
SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
“Hallo sayank anak Bunda. Wa alaykum salam,” Namira menjawab salam keduanya. Bibik yang baru pertama melihat toko ini sangat senang. Dia ingat perjuangan nyonya majikannya dari menjadi buruh cuci untuk bisa makan hingga dipersunting majikannya.
“Mana Ayah Teh?” tanya Namira pada putri sulungnya itu. Sejak dia menikaah memang Nindi resmi menjadi anak sulungnya setelah Ilyas mengajukan adopsi secara legal.
“Itu ada tukang balon yang bentuk-bentuk, Dede merengek pas lihat, jadi Ayah nyamperin,” sahut Nindi. Dia langsung melihat aneka kue yang terpajang dan aneka makanan disana. Bukan dia ingin merasakan.
Hanya takjub ternyata bundanya memiliki toko seperti yang biasa dia lihat ketika membeli kue atau lauk. Tak pernah terbayangkan oleh gadis kecil itu bisa merasakan menjadi anak pemilik toko.
Dulu kalau hendak membeli lauk, Namira akan berpesan dia tak boleh kepengin makanan mahal. Hanya boleh yang harganya terjangkau dengan uang yang dimiliki bibinya ketika itu.
“Balon gas yang biasa?” tanya Namira memecah lamunan Nindi.
“Bukan Bund. Kalau balon gas biasa mah langsung meledak pas diremas Dede,” sahut Nindi.
“Boleh minta ini?” tanya Nindi menunjuk minuman ya-kult.
“Boleh. Ambil saja,” jawab Namira.
“Bagaimana Bik?” Namira meminta pendapat bibik Iyah yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
“Baguuus bangeeet Non. Alhamdulillah. Semoga lancar ya Non,” sahut bik Iyah jujur. Dia memang sangat bahagia majikannya ini mendapat nasib sangat baik. Dia saksi hidup bagaimana Namira selalu menghindar saat didekati oleh Ilyas. Majikan perempuannya ini tak ingin dipandang menggoda Ilyas untuk memanfaatkan kekayaan lelaki muda itu.
“Jadi kapan-kapan kalau saya minta Bibik antar kue kesini bisa ya Bik,” memang sesekali nanti Namira akan membuat sedikit kue untuk dirumah. Nah daripada hanya bikin sedikit, kan sekalian dia buat untuk ditaruh di toko.
“Iya Non. Bibik mah siap. Enggak jauh juga dari rumah,” sahut bik Iyah lagi. Hari ini saja dia akan pulang lebih dulu dengan motor yang subuh tadi digunakan oleh Namira. Dan majikannya akan naik mobil bersama suami dan anak-anak mereka.
“Sayank, Honey, lihat. Ada yang ngambeg enggak mau masuk ketika melihat balon di depan toko,” Ilyas masuk menggendong Ilham. Ilyas juga memegang balon berbentuk donal bebek cukup besar yang bawahnya berisi pasir. Sehingga bila didorong, balon akan terus berdiri lagi dan lagi.
“Tapi jangan semua yang diminta anak langsung dikasih Yah. Apa pun itu. Kita tetap harus kasih tahu apa manfaat dan akibat buruk memiliki yang dia minta,” Namira tersenyum melihat Ilham yang sekarang sedang berlarian dengan baby walker yang memang Ilyas bawa dari rumah.
“Iya sayankku,” bisik Ilyas. Dia lalu menuju kamar dan mengajak Nindi menonton televisi disana. Ada TV kecil diruang itu.
“Bik, belikan makan siang buat semua. Enaknya beli di warteg aja. Jadi bisa beli lauk rumahan,” Namira menyuruh bik Iyah membeli lauk. Karena dia yang tahu apa kesukaan Ilyas. Mau nyuruh pegawainya tentu tak bisa karena keduanya belum paham mengenai Ilyas.
“Rusti kamu beli beras yang pulen yang kemasan 5kg ya. Lalu langsung masak buat makan siang. Tadi saya sudah bawa majic jar. Kalian sehari-hari jangan boros. Kalau bisa masak lauk sendiri. Uang gaji nanti bisa kalian tabung atau buat kasih orang tua,” Namira memberitahu kedua pegawainya.
“Siti, itu ada calon pembeli,” Namira memberikan uang pada Rusti. Dia tak ingin uang toko digunakan untuk urusan pribadi walau itu untuk makan semuanya.
***
August tidur di mobil. Untung Hendi driver papinya ini pernah ke rumahnya jadi dia tak takut nyasar. Walau taak bisa terlalu lelap, setidaknya August bisa istirahat.
Dirumah August mengambil beberapa pakaian dalam istrinya juga pasangan baju tidur Wulan. Karena Wulan tak mau pakai daster. Dia sukanya menggunakan atasan dan celana dari bahan kaos untuk tidurnya. Dia juga siapkan satu pasang pakaian untuk Wulan pulang nanti. Dia bawakan cream perut dan paha yang dia belikan, minyak zaitun serta minyak wangi istrinya.
“Mas, kita makan dulu ya. Sekalian beli makan siang buat mami dan papi,” August mengajak Hendi makan siang terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke rumah sakit. Dan August juga membelikan Wulan dua loyang pizza medium beda rasa. Sussu coklat dalam kemasan botol, roti dan selai kacang serta coklat dan keju slice. Dia juga membeli beberapa botol kopi susuu kemasan dalam botol untuk dirinya.
Tadi dia membawa susuu ibu hamil milik Wulan dari rumah. Wulan pasti marah kalau August beli baru sementara di rumah masih ada. Kecuali dia bukan habis pulang. Tentu tak apa dia beli lagi.
***
“Terima ka sih,’” sahut Syahrul. Dia mulai agak lancar walau belum bisa bicara keras. Laura yang mendampinginya hanya memberi senyuman hangat dan menggenggam jemari Syahrul dengan erat.
“Jangan lupa lusa kita terapi lagi Bu,” sang teraphis menyudahi catatan Syahrul dan memberikannya pada Laura untuk diserahkan pada petugas diluar ruang terapi.
“Iya, terima kasih,” sahut Laura
“Semangaaaat ya sayank,” bisik Laura ditelinga Syahrul sambil mendorong kursi roda keluar ruang terapi.
Syahrul mengangguk dan memegang pipi Laura. Perempuan cantik yang mau menerima dirinya saat dia susah.
“Mom,” Syahrul merasakan getar ponsel milik Laura yang berada dalam tas. Dan tas itu dalam pangkuan Syahrul karena tadi Laura mengambil kartu berobat miliknya.
“Ya Dadd,” jawab Laura lirih.
“Ponselmu seper tinya bu nyi,” sahut Syahrul yang makin lancar bicaranya.
Laura mengambil ponselnya dia lihat yang masih menyala. Ternyata ponsel pribadinya dan ada panggilan tak terjawab dari papanya.
“Iya Pa. Assalamu’alaykum,” Laura menghubungi Papanya.
“Wa’alaykum salam. Kenapa tadi enggak diangkat Kak?” tanya Anjas.
“Lagi di ruang terapi Pa. Ni baru aja selesai,” sahut Laura. Dia menepikan kursi roda Syahrul agar tak menghalangi jalan.
“Bagaimana perkembangan Abang?” tanya Anjas lembut seperti biasa.
“Semakin baik Pa. Abang juga semangat,” sahut Laura sambil mengusap lengan Syahrul.
“Bagus. Salam buat Abang ya. Dan ingat, kasih tahu Papa kapan Abang boleh pulang. Karena Papa yang mau bawa dia kerumah,” Anjas memberitahu niatnya bicara tadi.
“Iya nanti Kakak bilang ke Abang Pa. Makasih. I love you Pa,” sahut Laura.
“Love you to Kak. Assalamu’alaykum,” Anjas mengakhiri percakapannya.
“Papa titip salam buat Abang. Abang harus semangat. Dan Papa bilang harus dikasih tahu kapan Abang boleh pulang. Karena Papa akan jemput Abang,” Laura memberitahu isi percakapannya dengan Anjas pada Syahrul
***
\===============================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta