TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
INFORMASI YANG MENYESATKAN!



HALLOOOO SEMUA


SEHAT SELALU YAAAAA


SELAMAT MEMBACA!



“Anda tahu, suami anda yang ba-jingan itu menggadaikan rumah untuk main judi, main perempuan dan mabuk. Saat mabuk dia memperkosa adik kandung anda!”


“Dan saat rumah disita, adik anda hamil karena perkosaan itu. Saat hamil dia harus menghidupi anak perempuan anda. Anak yang telah anda terlantarkan! Masih mau bilang istri saya pelakor? Tanpa istri saya menjadi buruh cuci, anak anda sudah mati kelaparan atau jadi pengemis!”


“Anda tanpa cek kebenaran langsung percaya kalau adik kandung anda berkhianat pada anda. Padahal dia berjuang untuk menghidupi anak kandung anda. Anda perempuan breng-sek tak bermoral!”


“Satu kali lagi saya melihat anda bicara buruk tentang istri saya, saya tak akan memandang anda adalah kakak kandungnya. Saya akan geret anda ke kantor polisi. Camkan itu baik-baik. Dan jangan pernah lagi temui atau tegur istri saya bila kita bertemu. Karena sejak saat ini saya katakan dengan tegas, anda bukan kakaknya. Seorang kakak akan bertanya dulu baik-baik bukan langsung menuduh tak berdasar.”


“Kamu teh dengar dari siapa Halim berselingkuh dengan Mira?” tanya Misah. Mereka berdua sudah dalam kamar. Sejak siang tadi mereka berdua hanya bercerita diseling makan siang dan makan malam.


“Bibi Ingat Ningrum? Dia yang cerita. Ningrum kan satu sektor denganku di Taiwan,” jawab Almi.


“Tadinya aku marah pada kang Halim mendengar cerita Mira dia diperkosa dan tak pernah diberi uang makan oleh kang Halim. Karena saat itu aku masih kirim uang ke rekening kang Halim. Maka begitu aku tahu Mira diperkosa, aku transfer ke rekening Mira,” Almi flash back kejadian dua tahun lalu.


“Lalu dari Ningrum aku tahu, itu adalah akal-akalan Mira biar dia tak disalahkan olehku. Sejak itu aku stop kirim uang pada Halim mau pun Mira. Aku juga ganti nomor ponsel agar mereka tak bisa menghubungiku lagi,” Almi sangat menyesal terpedaya berita tak benar.


“Bukankah Ningrum adalah sepupunya Anna?” tanya Misah memastikan.


“Ya, sekarang aku baru sadar benang merah yang Anna buat. Aku yakin Ningrum tidak tahu kelakuan Anna. Karena Ningrum juga tak terlalu suka pada Anna. Ningrum bilang sejak kecil Anna itu licik,” sahut Almi.


“Lalu apa mau mu sekarang? Kamu sudah mempercayai informasi yang menyesatkan!” tanya Misah.


“Awalnya aku akan pindah domisil ke Bandung. Aku akan kost disana dekat kontrakan Ningrum. Aku akan mulai cari kost sepulang aku urus surat pindah dari sini. Saat ini barang-barangku masih aku titip di rumah kontrakan Ningrum. Tapi melihat fakta seperti ini, aku akan merubah rencana.”


“Aku akan mengubah sertifikat rumah itu atas namaku, tentu dengan membayar separo harga rumah pada Mira. Aku akan buka usaha disini. Karena sejak aku tak mengirim uang untuk Halim uang hasil kerjaku di Taiwan utuh. Itu akan aku gunakan saja. Aku tak akan kembali menjadi TKW,” sahut Almi pasti.


“Tapi, dua atau tiga minggu lalu, aku dengar di kelurahan ada yang membuat surat keterangan tentang Nindi sebagai anak terlantar. Dia bermaksud mengadopsi Nindi secara legal,” Misah memberitahu Almi. Karena sejak sebelum menikah dengan Sakir memang Misah bekerja sebagai tenaga administrasi di kelurahan. Itu sebabnya Ningsih istri pertama Sakir melihatnya dan melamar Misah sebagai istri kedua suaminya.


“Apa kau tahu siapa orang itu?” tanya Almi penasaran.


“Dia seorang dokter. Tinggal di kelurahan seberang. Dia suami Mira,” sahut Misah.


“Rupanya dokter itu tak mau Halim atau kamu merebut Nindi darinya. Karena memang tanpa Mira, Nindi bisa saja sudah mati atau dijual sebagai pengemis,” sahut Misah.


“Kalau dia memang dokter itu, aku rela. Karena kamu tahu sendiri, Nindi tak pernah aku inginkan sejak dikandungan. Aku rela dia mendapat orang tua yang lebih baik dalam hal kasih sayang maupun finasial. Aku sudah melihat suami Mira,” sahut Almi lalu dia terdiam.


‘Segitu sayangnya lelaki itu pada Nindi dan bayi itu. Aku masih melihatnya dia menggandeng Nindi dengan lembut dan memeluk bahu Mira saat meninggalkan aku di pos satpam mall.’ Almi makin tak menentu.


“Besok tolong aku cari info nomor telepon suami Namira di kelurahan ya? Aku ingin membayarkan uang rumah itu.” Aalmi minta tolong pada Misah.


“Katanya besok mau usir Halimdan Anna dari rumah itu?” tanya Misah.


“Pastilah. Itu akan aku lakukan. Tapi sebelumnya aku akan lapor RT setempat juga minta beberapa lelaki lingkungan untuk menemaniku saat aku mengusir pasangan gila itu. Aku ingin semua orang tahu kebusukan Anna dan Halim. Besok juga aku akan minta talak darinya, lalu aku akan urus surat cerai resmi agar benar-benar bebas dari lintah penghisap hartaku,” geram Almi menyakan niatnya kali ini.


Sekali lagi dia menyesal tak percaya pada adik kandungnya sendiri. Cemburu membuatnya salah langkah.


Almi makin hancur kalau dia ingat sangat dendam pada adik kandungnya karena mendengar perselingkuhan Namira dan Halim. Dia juga bodoh tak mengecek kebenaran cerita itu. Sungguh saat ini Almi sangat menyesal. Andai dia bisa bertemu lagi dengan Namira dan mohon maaf pada adiknya itu.


Almi berjanji akan mencari nomor yang bisa dia hubungi untuk mencari keberadaan adiknya. Selain untuk membayarkan hak kepemilikan rumah orang tua mereka, yang terpenting adalah untuk minta maaf.


***


“Hasil rongent tulang belakang dan panggul semua baik ya Bu. Hanya di retak kaki saja. Jadi mulai besok dokter Syahrul bisa belajar duduk. Tapi belum boleh berdiri,” dokter memberitahu Laura kalau Syahrul sudah boleh duduk. Suatu kemajuan yang sangat baik setelah satu minggu sejak kekasihnya itu sadar dari koma.


“Baik Dokter, terima kasih,” sahut Laura.  Setelah Laura mengantar dokter dan perawat keluar dari ruang rawat, dia mendatangi Syahrul dan mencium pipi kekasihnya.


“Semangat ya Bang. Biar Abang cepat pulih,” Laura selalu memberi afirmasi pada Syahrul.


“Aku telepon Papa dulu ya?” tanpa menunggu jawaban. Laura menghubungi Anjas sang papa. Lelaki itu memang meminta selalu diberitahu perkembangan Syahrul. Dan memang hubungan Laura lebih dekat ke Anjas dari pada ke Claudia.


“Wa’alaykum salam Pa,” Laura melambaikan tangannya. Karena dia melakukan pemanggilan video call pada sang ayah yang terlihat sudah berada dikantor.


“Pa, Abang sudah boleh duduk. Barusan dokter kasih tahu. Tapi belum boleh berdiri,” dengan bahagia Laura memberi tahu kemajuan Syahrul hari ini


“Kamu harus makin semangat Bang. Papa enggak sabar nunggu kedatangan kalian ke Jakarta,” Anjas malah langsung bicara pada Syahrul dari pada bicara dengan Laura putri sulungnya.


=================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta