
“Kamu pulang dengan siapa? Boleh Kakak antar?” tanya August.
“Nanti saya dijemput Yayah dan Yogi. Mereka sedang di rumah mang Engkus. Kakak duluan saja. Dan makanan sudah saya bayar,” Julia beralibi menunggu ayah dan adiknya. Tentu August akan sungkan bertemu dengan ayahnya.
“Kakak duluan ya, nanti Kakak ganti traktiranmu ini. Permintaan terakhir, bisa Kakak meminta pelukan perpisahan?” tanya August.
“Sure, why not?” Julia langsung berdiri dan mengembangkan tangannya siap memeluk mantan tunangannya. Tentu saja hal itu membuat Bastian sangat marah. Memikirkan Julia menyebut pacar-pacar saja dia cemburu. Apalagi ini, perempuan itu dengan senang hati mengembangkan tangannya untuk memeluk lelaki lain dan itu terjadi di depan matanya. Berjarak tak sampai 2 meter!
Setelah August berlalu, Julia sengaja pindah ke meja Bastian yang wajahnya sudah sangat masam seperti buah ceremai.
“Kenapa mukanya udah seperti botol cuka?” goda Julia. Dia tahu, pelukannya dengan August barusan memicu magma di da_da Bastian hendak meluncur keluar menjadi erupsi. “Ya sudah, aku pulang saja,” Julia langsung beranjak pergi. Dia segera keluar dan menaiki taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan cafe. Sementara Bastian tidak bisa langsung keluar karena dia harus melakukan transaksi pembayaran semua yang dia dan Julia makan.
“Kalau A’ Tian datang, bilang aku belum pulang,” Julia berpesan pada teh Imah, lalu dia masuk ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Jujur dia sedang super galau. Biar bagaimana pun dia pernah sangat dekat dengan August. Pria itu adalah pacar pertamanya. Pria itu yang memperkenalkan arti cinta terhadap lawan jenis. August pria yang sangat lembut dan bukan pemarah. Dia sangat nyaman berhubungan dengan August.
Terlebih semua keluarga besar Siswodihardjo sangat menyayanginya. Bukan hanya papi, mami dan oma, tapi semua. Pakde, bude, om, tante, mas, mbak dan para adik. Mereka sudah bertunangan 2 tahun. Semua keluarga lelaki itu dengan keluarganya sudah saling mengenal. Seharusnya 3 bulan lagi mereka menikah. Tentu bukan hal yang mudah putus dari lelaki itu. Beda dengan Bastian, dia baru dekat dengan kedua orang tuanya saja. Bastian pun baru mengenal orang tuanya juga man Engkus. Dua keluarga besar belum saling kenal.
Julia memang marah karena dikhianati, tapi dia tidak marah terhadap pribadi August yang dia kenal. Dia tidak marah terhadap keluarga besar lelaki itu. Dan Julia merasa pelukan perpisahan bukan hal yang salah. Dia bangga August mengakui kesalahannya saat tahu April hamil dan August juga bicara baik-baik pada dirinya serta orang tuanya. Kalau lelaki itu memang tak dijebak April, Julia yakin August adalah lelaki baik-baik. August memang pernah tinggal serumah tanpa menikah dengan June, tapi itu memang gaya hidup mereka. Pilihan mereka. Bukan pengkhianatan atau perselingkuhan. Bukankah Bastian juga pernah melakukannya dengan Gladys?
Hari ini Julia sedang sedih karena kehilangan sosok yang pernah dicintainya dengan sangat tulus. Maka ketika menerima kemarahan Bastian dia sangat tidak terima. Julia melakukan pelukan perpisahan di depan Bastian, bukan sembunyi-sembunyi. Dan hanya sekedar peluk tanpa cium kening atau pipi. Dia tidak terima akan kemarahan Bastian pada dirinya.
Julia langsung mandi dan salat ashar, lalu dia tidur dengan mendengar musik yang dia sukai. Seperti dugaan Julia, Bastian datang tak lama sesudah Julia masuk kamar. “AYA sudah sampai rumah?” tanya Bastian.
“Belum Den, ‘kan ke kantor? Dari tadi juga enggak ngabarin bakal pulang jam berapa atau nyuruh masak apa. Kalau mau pulang telat, atau kepengen makan apa, ‘kan Eneng mah suka telepon dulu,” jawab teh Imah. Dia sedang menyetrika baju di depan televisi.
“Julia sudah kembali ke kantor belum?” Bastian langsung menghubungi orang kantornya. Dia mendapat jawaban Julia belum kembali sejak pergi berdua dengan dirinya. Mobilnya pun masih di parkiran kantor.
‘Kamu kemana lagi YA? Kenapa malah kamu yang marah, ‘kan kamu yang salah pelukan dengan lelaki lain!’ Bastian malah bingung sendiri mengapa Julia menghilang dan marah. Menurutnya yang boleh marah adalah dirinya, karena Julia sengaja memeluk August.
Bastian duduk di sofa ruang tamu rumah Julia. Dia ingin menunggu gadis itu kembali ke rumah. Sejak tadi ponsel Julia tidak aktiv. Dia makin kalut. Padahal kemarin mereka sudah sepakat akan selalu membahas apa ganjelan yang ada diantara mereka. Mengapa sekarang kembali Julia pergi dan meninggalkan persoalan tanpa di bahas?
‘Wait, bukankah tadi diriku yang mengawali tak mau bicara saat AYA bertanya? ****, aku bodoh. Aku yang salah sehingga membuat dia marah,’ Bastian menyadari, dirinya yang salah.
“Teh, saya pulang saja. Nanti kalau AYA pulang katakan saja besok saya akan menjemputnya untuk berangkat kantor bareng,” Bastian pamit.
***
Ting tong
“Coba tengok Teh, siapa yang malam-malam begini datang,” Julia yang baru saja mau makan malam malas menerima tamu.
“Taruh vas aja Teh biar enggak cepat layu,” Julia meminta asisten rumah tangganya meletakkan bunga itu di meja makan. Dia memulai makan malamnya.
‘Koq ponselmu belum aktiv?’
‘Kamu sudah sampai rumah?’
‘Kamu sudah makan?’
‘Honey ….’
‘Please, jawab ya kalau HP mu nyala.’
‘Jangan bikin A’a cemas, I love U so much.’
Dan banyak pesan lainnya dari nomor Bastian. Pesan terakhir adalah : ‘A’a tidur dulu ya, I really miss U. A’a tau A’a salah. A’a minta maaf. Besok pagi A’a akan jemput kamu. Jangan berangkat duluan! Good night honey. H’v a nice dream!
Julia sengaja baru menyalakan ponselnya tengah malam saat dia terbangun. Dia membaca banyak pesan Bastian yang dikirim lelaki itu sejak ponselnya dia matikan di taksi ketika dia pulang siang tadi. Banyak juga panggilan masuk dari nomor Bastian.
Julia juga melihat ada mBanking dari August. Dia besok akan meminta asistennya menyampaikan terima kasih pada August. Tak mungkin dia membuka blokir nomor mantan tunangannya itu.
***
Julia melihat teh Imah menyiapkan nasi uduk dan ayam goreng tepung serta perkedel kentang untuk sarapan pagi ini. Dia baru saja akan menyendok nasi saat mendengar suara yang sudah familiar di gendang telinganya.
“Assalamu’alaykum.”
Julia menjawab lirih, hanya dia yang mendengar, yang penting dia sudah menjawab, karena salam bagi umat muslim adalah doa. Bastian menghampiri gadis yang telah membuat sore hingga malamnya tak menentu. Dia memeluk pundak Julia dan mengecup kening serta puncak kepala gadis yang dirindunya. Baru pisah menjelang sore tapi membuat dirinya panas dingin. “Koq ga jawab salam?”
Rupanya teh Imah mengerti, dia mengantar piring kosong untuk Bastian makan, juga gelas berisi air putih. Julia langsung mengambilkan nasi dan memberi ayam serta perkedel. Dia letakkan di kursi dekat Bastian, karena saat itu lelaki itu masih berdiri. Julia langsung duduk dan mengisi piringnya dengan nasi serta ayam lalu mulai makan terlebih dahulu tanpa menawari Bastian makan.
\===================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta