
HAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
Iini update kedua hari ini
Semoga suka ya.
***
“Gimana Wis? Kamu baru aja bilang ke aku, enggak pernah ada perempuan lain dihatimu selain aku. Sekarang ama dia kamu janji mau nikahin,” Namira hanya senyum-senyum saja. Wisnu tak bisa berkata apa pun.
“Apaaaaaaaa? Wisnu bilang hanya mencintai kamu? Enggak mungkin! Wisnu janji mau nikahin kalau aku mau tidur dengannya. Kenapa begini?” Leoni mulai marah.
“Anda bodoh Mbak, dia sudah nikah dan punya istri,” Namira melihat Wiwin mendatangi mereka.
“Enggak … enggak, enggak mungkin,” Leoni mulai panik.
“Jadi begini kelakuanmu Wisnu?” suara keras dan tegas menegur Wisnu sebelum Wiwin bicara apa pun.
“Ayah …,” Wisnu diam melihat ayahnya ada diantara tiga perempuan didepannya.
Plak, sebuah tamparan mendarat dipipi Wisnu dari lelaki yang baru saja menegurnya.
“Sejak sekarang kamu bukan anak ayah dan bukan pewaris perusahaan. Kamu bisa tinggalkan rumah dan perusahaan juga tak perlu menunggui istriku dirumah sakit ini. Karena kami tidak pernah mendidik anak sepertimu!” bagai petir Wisnu mendengar kata-kata ayahnya.
“Win, kamu boleh urus cerai dari lelaki kotor itu. Ayah akan minta maaf pada Bapakmu,” ayah Wisnu memeluk Wiwin dengan rasa sesal.
Leoni tak percaya melihat itu. Ternyata Wisnu benar sudah mempunyai istri. Sekarang setelah tahu Wisnu miskin, dia juga tak mau hidup susah walau sudah tidak virgin. Karena misinya tidur dengan Wisnu adalah menjadi nyonya besar.
Ilyas tak ingin Namira mendapat masalah dengan ayah Wisnu. Dia mendekat dan mengajak lelaki itu duduk untuk bicara. Dia juga ingin membersihkan nama Namira dikeluarga Wisnu yang selama ini menilai Namira perempuan matre yang mendekati Wisnu untuk mendapatkan hartanya saja.
***
“Yud, sorry gue duduk belakang ya,” August membukakan pintu belakang untuk Wulan, dan dia pun duduk disebelah perempuan itu.
“Dedek sehat?” tanya August memegang perut Wulan. Wulan kaget. Karena baru kali ini ada ‘touch’ dengan calon suaminya itu.
“Alhamdulillah sehat,” jawab Wulan gugup.
“Kita ke rumah sakit, lalu habis itu kita cari rumah ya,” August memberitahu planning hari ini.
“Aku pengennya rumah enggak di Bandung Mas. Dekat-dekat sini aja. Biar aku mudah ke panti,” usul Wulan. Dia tak ingin disebut kacang lupa kulitnya. Dia ingin menjadi tenaga sukarela di panti. Seperti yang para dokter lakukan. Tak dibayar.
“Wah kalau begitu jadi bolak balik. Ya sudah hari ini karena kita dari rumah sakit, kita cari cincin pernikahan aja ya. Juga resto buat acara lamaran. Nanti sambil pulang ke arah panti kita cari rumah yang terlihat dijual,” jawab August.
“Koq dijual? Katanya mau kontrak?” tanya Wulan bingung.
“Ya kita lihat aja, kalau emang menyenangkan ya kita beli aja,” jawab August santai.
“Terserah Mas aja. Biar gampang cek di place market aja,” Wulan memberi usulan pada August.
“Cuma ini aja?” tanya August melihat paper bag kecil yang Wulan bawa. Isinya nasi bakar dan susuu coklat kemasan kegemaran Laura.
“Iya, Mas mau tambahin apa?” tanya Wulan. Mereka memang belum bawa apa pun yang mereka pribadi bawakan. Nasi bakar dan susuu dari Karni.
“Kita masuk dulu. Nanti kita lihat apa yang diperlukan para penunggu,” jawab August sambil merengkuh bahu Wulan. Mereka jalan dengan tangan August dipundak calon istrinya itu.
“Sweety, Mas masih bingung ama mahar kita besok,” August bicara pelan sambil berjalan menuju ruang tunggu IGD rumah sakit Kemala.
“Apa aja, yang penting enggak ngeberatin Mas,” jawab Wulan dengan polosnya.
***
“Assalamu’alaykum,” sapa August dan Wulan pada Laura dan Claudia.
“Apa khabar tante?” tanya August sambil mencium tangan Claudia.
“Baik … eh … eh, siapa ya lupa,” Claudia berupaya mengingat sosok August.
“Ini mas August Ma. Cucu oma Stelle,” Laura mengingatkan mamanya.
“Astagfirullaaaaah. Iyaaaa, Mama lupa,” Claudia menepuk pundak August pelan.
“Ini calon istrinya Ma. Seminggu lagi mereka nikah,” Laura memberitahu siapa Wulan.
“Wah selamat ya,” Claudia lalu sedikit bergeser agar mereka bisa enak ngobrol.
“Ibu, ini mbak Karni mbawain nasi bakar dan susuu coklat. Dan semua di panti titip salam serta mendoakan pak dokter semoga lekas pulih,” Wulan memberikan paper bag yang dia bawa.
“Semalam dia sudah berhenti denyut jantungnya,” Laura menceritakan kondisi Syahrul. “Tapi tadi jam empat kami dipanggil. Denyut sudah ada kembali tetapi lemah. Namun sudah stabil. Yang diharap dia semakin membaik.”
“Kami berharap yang terbaik,” August tulus mendoakan dokter Syahrul.
“Mommy,” Nazwa dan Fahri menghampiri Laura dengan cepat. Tadi sang opa sudah memberitahu tak boleh menangis depan Laura, tak boleh berisik dan jangan berlari agar tak mengganggu penunggu lainnya.
“Kalian datang sama siapa?” tanya Laura setelah menciumi kedua anaknya itu.
“Sama mang Asep,” jawab Fahri.
“Ini ada nasi bakar, kalau mau maem lagi,” Laura tahu jagoannya sangat menyukai nasi bakar walau sudah sarapan.
“Kalian bertemu Opa?” tanya Claudia pada kedua cucunya.
“Opa lagi ngopi bareng mas Asep,” jawab Nazwa.
“Kami pamit dulu ya, semoga dokter Syahrul cepat sembuh,” August mohon pamit.
“Lan, baju nikah kalian kemarin sudah sampai di panti. Kamu minta ke Nengsih ya,” Laura mengingatkan Wulan soal baju akad nikah mereka.
“Aku mintan nomor rekening pribadimu,” August langsung sadar dia harus membayar baju itu. Dia hanya memilik nomor rekening yayasan.
“Jangan. Itu kado dari aku dan Abang. Jangan kalian bayar. Aku enggak mau. Kita ini saudara. Aku akan lapor ke oma kalau Mas sampai membayar kado yang aku berikan,” Laura menolak. Karena dia memang ingin memberi kado untuk August dan Wulan.
“Saya enggak bisa bicara lagi. Ibu terlalu baik pada saya,” Wulan sedikit terisak menerima kado dari Laura.
“Jangan bersedih. Saya kagum atas perjuanganmu Lan. Kamu wanita tegar. Itu pantas untukmu. Semoga kalian suka. Saya akan berupaya hadir saat akad nikah kalian nanti,” Laura menepuk bahu Wulan lembut.
***
“Mumpung di rumah sakit, kita periksa Dedek ya? Aku ingin lihat calon bayiku,” August menggandeng Wulan untuk ke poli kandungan. Untung ada dokter kandungan perempuan yang praktek hari Sabtu pagi ini.
Karena masih pagi, Wulan mendapat nomor antrian tiga. Dan sekarang nomor satu sudah sedang diperiksa.
“Ibu Wulandari Siswodihardjo,” panggil seorang suster. Wulan bingung, mengapa nama belakangnya berubah. Dia tahu nama August adalah August Muliawan . Dan dia belum tahu kalau nama keluarga calon suaminya adalah Siswodihardjo. Tadi yang mengisi form pendaftaran adalah August.
“Silakan bu Wulan. Ini kunjungan pertama disini ya. Kalau di data usia kandungan 13 minggu, tensi bagus, berat badan cukup. Kita lihat kondisi janin ya. Silakan Ibu berbaring dibantu suster,” dokter menyapa Wulan dan August yang sudah duduk didepannya.
=======================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta