
HAI HAIIII
SELAMAT MEMBACA
“Oh. Ada apa ya?” tanya Kemuning heran. Karena tadi dia sudah menurunkan Wulan di cafe depan kampus mereka seperti permintaan temannya. Kalau jalan dari ruang kuliah ke cafe memang cukup jauhlah.
“Maaf mengganggu. Apa Wulan datang ke rumahmu?” tanya August dengan malu. Dia sangat takut istrinya sakit karena sedang hamil.
“Enggak tuh. Tadi dia turun di cafe. Habis itu enggak hubungi saya lagi,” sahut Kemuning dengan jujur.
“Baik terima kasih. Kalau mendengar tentang dia atau dia datang tolong kabari saya,” sahut August. Dia kembali melajukan mobilnya kearah rumah paklek. Dia akan meminta bantuan pamannya Wulan mencari dimana kemungkinan istrinya berada.
“Baik,” jawab Kemuning. Dia jadi ikut cemas memikirkan keberadaan sahabatnya itu.
***
“Paklek tahu sahabatnya ketika SMA? Atau siapa saja yang kemungkinan dia datangi?” tanya August. Dia sudah menjelaskan pada pakleknya Wulan mengapa istrinya pergi siang tadi.
“Coba kita cari di mini market tempat dia bekerja sebelum pindah kerja ke panti asuhan yok,” ajak paklek. Karena hanya itu yang dia pikir bisa mencari dimana sosok keponakannya yang dia sendiri tak terlalu tahu siapa saja temannya.
August pun mengikuti saran paklek. Mereka bertiga ke mini market karena tak mungkin Riesty ditinggal malam-malam sendirian dirumah.
Paman langsung turun dari mobil. Terlihat beberapa teman Wulan masih berdiri diluar mini market. Tak seperti biasanya.
“Paklek … paklek,” sapa seorang lelaki muda yang mengenal pamannya Wulan.
“Kenapa Man?” tanya paklek pada Iman teman Wulan.
“Wulan pingsan, dan baru saja dibawa ke rumah sakit pakai mobil pak Sholeh,” Iman memberitahu paklek tentang Wulan. Pak Sholeh adalah supervisor yang kebetulan datang untuk mengecek pembukuan mini market mereka.
“Rumah sakit mana?” sambar August. Memang mereka melihat ada mobil keluar parkiran, saat mobil August masuk.
“Tadi bilangnya mau ke Kemala,” sahut perempuan yang juga pakai baju seragam sama dengan Iman. Kemala maksudnya nama rumah sakit yang terdekat dengan lokasi mini market dimana Wulan dulu bekerja.
“Terima kasih,” paklek dan August bersamaan mengucap sebelum mereka bergegas masuk ke mobil untuk menyusul Wulan.
***
Laura langsung berlari menuju brankar. Dia melihat kaki Syahrul sudah turun hendak berdiri menghampirinya.
“Abang enggak boleh turun seperti ini,” dengan pelan Laura menaikkan kedua kaki Syahrul kembali keatas tempat tidur.
“Ka mu enggak mau de ngar apa yang Ab bang bi lang. Abang eng gak bisa ngo mong ke ras dan ka mu jauh. Ya su dah, mending Ab bang sam per in ka mu biar kita bi sa ngo mong de ngan jelas,” Syahrul sampai terengah-tengah bicara panjang seperti itu.
“Maaf. Maaf!” Laura mendekap badan Syahrul yang masih duduk diranjangnya. “Maaf.”
“Ja ngan ma rah,” sahut Syahrul sambil memeluk erat tubuh Laura.
“Aku marah kalau Abang masih seperti itu. Aku enggak terima kalau uangnya dibalikin. Abang enggak anggap aku!” rajuk Laura.
“Oke. Ab bang eng gak ba likin uang ke ma rin. Ta pi bo leh kan Ab bang kasih ka mu uang be lan ja ru mah tang ga ki ta?” tanya Syahrul.
“Ya. Nanti aja ya uang belanjanya. Sekarang kita tidur dulu,” Laura membantu agar Syahrul berbaring. Lalu dia pun naik dan berbaring disisinya. Dia peluk lelaki itu. Mereka dalam selimut yang sama.
“I love you my wife,” bisik Syahrul sambil memeluk Laura. Dia sulit berbaring miring karena tulang punggungnya sakit. Jadi hanya satu lengannya saja yang jadi bantal Laura.
“Love you too Bang. Jangan suka nyakitin diri sendiri seperti tadi ya. Itu bikin aku juga sakit tahu,” rajuk Laura.
“Ka lau ka mu eng gak jauh. Ab bang eng gak ba kal peng ngen nyam per rin,” sahut Syahrul tak mau disalahkan.
“Iya, aku salah. Sekarang kita tidur. Aku pengen kita cepat pulang ke rumah,” Laura kasihan terhadap anak-anak yang terpisah dengan mereka sebagai orang tuanya. Walau dua hari sekali saat hari sekolah mereka boleh datang sore hari. Dan di week end mereka seharian disini.
Syahrul tak menyangka penantiannya selama satu tahun berbuah manis. Dia bisa memenangkan gadis yang banyak disukai lelaki lajang ini. Bahkan tadi gadis ini merasa dia adalah istrinya sehingga tak mau uangnya diganti. Laura merasa uang yang dia keluarkan adalah untuk operasional rumah tangga mereka dan uang obat adalah untuk obat suaminya.
Bagaimana Syahrul tak boleh bahagia mendengar kalimat itu? Dia akan segera mentransfer uang belanja setelah mendapat izin dari ‘istrinya’ itu. Dia tak mau salah bertindak bila belum mendapat izin. Karena ancaman Laura sangat menyeramkan.
Tentu dia tak ingin hubungan mereka putus karena dia mentransfer uang untuk Laura. Dia usap pipi mulus Laura. Andai bisa … ingin rasanya dia memiringkan badannya lalu mengecupi wajah perempuan yang telah bertindak sebagai ‘istrinya’ itu.
***
August dan paklek segera lari ke IGD untuk mencari sosok Wulan. Disana August dan paklek melihat seorang gadis yang menggunakan seragam mini market tempat Wulan bekerja. “Bagaimana keadaan istri saya?” tanya August dengan khawatir.
“Bapak urus administrasi dulu ya Pak, tadi yang mengantar belum isi data pasien,” sahut seorang suster.
“Dia punya kartu sebagai pasien sini koq suster, baik saya ke bagian administrasi,” jawab August. Dia segera mengambil kartu pasien di dompet Wulan. Tadi entah siapa ada yang menyerahkan tas dan buku kuliah Wulan padanya. August tak memperhatikan ketika barang itu dia terima tadi di mini market.
“Paklek tunggu sini dulu ya, siapa tahu dipanggil suster,” August segera berlari kedepan di bagian administrasi pasien rawat inap.
“Pak, karena sudah ada Bapak, kami mohon pamit ya,” seorang lelaki pamit pada paklek.
“Terima kasih atas bantuannya pada keponakan saya. Tapi ada baiknya tunggu suaminya Wulan dulu. Mungkin dia ada yang ingin ditanyakan mengapa Wulan bisa pingsan,” paklek tentu mengucapkan terima kasih pada yang sudah mengantar keponakannya itu.
‘Suami? Jadi Wulan sudah menikah? Tadi aku dengar juga lelaki gagah itu bilang bagaimana keadaan istri saya!’ batin gadis yang ikut mengantar Wulan ke rumah sakit menemani pak Sholeh.
“Maaf Pak. Saya harus cek stock agar tidak kehabisan. Kami tak bisa menunggu lebih lama lagi,” sahut pak Sholeh. Dia memang dikejar dead line pekerjaannya.
\======================================================================
SAMBIL NUNGGU CERITA INI UPDATE, TAK BOSAN YANKTIE NGAJAK MAMPIR KECERITA YANKTI YANG LAIN.
JUDULNYA I MARRIED MY DAUGHTER
JANGAN LUPA CUZZ KESANA YAAA
===================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta