
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
*J**angan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya*
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\==========================================================================
Dari para kakak perempuannya memang Kusdi mempunyai tiga kakak ipar laki-laki, tapi tentu saja usianya diatas Kusdi semua. Dia senang dengan Ilyas karena dia lebih tua sehingga dia bertindak sebagai kakak.
Kusdi lebih santai bila ngobrol dengan Ilyas dibanding dengan ketiga kakak iparnya. Siang ini Ilyas makan di bank tempat Kusdi bekerja.
“Kamu mau aku transfer ke rekeningmu atau kamu pegang cash?” tanya Kusdi.
“Aku inginnya dibuatkan pakai nama Namira saja bisa tidak Kang?” tanya Ilyas.
“Bisa. Besok kamu minta tanda tangan Namira di berkas yang aku bawakan. Begitu sudah ditanda tangani, uangnya aku masukkan ke nomor rekening itu,” sahut Kusdi.
“Ayo kita keluar ke cafe buat makan,” Kusdi mengajak adik iparnya makan siang.
“Ah aku lupa. Tadi Silvy menanyakanmu. Akang bilang kamu sudah menikah dan jangan ganggu kamu lagi,” Kusdi memberi info pada Ilyas yang membuat lelaki itu geram.
Silvy adalah masa lalu Ilyas yang kelam. Dan Ilyas tak pernah ingin mengingatnya kembali.
Flash back on
Ilyas saat itu masih mahasiswa semester dua, dia berupaya mengurangi beban sang mama dengan bekerja paruh waktu, di bank tempat Kusdi bekerja sebagai marketing freelance. Dengan pesona bicara dan wajah tampannya banyak konsumen yang tertarik dengan promo yang diberikan oleh Ilyas.Kusdi yang belum menjabat sebagai kepala cabang senang bergaul dengan Ilyas. Dari Ilyaslah Kusdi mengenal Novia dan akhirnya mereka bisa pacaran. Sayang mereka beda kota sehingga banyak celah yang bisa dibuat seseorang untuk menggoyahkan hubungan mereka itu.
Salah satunya adalah Silvy. Silvy sangat ingin menjadi pendamping Kusdi, tapi pria macho itu sudah tertambat hatinya pada ibu guru muda asal kota Bogor.
Berkali-kali Silvy menggoda Kusdi, tapi selalu gagal. Akhirnya Silvy banting stir. Dia berupaya menggoda Ilyas calon adik ipar Kusdi.
“Bang Ilyas, dipanggil Manager audit di ruangannya,” seorang office girl memberitahu kalau Ilyas dipanggil manager audit. Sebenarnya office girl itu hanya menyampaikan pesan yang Silvy sampaikan saja. Dia tak mendapat perintah langsung dari sang manager.
“Iya nuhun Teh, habis selesai calon nasabah ini saya langsung kesana,” Ilyas yang sedang membantu konsumen mengisi data menjawab sopan. Walau dengan office boy atau office girl Ilyas selalu sopan.
“Koq kosong,” Ilyas bingung ketika mengetuk pintu ruang manager yang memanggilnya tak ada jawaban. Akhirnya dia mencoba masuk walau ragu.
Karena yang dicari tak ada, maka Ilyas berupaya kembali. Tapi sebelum dia balik badan tubuhnya ditarik dari samping dengan keras sehinngga dia jatuh dan menindih seseorang.
“Apa yang kalian lakukan diruang saya?” suara keras menggelegar menegur Ilyas dan sosok yang ditindihnya. Ilyas berupaya segera bangkit.
“Maaf. Saya kesini karena katanya saya dipanggil. Lalu saya kesini tapi Ibu tidak ada dan saya terjatuh karena ditarik,” dengan gugup Ilyas menjawab teguran ibu manager.
“Bohong Bu. Tadi kami masuk bersamaan. Lalu dia ingin mencium saya tapi saya tolak. Dia marah lalu mendorong saya. Saya berpegang padanya lalu kami jatuh bersama,” sahut perempuan muda dengan wajah tak pantas itu. Lipstiknya sedikit belepotan dan rambutnya berantakan serta kancing atasnya terbuka. Seperti layaknya korban pemaksaan.
Akhirnya manager tanpa kompromi membuat keputusan memecat pegawai freelance yang memang tak punya kekuatan hukum bekerja disana.
Sesudahnya Silvy terus mengejar Ilyas tapi tak pernah Ilyas layani hingga dia keluar bekerja dari bank itu.
Flash back off
Sore sehabis dari persidangan lalu ke butik dan makan siang, Laura masih ditemani wak Ganis, Claudia dan Gerry kembali ke rumah sakit. Niatnya Claudia, wak Ganis dan Laura akan kembali ke rumah dan Gerry yang akan stand by malam ini dirumah sakit. Tapi Laura minta, dia izin dulu pada Syahrul sekalian membawa baju kotor. Gadis ini tak ingin Syahrul ‘mencarinya’.
Sementara Syahrul sedang merasa di sebuah padang rumput tanpa pohon besar dan tanpa penghuni.
“Uda Yung,” suara yang sangat Syahrul kenal dan rindu menyapanya. Hanya ibu dan ayahnya yang memanggilnya Iyung. Karena ketika kecil putra mereka tak bisa menyebut dirinya Syahrul.
Syahrul mencari asal suara. Tapi tak ada bayangan apalagi sosok yang memperlihatkan siapa yang memanggilnya kali ini.
“Imbu,” bisik Syahrul memanggil nama pemilik suara. Dia menyebut ibu dengan panggilan IMBU.
“Bangun Nak,” sahut suara itu lembut. Masih tak ada siapa pun di padang rumput ini.
“Imbu, Iyung ikuuuuuuuuut,” rengek Syahrul. Saat itu baru samar Syahrul melihat sosok ibu, ayah, adik perempuan serta seorang anak berdiri diatas dengan jarak cukup jauh.
“Pulang Nak. Kamu belum waktunya. Cepat pulang!” sang ibu menjawab dengan tangannya mengusir Syahrul. Seakan meminta anak lelakinya segera berbalik badan dan meninggalkan area itu. ( part ini pernah yanktie alami sehabis melahirkan anak pertama. Saat itu kakak sulung yanktie sudah berkata, kalau kamu mau pergi, berangkatlah. Tapi kalau bisa bertahan kamu punya anak kembar yang menanti bimbinganmu. ).
Laura melihat beberapa dokter masuk sambil berlarian ke ruang ICU saat dia baru saja sampai hendak mengambil semua baju kotornya.
“Siapa yang kritis?” begitu semua penunggu ICU saat melihat dokter berlarian keruang itu.
‘Apa Abang?’ batin Laura. Dia langsung tak enak hati.
“De, hubungi mama, bilang kakak tinggal saja. Nanti pulang dengan taksi. Kakak takut abang kenapa-kenapa,” Laura meminta Gerry menghubungi Claudia yang menunggu dimobil.
“Keluarga dokter Syahrul,” terdengar panggilan melalui intercom diruang tunggu. Laura dan Gerry segera bersiap masuk. Mereka segera mencuci tangan dengan desinfektan dan berganti baju khusus untuk masuk ruangan.
“Saya Sus,” Laura mendatangi meja ruang rawat.
“Dokter ingin bicara,” sahut sang perawat.
Laura mendekati seorang dokter disebelah. “Ibu, kami akan melakukan yang terbaik. Kami hanya minta doa dan keikhlasan keluarga. Dokter Syahrul baru saja kejang.”
Gerry langsung memeluk bahu sang kakak. Dia tahu kakaknya berupaya kuat. Laura dan Gerry dipersilakan sedikit mendekat agar bisa melihat kondisi dokter Syahrul dari jarak jauh. Ada tiga dokter yang Laura tahu dan dua orang perawat.
“Abang pasti kuat Kak. Kita doa aja ya,” bisik Gerry. Dia berdiri memeluk bahu kakaknya sementara Laura duduk. Meletakkan kepalanya diperut Gerry.
Cukup lama para dokter menangani Syahrul. “Ibu, silakan bantu doa. Kami sudah berupaya sebaik mungkin. Kami tak bisa lebih dari ini. Kalau dokter Syahrul kuat. Maka dia akan bertahan. Hanya itu yang bisa kami katakan,” dokter senior mengatakan hal itu pada Laura. Seakan menyiratkan, bila Syahrul tak kuat ya, selamat tinggal.
\======================================================================
TUNGGU UPDATE BAB SELANJUTNYA NANTI MALAM YAAAA