TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ENGGAK SALAH, HANYA ENGGAK TEPAT!



“YA, kapan Apa’ dan Mamah boleh ke rumahmu untuk melamar?” tanpa hujan tanpa angin tetiba Bastian berkata seperti itu seakan kata-kata itu tanpa makna sama sekali. Mereka baru saja selesai meeting dengan klien. Julia sedang merapikan file juga baru saja menekan tombol shut down pada laptopnya. Julia yang mendengar kata-kata boss nya hanya bingung. Dia mengangkat wajahnya dan memperhatikan wajah lelaki yang baru saja menutup mulutnya sehabis mengeluarkan kalimat ajaib itu.


“Kenapa diam?” tanya Bastian bingung. Dia butuh jawaban. Bukan hanya pandangan bingung dari perempuan yang sudah membuatnya jungkir balik.


“Duduk sebentar Pak,” jawab Julia berkata formal. Saat ini masih jam kerja dan di kantor.


“Kenapa,” tanya Bastian bingung. Tapi tetap patuh. Dia duduk di kursi yang tadi dia tempati saat meeting dengan kliennya.


“Saat ini jam kerja dan di kantor. Bukan waktunya membahas hal pribadi. Itu kesalahan Bapak yang pertama,” Julia menggeleng sambil menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri mengisyaratkan jangan disela kata-katanya. Karena dia melihat Bastian sudah mau komplain.


“Yang kedua, Anda bicara tentang sesuatu yang penting seakan hal itu tak ada artinya bagi Anda. Permintaan bertemu dengan orang tua perempuan adalah hal penting. Tak bisa Anda katakan seakan-akan hanya sebuah intermezzo saja. Saya sungguh tidak melihat kesungguhan Anda pada saya. Dan juga seakan Anda tak menaruh hormat pada kedua orang tua saya,” Julia menyampaikan pendapatnya secara santai. Dia sadar, lelaki dewasa di depannya sangat bodoh kalau masalah hubungan pacaran. Lelaki itu memang pernah pacaran, bahkan pacaran yang terlalu kebablasan tapi bukan dari hati, hanya berdasar emosi.


“A’a salah ya Yank?” tanya Bastian.


“Enggak salah A’, hanya enggak tepat. Kalau A’a mau bicara soal itu,kita harus sedang konsen penuh atas kelangsungan hubungan kita. Bukan sedang di ruang meeting kantor dan jam kantor habis meeting pula. Kalau pun A’a mau bicara itu jam kantor dan di kantor, harus saat kita sedang serius membahas hubungan kita, misal di ruangan A’a. Bukan seperti saat ini,”  jelas Julia sambil berdiri untuk keluar ruangan.


“Honey, tungguin A’a dong,” rengek Bastian. Andai para klien mendengar rengekan ini, mereka tak akan percaya. Pria angkuh dan super smart yang tak pernah mau kalau bila adu argumen ternyata sangat lemah bila berhadapan dengan Julia.


“AYA …,” panggil Bastian saat melihat Julia sudah keluar dari ruangan sedang dia belum siap keluar.


Sehabis meletakkan berkas dan laptop di ruangannya, Yulia bergegas keluar. Dia segera menuju lobby karena ke 4 sahabatnya sudah menunggu untuk makan siang di luar kantor. Dengan dua mobil mereka meluncur ke kedai ayam geprek pilihan mereka siang ini. Bastian tentu mencari di mana Julia.


‘Kamu di mana?’


‘Maksi di ayam geprek KONDANG, bareng 5 sekawan,’ jawab Julia cepat.


‘Jahat!’


Yulia tak menjawab chat Bastian yang ngomel karena dia tidak pamit keluar kantor. Dia langsung melupakan semua hal tentang pekerjaannya. “Ada yang lagi pedekate lho,”  Fanny membuka gosip hangat hari ini. Lima sekawan adalah Yuni, Fanny, Vita, Nia dan Julia.


“Siapa?” tanya Julia cepat. Dia paling kudet diantara mereka berlima. Hal ini karena ruang kerjanya yang terisolir dari semua rekannya. Dan dalam pekerjaan pun dia jarang berinteraksi dengan teman-teman lainnya. Beruntung mereka bisa akrab dan tak memandang strata jabatan di kantor ini. Karena Yuni hanya staff administrasi marketing sedang Vita adalah kepala divisi marketing 1 dan Fanny wakil manager personalia. Nia? Dia staff biasa divisi keuangan. Tapi itulah mereka. Semua bukan dipandang dari jabatan. Mereka bersatu karena merasa cocok berteman dan berbagai cerita.


“Coba kamu tanya pada kepala divisi marketing kita,” goda Yuni.


Tentu saja Vita tidak terima. “Ih, kalian salah duga, aku enggak lagi pedekate dengan siapa pun,” cetus Vita. Dia memang baru saja putus dengan kekasihnya. Bukan belum mau move on, tapi lelaki yang sekarang sering ngobrol dengannya memang bukan ingin mendekatinya. Semua anggota genks salah duga.


“Iya juga enggak apa-apa koq,” goda Nia.


“Sumpah, bukan aku yang Harun ingin dekati. Kalian salah duga,” Vita menyebut nama Harun, manager marketing yang baru menjabat 1 bulan di kantor mereka. Selain urusan pekerjaan memang Harun sering ngobrol dengan Vita. Tapi sasaran Harun adalah Fanny! Harun mencari info tentang Fanny pada Vita karena tahu Vita termasuk akrab dengan Fanny dan tergabung dalam genks 5 sekawan.


“Ayok Vit ceritakan, jangan bikin aku penasaran,” Julia mendesak Vita melanjutkan infonya.


“Kita makan dulu, sesudah makan akan aku kasih tahu rahasia besar yang akan membuat kalian terkejut.”


Mereka pun makan sambil bercerita hal lainnya. Banyak info tentang para karyawan yang luput dari telinga Julia. Kedekatan si A dengan si B. Si C yang ketahuan selingkuh oleh istrinya. Si D yang baru putus dengan si E dan seterusnya.


“Bagaimana hubunganmu dengan big boss?” Tanya Yuni pada Julia.


“Standart aja,” balas Julia. Dia tak pernah memberitahu semua rekannya kalau Bastian sangat mencintainya bahkan tadi sebelum mereka keluar kantor, Bastian baru menyampaikan keinginannya untuk melamar Julia dengan resmi.


“Ceritakan sekarang, kami semua sudah selesai makan,” desak Nia pada Vita. Dia juga ikut penasaran. Sementara Fanny sudah tak berani mendesak. Karena dia bisa menduga kalau Harun ingin mendekatinya. Sesungguhnya tadi dia membuka pembicaraan karena sedikit iri akan kedekatan Harun dan Vita. Dia menyesal karena akan menjadi bumerang pada dirinya sendiri.


“Kalian serius ingin tahu? Enggak akan salah duga padaku ‘kan?” Vita sengaja memancing reaksi teman-temannya. Dengan santai dia menyesap juice jeruk miliknya.


‘A’a sudah selesai makan?’ sambil menunggu pembicaraan dilanjutkan oleh Vita,  sejak selesai makan tadi Julia mengirim pesan pada Bastian.


‘Enggak minat keluar dan enggak minat makan,’ balas Bastian. Tanpa menjawab pesan Bastian, Julia langsung memesan dua nasi dan 3 ayam geprek untuk dia bawa ke kantor. Minumannya dia pesan 2 gelas ice lemon tea serta 1 gelas juice Alpokat.


Setelah semua setuju tidak akan salah duga pada Vita, baru Vita mulai menjelaskan apa tujuan Harun sering tukar pikiran dengannya.  “Sesungguhnya pak Harun sering mendekatiku hanya bertanya tentang kinerja manager sebelumnya. Dia tak ingin kebijakannya terlalu frontal, jauh berbeda dengan kebijakan pendahulunya. Walau ingin ada perubahan, tapi harus bertahap. Begitu sih kondisi sebenarnya,” jelas Vita.


Tentu saja penjelasan Vita tidak membuat puas semua rekannya. Mereka yakin masih ada hal besar yang ditutupi oleh Vita.


“Kita balik kantor sekarang, nanti bisa terlambat dan dapat raport merah,” Fanny yang bagian personalia mengingatkan semua untuk segera kembali ke kantor. Sebenarnya dia takut bila dugaannya benar. Harun ingin mendekatinya kembali.


\======================================


‘mendekati kembali?’ ehm ehm ada apa dulu antara Fanny dan Harun ya?


Ikuti jawabannya besok yaaa


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta