
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
SELAMAT MEMBACA
\=====================================================================
“Cuma akad doang aja begini ribetnya ya,” cetus Yudha.
“Mungkin karena ngedadak. Kalau enggak ngedadak ya enggak ribet kali,” jawab Farhan sambil menyuap makan siang mereka. Tadi Farhan keluar membeli nasi Padang dengan mobil bak yang kemarin mereka bawa dari Jakarta.
“Eh, apartemen pasarin ya,” pinta August. Walau dia sendiri pun akan memasarkan. Tapi kalau lebih banyak kan kemungkinan cepat laku. Bukan dia butuh uang. Tapi daripada apartemen tak ditinggali kan sayang. Bisa dimarahi nyonya kalau dia tahu August membuat sesuatu mubazir.
Tentu saja yang dimaksud August dengan predikat ‘nyonya’ adalah Wulan. Anak kecil yang besok lusa sudah menjadi nyonya August.
***
“Kamu besok berangkat ke hotel dengan siapa Lan?” tanya Laura yang baru datang ke panti malam ini. Dia baru pulang dari rumah sakit Kemala dengan anak-anak sepulang dari pernikahan dokter Ilyas.
“Dijemput stafnya pak August Bu,” jawab Wulan. Perempuan itu sedang melipati baju bayi yang baru diangkati dari jemuran.
“Kalau butuh bantuan saya bilang ya. Jangan sungkan,” Laura menawarkan diri.
“Iya Bu. Terima kasih sebelumnya,” jawab Wulan. Dia sudah lapor pada Laura akan menjadi tenaga kerja relawan. Kerja tanpa dibayar. Dan akan tidur dipanti bila August sedang dinas. Dan Laura setuju.
‘Sweety, Mas kangen,’ chat dari August masuk ke ponsel Wulan.
‘Kita baru ketemu kemaren sore ‘kan? Dan Senin pagi juga udah ketemu. Enggak usah lebay deh,’ balas Wulan. Dia sedang membuat susuu ibu hamil.
‘Yeeeeeeee …, biar baru pisah sepuluh menit, kalau kangen emang bisa kita tahan,’ balas August tak mau kalah.
‘Jiaaah… dulu enggak ketemu lama enggak apa-apa,’ ejek Wulan.
‘Dulu ‘kan kamu bukan tunangan Mas,’ balas August tak mau kalah.
‘Ya wes, aku mau tidur ya,’ Wulan tak mau berdebat dengan calon suaminya itu.
‘Sudah minum susuu?’ tanya August.
‘Sudah.’ balas Wulan pendek.
‘Met bobo Dedek, met bobok Ibunya Dedek,’ August pun memberi ucapan selamat tidur bagi calon istri dan calon anaknya.
‘Met bobok juga Ayah,’ jawab Wulan. Dia tak berani menyebut August sebagai ayahnya dedek.
‘Ih curang. Cuma disebut Ayah, bukan Ayahnya Dedek,’ protes August.
‘Maaf lupa. Met bobok Ayahnya Dedek,’ balas Wulan. Padahal bukan lupa tapi dia tak percaya diri.
‘Ya.’
***
Pagi sehabis salat subuh Wulan seperti biasa melakukan tugasnya tanpa berubah. Dia tetap Wulan yang biasa. Walau statusnya besok akan menjadi istri seorang pilot dan akan hidup mapan. Dia tak berubah. Dia tetap menyetrika semua baju yang kemarin sudah dicuci.
“Lho Lan, bukannya hari ini kamu sudah harus bersiap untuk pernikahanmu besok?” tanya Sukma melihat pegawai yuniornya itu masih tetap bekerja pagi ini.
“Nanti Teh, saya akan dijemput jam setengah sepuluh. Masih lama. Ini sebelum sarapan juga selesai koq nyetrikanya. Habis makan masih bisa nyuci baju hari ini,” balas Wulan dengan santainya.
‘Bu Laura kalau menolong orang memang bisa menilai karakternya sebelum dia beri uluran tangan. Bik Ani dan Wulan ini benar-benar orang baik,’ Sukma ingat saat pertama Wulan datang untuk meminta perlindungan Laura kala itu. Saat itu memang dia yang pertama menerima Wulan.
“Ya sudah, jangan dipaksakan ya. Ingat kamu sedang hamil dan persiapan pernikahan itu sangat melelahkan,” Sukma hanya bisa menasehati ‘adiknya’ itu.
***
Ilyas bangun tidur dengan rasa nano-nano. Dia bahagia karena bisa tidur memeluk istrinya. Tapi juga kecewa karena tak bisa making love dimalam pertama. Dan dilengkapi dengan kasihan melihat bagaimana traumanya Namira saat mereka baru akan memulai ritual. Rupanya Namira teringat saat dua kali dia diperkosa kakak iparnya.
Nano-nano kan? Asem, manis, pedes, itu rasa yang Ilyas kecap semalam. Akhirnya Ilyas hanya bisa bahagia karena bisa salat berjamaah dengan istrinya. Dan dia langsung kembali ketempat tidur, bergelung dikasur sambil mendekap Ilham yang sengaja dia pindah dari box bayi ke kasurnya.
Namira sehabis salat subuh langsung keluar menyiapkan sarapan untuk semua. Saat ini keluarga Kusdi masih berada di Bandung. Rencananya sehabis sarapan mereka akan kembali ke Pasir Kuda, Ciomas, Bogor.
Novia bingung melihat mata sembab Namira saat perempuan itu berpapasan dengan adik iparnya didapur. ‘Mengapa mata pengantin baru seperti itu?’
“Ilyas mana?” tanya Novia memecah kekakuan.
“Habis salat tidur lagi. Biasa dia sejak dulu kalau tidur bawa Ilham memang seperti itu Bu … eh Teh,” sahut Namira yang masih belum terbiasa menyebut Novia dengan panggilan teteh.
Namira mengatur sarapan pagi ini. Dia membuat bubur ayam lengkap. Ada cakwe yang sudah diiris, kedele goreng, ayam suwir, sate usus dan rempela, sambal kacang, kerupuk dan emping. Semua tinggal ambil sesuai selera masing-masing.
“Morning my wife,” Ilyas mengecup pipi Namira seperti kebiasaannya selama ini. Hanya pagi ini ada sedikit perubahan. Dia mengganti kata honey menjadi my wife.
Dan seperti biasa Namira harus menekan malu karena hal itu Ilyas lakukan didepan Novia. “Morning too Yah,” balas Namira sambil mengusap lembut pipi Ilyas karena Ilyas ada dibelakangnya. Ilyas memang selalu mengecup pipi dari samping sambil memeluk dari belakang.
“Kopinya nanti aja ya, sarapannya bubur ayam kesukaanmu dan Nindi,” kali ini Namira tidak tanya mau minum kopi kapan.
“Nindi belum bangun?” tanya Ilyas bingung. Biasanya walau libur gadis kecilnya tak akan bangun siang. Malah akan bangun pagi karena mereka akan keliling komplek naik sepeda dan habis sarapan serta mandi dia akan terus didepan televisi menonton kartun kesayangannya.
“Sama dengan Gilang dan Galang. Sepertinya mereka terlalu lelah semalam,” Novia ikut nimbrung dengan percakapan pengantin baru itu. Kemarin sore Kusdi dan Novia memang mengajak anak-anak keliling Bandung dan pulang hingga cukup larut.
“Nindi biasa kalau hari Sabtu dan Minggu keliling perumahan naik sepeda sama A’a. Habis itu dia nonton tv karena hanya hari Sabtu dan Minggu dia boleh nonton. Jadi hari libur biasa bangunnya tetap pagi,” Namira menjelaskan kebiasaan Nindi.
“Nindi bisa hanya nonton dihari Sabtu dan Minggu?” Novia kagum akan kebijakan yang diterapkan Namira pada anak angkatnya yang sekaligus keponakannya itu.
“Iya Teh, Bundanya emang mengarahkan seperti itu. Dan sesekali boleh main game diponsel bila libur. Itu pun dengan timer. Sehingga begitu alarm berbunyi harus stop mainnya,” jawab Ilyas. Dia bangga Namira mendidik dengan baik.
“Semua tergantung kebiasaan. Memang sejak awal anak-anak harus kita batasi dan kita awasi. Akang setuju dengan pola asuhmu Mir,” Kusdi yang baru datang ke ruang makan ikut nimbrung.
“Ayok Teh, Kang, kita duluan makan saja. Anak-anak biar istirahat dulu,” Namira mengajak semua untuk mulai sarapan. Namira menggunakan kompor super kecil yang memang hanya digunakan untuk diletakkan di meja hidang sehingga bubur selalu panas.
***