin A’a langsung ngomong, aku juga pasti akan ngejelasin saat itu juga,” Julia memeluk erat Bastian yang duduk lebih tinggi, karena lelaki itu duduk di pegangan kursi.


“Apa A’a mau, aku pelukan dengan orang lain bila enggak ada A’a?” pertanyaan bodoh Julia yang dia sudah tahu apa jawabannya.


“Ya enggak boleh lah,” tukas Bastian cepat.


Setelah semua clear, akhirnya mereka berangkat ke kantor. Sudah sangat siang, karena dari rumah Julia saja sudah pukul 09.12. Tapi siapa yang bisa melarang? “Mau ngemil enggak A’?” tanya Julia, dia mengambil kue yang dibawanya.


“Mau,” jawab Bastian cepat. Rupanya diskusi dengan emosi membuat mereka kelaperan. Julia menyuapi Bastian, dan bekas gigitan Bastian dia makan tanpa ragu. Lalu dia suap lagi ke Bastian, begitu sampai 3 pisang molen mereka habiskan berdua.


“Terima kasih honey,” cetus Bastian sambil mengembalikan botol minum pada Julia. “By the way, A’a lupa. Kita waktu itu belum selesai ngebahas cincin hadiah ulang tahunmu.”


“Hahaha, iya A’. Ada orang aneh, dia bilang dia cinta ke AYA. Dia ngasih cincin. Tapi dia enggak makein. Ya buat apa AYA pake ‘kan?” goda Julia.


Bastian tentu saja tertohok. Bodohnya dia malam itu. Diambilnya kepala Julia lembut dan ditarik agar bisa rebah ke bahu kirinya. “Jangan godain gitu, nanti sebelum kita turun, A’a pasangin ke jarimua ya,” sambil nyetir dia mencuri kecupan di kening gadis itu.


“Jangan kepedean Pak Direktur! Memang Anda yakin itu cincin saya bawa?” tanya Julia.


“Yaaaaah, kamu enggak bawa ya. Atau kita beli dulu yok. Biar A’a langsung pasangkan,” Bastian mencoba mencari solusi.


“Ya enggak sama lah. Cincin hadiah ulang tahun koq diganti dengan cincin yang tidak ada moment khusus. Tentu beda maknanya. Lagipula bila dibawa, lalu dipasang di parkiran, ‘kan enggak romantis,” protes Julia.


“Yaaah, salah lagi ya?” tanya Bastian dengan naifnya. Dia pikir yang penting ada cincin lalu dipasang ke jari Julia. Tak perlu memperhatikan tempat romantis.


“Kamu bisa merancang kejutan ulang tahun romantis dengan memetik gitar dan bernyanyi. Masa memasangkan cincin enggak mikir romantis sih A’?” tentu saja Julia bingung dengan kontradiksi yang Bastian tunjukkan.


“Mungkin buatmu aneh. Tapi perlu kamu tahu, kamu itu perempuan pertama yang aku kejar. Kamu perempuan pertama yang ingin aku miliki. Aku belum pernah mengatur kencan atau mengucap kata cinta duluan selain ke kamu. Karena dengan mantan bukan seperti aku ke kamu. Aku kenal mantan, dia nempel terus. Lalu dia yang duluan bilang suka. Dia juga yang pertama mencium dan menyerahkan dirinya. Selanjutnya setelah dia berulah, aku tak pernah terlibat dengan perempuan mana pun yang melibatkan perasaan. Aku hanya berpindah dari tubuh ke tubuh,” Bastian mengungkapkan mengapa dia belum berpengalaman berpacaran apalagi mengatur kencan romantis. Ide kejutan ulang tahun saja dari apa’ dan mamah’ nya.


Tentu saja pernyataan itu membuat Julia agak kaget. Rupanya Bastian sangat jauh berbeda dengan August, yang mantan pacarnya sangat banyak sejak SMA. Julia pikir, pria semanis Bastian pasti sudah banyak pacar sejak SMA.


Mobil telah parkir manis di basement, Julia sengaja tidak langsung keluar. Dia memandang Bastian dalam-dalam. Sebenarnya sejak Bastian memintanya untuk menjadi kekasihnya saat ulang tahun di Jogja, Julia merasakan perasaan yang sama. Namun saat itu dia belum pasti. Kepastian baru dia dapat kemarin sore, saat dia memeluk August dan merasakan pelukan August sudah tak membuatnya nyaman seperti ketika mereka masih terikat pertunangan.


============================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta