TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KUCING, KEMANA PUN PERGI ANAKKNYA DIGENDONG BOLAK BALIK



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\=================================================================


“Udangnya tambah ya?” Laura menawarkan Fahri udang balado, dan Fahri hanya mengangguk karena mulutnya sedang penuh. Laura dan Fahri selesai makan. Tadi sengaja Laura tak memancing masalah ibu kandung Fahri. Dia hanya mengajak jagoan kecil bicara tentang sekolahnya dan hobby Fahri di bidang olah raga. Dia ingin Fahri nyaman bercerita segala hal sebelum masuk ke inti permasalahan.


“Kita ngobrol di gazebo belakang yok,” ajak Laura.


“Bik Sanah, nanti juice serta puding bawa ke gazebo aja ya. Tadi saya juga pesan ke mang Asep rujak serut atau rujak bebeg. Itu juga bawa ke belakang,” pinta Laura pada bik Sanah yang sedang membereskan meja makan.  Laura biasa memesan rujak super pedas saat sedang awal datang tamu bulanannya. Rasanya makan pedas dan segar adalah solusi mengatasi PMS nya.


“Kamu ada yang mau diceritain ke Mommy?” pancing Laura ketika mereka sudah sampai gazebo sambil memandangi kolam ikan koi di halaman belakang.


“Entahlah Mom, Dede bingung,” Fahri sulit membuka masalah yang ingin dia ceritakan.


“Apa itu berkaitan dengan perempuan yang kemarin akan menjadi mamamu?” Laura memancing seakan tak tahu masalah Firda, ibu kandung Fahri.


“Bukan …, bukan tentang perempuan itu. Tapi tentang seorang perempuan yang punya status ibu kandung. Dia sudah sangat mengganggu Dede Mom,” keluh Fahri lirih. Lelaki kecil itu berupaya tegar dan tak ingin menangis.


“Mengganggu bagaimana? Kalau dia mengganggu, mengapa kamu tak bercerita pada Daddymu?” Laura heran, mengapa Fahri lebih nyaman bercerita dengannya dari pada dengan ayah kandungnya sendiri.


“Perempuan itu sudah 4 kali datang ke sekolah,” Fahri memulai ceritanya, tapi disela oleh Laura.


“Sebut dia IBU, jangan ‘perempuan itu’, Dede tidak sopan namanya bila menyebutnya demikian!” pinta Laura. Biar bagaimana pun dia tak ingin Fahri tidak sopan terhadap perempuan yang melahirkannya.


“Oke, walau Dede enggak rela nyebut dia seperti itu. Demi Mommy aja, Dede ubah. Dan hanya ketika bicara dengan Mommy. Kalau dengan orang lain Dede tetap akan pakai perempuan itu,” Fahri mulai memperlihatkan tanduknya.


“Ibu 4 kali datang ke sekolah. Pertama dia menunggu saat pulang sekolah. Dan Dede berhasil lari langsung masuk mobil lalu pulang ke rumah. Ke dua dia masuk saat jam istirahat dan mengikuti Dede ke kantin. Dia minta Dede memanggilnya Ibu dan minta Dede mau tinggal dengannya. Dia menanyakan nomor ponsel Dede. Dede jawab Daddy enggak kasih Dede bawa ponsel.” Fahri menampakkan wajah kesal.


“Ke tiga dia datang ke sekolah dan masih bilang kangen Dede dan minta izin buat peluk Dede, tapi Dede enggak suka, jadi Dede enggak kasih izin dia. Dia kasih ponsel baru dan minta Dede bisa di ajak ngobrol tiap saat. Sampai sekarang ponsel itu enggak pernah Dede buka. Dede taruh di laci meja belajar di kamar. Dia pikir Daddy enggak bisa belikan HP? Dia pikir Dede pribadi enggak punya tabungan buat beli HP?” ada nada kecewa disuara Fahri yang tercekat. Jagoan kecil itu terluka. Seorang ibu yang katanya paling mengerti tentang anaknya ternyata tidak tahu apa pun tentang dirinya. Si ibu juga tak tahu mengapa dia belum dibelikan ponsel. Dan si ibu juga tak tahu larangan sekolahnya membawa ponsel. Si ibu bahkan tidak tahu, kalau tabungan pribadinya bisa membeli sebuah motormatic cash! Atau buat DP beli mobil secara kredit!


“Setelah memberi ponsel tapi tetap tak bisa menghubungi, dia kembali mencari Dede saat istrirahat. Tapi sejak dia datang ke sekolah, Dede tak pernah ke kantin lagi. Dede sembunyi di perpustakaan sampai bel masuk kelas,” Fahri mengakhiri ceritanya.


“Mengapa kamu tak mau ikut ibumu?” pancing Laura.


“Dede masih teramat kecil waktu ibu ninggalin Dede. Tapi sekarang Dede tahu kalau perempuan yang ninggalin anaknya itu bukan perempuan yang bener. Kucing aja kemana pun pergi akan menggendong bolak balik semua anaknya. Dan ayam akan petok-petok kalau anaknya hilang satu! Tapi dia …,?” jawaban Fahri sangat menohok batin Laura. Dia tidak tahu anak ini dapat gambaran dari mana tentang perempuan enggak bener! Tapi perumpamaan tentang induk kucing dan induk ayam sangat benar bagi kasus ini.


“Dede pernah bilang saat Ibu datang pertama kali dan Dede berhasil kabur. Tapi Dede enggak berani cerita ke kak Nazwa saat ibu berhasil bertemu Dede. Saat itu kak Naz bilang, kalau ibu sayang kami, kenapa saat berpisah dengan Daddy ibu enggak bawa kami. Malah ninggalin kami ditangan seorang laki-laki yang umumnya enggak pintar ngurus anak. Kak Naz cerita bagaimana repotnya Daddy harus kerja juga harus ngurus kami dulu. Dan kak Naz berpesan kami tidak boleh meninggalkan Daddy walau ibu meminta kami hidup bersamanya,” Fahri rupanya belum cerita kalau dia dikasih ponsel oleh sang ibu kepada Nazwa apalagi pada Syahrul.


“Lalu, sekarang keinginanmu bagaimana?” tanya Laura kembali.


“Aku tak ingin bertemu dia lagi. Aku enggak ingin dia kembali menjadi ibuku mendampingi Daddy karena yang aku mau, Mommylah yang jadi ibuku. Hanya Mommy. Tak ada yang lain!” cetus Fahri tegas.


Laura tak bisa berkomentar tentang keinginan Fahri soal pendamping Syahrul. Dia hanya mengambil poin bahwa baik Nazwa mau pun Fahri tak ingin Firda kembali mendampingi Syahrul.


Setelah Fahri memakan puding dan Laura menghabiskan rujak bebeg pesanannya, Laura mengajak Fahri ke depan untuk meminta lelaki kecil itu segera pulang. Karena sebelum pulang ke rumah, Fahri dan sopir harus menjemput Nazwa terlebih dahulu. Laura membawakan Fahri puding yang dia buat untuk di bawa pulang. Dia sengaja membuatkan banyak untuk Nazwa dan Fahri. “Ini puding kamu bawa pulang ya. Nanti makan berdua dengan Kak Nazwa,” perintah Laura sambil memberikan paper bag pada Fahri. Mereka segera ke gedung panti asuhan.


‘Malam ini aku tunggu makan malam di rumah. Aku lagi malas keluar,’ Laura segera mengirim pesan pada Syahrul sehabis mengantar Fahri pulang dari panti asuhan. Tanpa menunggu balasan, Laura langsung masuk ke panti dan bermain dengan anak-anak penghuni panti. Setiap ada kesempatan Laura juga turun tangan memandikan atau menyuapi anak-anak. Dia mengamati perkembangan anak-anak tidak hanya dari buku laporan, tapi juga langsung memegang dan memperhatikan kesehariannya.


“Sukma, kamu sudah bikin laporan keuangan bulan ini?” tanya Laura.


“Sudah Mom, ada di meja kerja sudah sejak kemarin,” jawab Sukma. Memang kemarin agak siang dia meletakkannya dan kemarin Laura ke butik. Pagi ini mungkin Laura belum sampai ke berkas keuangan sehingga belum sempat melihatnya.


“Baiklah, nanti saya periksa. Karena bulan ini kita belum bikin laporan jadi saya takut terlewat,” yayasan yang Laura pimpin memang selalu melaporkan pada dinas terkait mengenai pengelolaan dana yang mereka terima dari pihak luar.


\=========================================================


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik  yangktie ini yaaaaaa


judul cerita   KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  cerita ini sudah TAMAT


pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


Cerita ringkasnya seperti ini :


Steve tak percaya, Cindy calon tunangannya ternyata selingkuhan teman bisnisnya. Cindy merupakan sugar baby!


Dengan berat hati, Steve membongkar kelakuan Cindy didepan orang tuanya juga orang tua Steve sendiri. Sosok istri sugar daddy nya lah yang jadi sumber info akurat membuka kebobrokan Cindy.


Saat sedang membuat rencana reuni, Steve melihat sosok manis yang dulu terakhir melihatnya gadis itu masih SD. Steve tak percaya anak bau kencur itu menolak kharismanya yang menjadi cowoq most wanted!


Langsung cari YANKTIE INO  aja buat search cerita lain di noveltoon yaaaa