TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
SILAKAN MUNDUR DARI PERUSAHAAN INI!



“Teteh, Julia sudah sampai rumah?” tanya Bastian setelah berbalas salam dengan teh Imah. Dia mencoba menghubungi nomor telepon rumah Julia karena ponsel Julia tak bisa dihubungi.


“Tadi mah, si Eneng bilang malam ini tidak pulang Den,” balas teh Imah hormat.


“Apa dia bilang mau ke mana? Karena tidak mungkin ‘kan dia pulang ke Bogor?” tanya Bastian selanjutnya.


“Sepertinya mah enggak ke Bogor, karena Eneng kalau ke Bogor enggak ngajak saya ‘kan pasti bilang ‘punten pulang sendirian karena ada keperluan atau apah’, tadi mah enggak bilang apah-apah,” jawab teh Imah dengan logat sundanya yang kental.


‘Kamu kemana sih sayank? Kamu marah kenapa?’ Bastian tambah bingung. Dia tau nomor rumah Julia di Bogor, dia juga punya nomor ponsel ayah Julia. Namun dia tak ingin bikin kedua orang tua Julia menjadi kepikiran bila dia mengabarkan Julia tidak bisa dia hubungi.


***


Julia membeli mini donat 3 dus sebelum dia keluar dari gerai. Dia yakin Yuni sudah sejak tadi meluncur pulang karena saat ini sudah hampir maghrib.


“Masuk Jul,” ajak Yuni pada teman sekantornya itu. Mereka satu genks para gadis di kantor memang sering saling mengunjungi. Pertemuan mereka terjadi tiap makan siang di kantin.


"Gimana tadi hasil meeting, apa divisimu berhasil mencetuskan terobosan baru?” tanya Julia saat mereka di kamar Yuni.


“Boro-boro, big boss kayaknya lagi kumat darah tingginya. Dia ngomel enggak jelas dan enggak fokus. Malah cuma buang waktu 2 jam tanpa ada sesuatu apa pun yang dia berikan ke meeting. Langsung aja dia tutup,” Yuni keqi atas kinerja Bastian hari ini.


“Bukannya supervisormu tadi bilang mau kasih ide cemerlang?” selidik Julia.


“Dia mah emang ember. Ide apa yang dia kemukakan? Cuma ulangan program tahun lalu tanpa ada perubahan apa pun. Gue aja yang ngetik bahan yang dia kasih sampai hafal ama program yang dia bacain tadi.” Yuni kesal pada supervisor marketing itu. Menurut divisinya, Seruni tak punya kemampuan unggul.  Dia diangkat menjadi supervisor marketing hanya karena bisa memikat konsumen mata keranjang yang tergoda dengan penampilan vulgarnya saja. Tapi kalau kemampuan promo dan teknik menjual, Seruni nol besar.


“Eh, kamu tidur sini aja ya, udah malam. Kita ngobrol aja di sini,” Yuni menawarkan Julia untuk menginap.


“Ok, aku ambil baju ganti dulu deh,” Julia pikir ke Lebak Bulus juga sangat jauh, bisa-bisa sampai di rumah pamannya sudah larut. Tentu tak pantas. Akhirnya dia menyetujui tawaran Yuni. Sehabis mereka mandi dan makan malam, Yuni menggoda genksnya dengan panggilan video.


“Dalam rangka apa kamu nginep rumah Yuni?”


“Jahat nginep enggak ngajak-ngajak!”


“Wah kalian curang!” begitu tanggapan 3 teman genk Julia. Mereka memang ber 5 terkenal sebagai 5 sekawan di kantornya.


***


Sementara sore saat akan pulang Bastian melihat mobil August sudah terparkir di area kantornya. August berdiri di depan pintu mobilnya dengan seragam pilot dan kaca mata hitamnya memandang lobby. ‘Rupanya dia menunggu bidadariku,’ pikir Bastian. Bastian tidak peduli. Karena dia yakin Julia sudah tak ada di kantor. Dia tidak melihat mobil Julia yang tadi berada di sebelah mobilnya. Karena pagi tadi Bastian sengaja parkir mepet dengan mobil Julia. ‘Lelaki itu belum menyerah, aku tak bisa menganggapnya sebagai lawan yang lemah. Biar bagaimana pun dulu mereka saling cinta. Aku tak mau dia bisa kembali mengambil AYA dari sisiku.’


‘Selamat malam Pak,’sebuah chat masuk dari nomor baru yang tidak disimpan dalam phone book ponsel Bastian.


‘Malam.’Bastian sebenarnya malas membalas chat dari nomor baru. Namun dia takut itu chat dari klien barunya, sehingga walau pendek dia tetap membalas.


‘Selamat rehat. ~Seruni~,’ chat berikut masuk.


‘JANGAN PERNAH MENGHUBUNGI SAYA UNTUK SEKEDAR MEMBERI SALAM. KARENA KITA HANYA BICARA URUSAN PEKERJAAN SAJA. DAN  ITU HANYA DIKANTOR!’  tanpa berbelas kasihan apalagi memikirkan sopan santun, Bastian membalas chat Seruni dengan huruf kapital. Sesudah itu dia memblokir nomor Seruni.


‘Besok pagi pukul 08.00 kumpulkan semua manager dan supervisor di ruang meeting!’  Bastian langsung mengirim perintah via chat pada manager HRD.


***


Julia dan Yuni berangkat bersamaan waktunya, tapi tidak satu mobil karena Yuni ke kantor menggunakan motor. Dari rumah Yuni, Julia menuju Lebak Bulus. Dia ingin menenangkan diri di sana. Dia masih belum mengaktifkan ponselnya sejak kemarin sore.


Sementara Bastian sejak pukul 07.05 sudah standby di lobby kantor, dia ingin menunggu Julia di sini. Tak mau menunggu di ruangannya. Namun hingga pukul 07.45 perempuan terkasih yang ditunggu tak juga datang. Akhirnya Bastian langsung menuju ruang meeting. Dia tidak ke ruangannya terlebih dahulu. Bastian akan memberi pengumuman pada semua pegawai yang masih mau bekerja di perusahaan ini.


“Kunci pintu, saya tidak mau ada orang masuk sesudah pintu itu ditutup.” Bastian langsung meminta pintu dikunci. “Saya minta bikin segera daftar hadir, saya ingin tahu siapa yang tidak tepat waktu,” seru Bastian. Sejak kemarin memang dia sedang bad mood. Karena sampai saat ini ponsel Julia masih tidak aktive.


“Anda semua saya kumpulkan di sini untuk mengetahui peraturan yang berlaku mulai saat ini walau tidak tertulis. Pertama, saya tidak mau siapa pun menghubungi saya untuk berbasa basi menanyakan khabar atau memberi ucapan selamat rehat terlebih dari pegawai wanita. Saya tekankan, kalau anda masih berniat bekerja di sini silakan perbaiki sikap anda. Ke dua, saya tidak mau ada pegawai yang sengaja cari cara agar saya tertarik dan untuk semua karyawan wanita diminta berpakaian sopan karena di sini perusahaan, bukan club malam. Dan ke tiga, yang tidak senang dengan peraturan saya persilakan mengundurkan diri tanpa pesangon!” Bastian memberi ultimatum sambil tajam melihat Seruni


yang berpakaian ketat dan kurang bahan. Beberapa pegawai yang tanggap segera mengikuti arah pandang Bastian yang terlihat sangat marah. Mereka menduga, Seruni adalah pangkal penyebab kemarahan Bastian sejak semalam.


“Sekian pertemuan pagi ini. Saya minta sosialisasikan pada semua pegawai di bawah divisi yang anda pimpin.” Bastian


langsung menuju ruangannya. Dia berharap Julia datang saat dia memimpin meeting dadakan pagi ini. Sebelum masuk ruangannya, dia lihat meja sekretarisnya.


‘KOSONG!’


============


 Nah lho, babang Tian galau, bakal cepet ketemu enggak sama eneng AYA?


Terima kasih sudah setia mampir di cerita ini, jangan lupa Yanktie tunggu like dan hadiah setangkai mawar atau secangkir kopinya ya


Salam sehat dari Sedayu Jogjakarta