
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Syahrul tak percaya, dua bulan lebih dia tak bekerja dan menjadi pasien. Entah berapa lagi dia akan kembali aktiv sebagai dokter di rumah sakit yang sangat dia sukai ini. Semua rekannya sangat baik. Dia berharap bisa segera kembali bertugas menolong sesama. Dilihatnya bangunan megah tempatnya selama ini beramal dan mencari nafkah ketika pelan-pelan mobil yang dikendarai calon iparnya meninggalkan rumah sakit.
Dia di sendiri duduk di mobil berbeda. Dibelakang mobil Gerry. Dia duduk di kursi mobil yang dikendarai calon istrinya. Karena memang selama ini Laura menggunakan mobil ini. Tak mungkin mobil ini ditinggal di parkiran rumah sakit tanpa dibawa pulang.
Syahrul melihat kota Bandung. Dua bulan lebih yang dia lihat hanya dinding kamar ruang rawat saja.
“Pelan ya Bang, enggak usah keburu-buru,” Laura membuka pintu mobil ketika dia sudah tiba di rumah wak Ganis. Dia serahkan kunci mobil pada mang Asep agar barang diturunkan lalu mobil dibersihkan luar dalam seperti biasa.
“Assalamu’alaykum,” sapa Syahrul saat masuk ke rumah. Dia melihat ada Claudia dan beberapa orang yang belum dia kenal.
“Wa’alaykum salam,” jawaban salam Syahrul terima.
“Mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii,” Laura memekik lalu berhambur memeluk Mieske dengan erat.
“Anak cantiq Mami,” Mieske menjawab dan membalas erat pelukan putrinya itu.
Mereka berdua bertangisan. Laura tak menyangka Mieske berada di rumah uwak Ganis.
“Enggak pengen peluk Papi?” tanya Gerhard lembut. Dia melihat dua orang yang dia kasihi menangis berpelukan.
“Miss you Pi,” Laura pun memeluk Gerhard dengan erat. Laura tersadar ada Syahrul dibelakangnya.
“Abang, kenalin, ini Mamiku, maminya Tommy. Dan ini Papi,” Laura memperkenalkan kedua orang tua Tommy pada Syahrul.
“Mami, Papi ini Abangnya Lala,” Laura memperkenalkan Syahrul dengan menyebut dirinya sebagai Lala. Memang hanya keluarga dekat yang tahu panggilan ini.
“Papi senang La. Papi senang,” Gerhard menyalami Syahrul dan mengatakan dia senang akan pilihan putrinya itu.
“Kak, ada opa di dalam,” Gerry memberi tahu Laura, kalau opa Gerg juga datang.
Laura langsung curiga, mengapa semua berkumpul? Kalau tak ada yang istimewa, tak mungkin opa ikut ke Bandung.
“Abang, kita masuk yok. Ada opa Greg di dalam,” Laura menuntun Syahrul.
“Opaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,” dengan hangat Laura memeluk dan menciumi pipi opa yang sedang duduk di sofa.
“Hallo princessnya Opa,” sapa opa dengan riang.
“Opa sehat?” tanya Laura.
“Sehat sayang. Opa sehat dan bahagia,” jawab Greg.
“Opa, ini ayahnya anak-anakku,” Laura memperkenalkan Syahrul pada sang opa. Mendengar itu Syahrul merasa tak percaya diri. Laura ternyata memang sangat mencintainya dan tak malu akan berpasangan dengan duda anak dua seperti dirinya.
“Selamat siang Opa,” sapa Syahrul. Dia pernah tahu, kalau sang opa tidak pindah agama. Itu sebabnya dia tak memberi salam.
“Sini Nak, duduk sini. Kamu jangan terlalu banyak berdiri,” opa menyuruh Syahrul duduk disebelahnya.
“Ma, Pa. Kakak tahu ini planning kalian mengajak Opa kesini. Ada apa?” tanya Laura to the poin. Dia terbiasa dengan pola asuh keterbukaan versi Belanda.
“Abang, Kakak. Kami tahu kalian sudah serius. Dan kami tahu Kakak enggak bakal tidak mengurus Abang dengan baik. Maka kami semua memutuskan, besok kalian menikah agar Kakak bisa full mengurus Abang tanpa hambatan apa pun. Soal resepsi, nanti tunggu Abang sehat dan kita bikin di Jakarta,” Anjas langsung mengatakan surprise yang para orang tua bikin untuk kedua pasangan itu.
“Menikah?” Laura dan Syahrul tak percaya mendengar kata-kata Anjas.
“Papa bohong kan? Bagaimana mungkin punya surat-surat Abang?” Laura masih menyangkal. Bukan dia tak mau, hanya tak percaya.
“Semua surat dan pakaian kalian sudah selesai sayang,” jawab Claudia.
“Abang, maaf. Jangan tersinggung karena tidak melalui jalur seperti biasa mulai lamaran. Kami hanya tak ingin Laura bingung. Kami ingin yang terbaik untuk anak kami,” Anjas memberitahu alasan membuat pernikahan dadakan ini.
“Saya malah speechless Pa. Saya enggak tahu lagi harus bicara bagaimana. Ini bukti Allah sangat mencintai saya. Allah memberi sebuah keluarga hangat yang menerima diri saya dengan tulus. Saya hanya bisa menyampaikan terima kasih dan saya yakin Allah akan membalas budi baik Papa dan Mama serta semua keluarga disini.” Syahrul berkata dengan sedikit haru dan ada airmata menetes di pipinya.
Semua ikut terharu mendengar kata-kata Syahrul. Dan langsung menjawab dengan ucapan “Aaaamiiin!”
“Jadi itu alasan kenapa Mami dan Papi juga ada disini?” tanya Laura yang sesungguhnya tak perlu ditanyakan.
“Tentu. Mami mana mungkin enggak hadir dipernikahan anak Mami?” jawab Mieske.
FLASHBACK ON
Anjas sedang bersiap di kantor. Nanti malam dia dan istri serta Gerry juga papa mertuanya akan berangkat ke Bandung. Besok dia dan Gerry akan menjemput Syahrul di rumah sakit lalu lusa dia akan menikahkan putrinya. Secara agama resmi. Tak jadi nikah siri. Dia sudah mendapatkan data Syahrul dan mendaftarkannya ke KUA dekat rumah kakak perempuannya. Dia tak ingin kebahagiaan Laura tertunda lagi.
Sehabis meeting ini dia sudah janjian dengan kedua orang tua Tommy calon besannya.
“Assalamu’alaykum,” sapa Gerhard pada Anjas. Mereka janjian makan siang di cafe dekat kantor Gerhard.
“Wa’alaykum salam,” sahut Anjas yang sudah lebih dulu datang daripada pasangan calon besannya itu. Mereka salaing bertanya khabar dan ngobrol ringan sambil makan.
“Jadi pokok tujuan saya minta kita bertemu adalah, nanti malam saya akan berangkat ke Bandung karena besok akan menjemput calon menantu yang telah di rawat di rumah sakit selama lebih dari dua bulan,” jelas Anjas.
“Dan hari berikutnya Lala akan saya nikahkan. Dia sendiri belum tahu rencana ini, tapi niat baik kan memang harus disegerakan. Maka saya dan Claudia memutuskan akan segera menikahkan mereka. Saya mohon izin pada kalian sebagai orang tua Tommy. Dan mohon maaf kalau Lala tidak bisa bicara mohon izin secara langsung pada kalian. Karena jujur ini memang diluar sepengetahuannya,” panjang lebar Anjs menerangkan tujuannya siang ini.
“Kamu bicara apa?” tanya Gerhard tidak senang.
“Kami tak perlu Lala minta izin secara langsung, yang kami kecewa mengapa kamu tidak melibatkan kami dari awal?”
Anjas mengira Gerhard marah karena tak suka Laura akan menikah. Ternyata mereka kecewa karena tak dianggap sebagai orang tua Laura.
“Kalau begitu kami juga akan berangkat nanti malam. Tapi ceritakan dulu siapa calon menantuku dan mengapa mereka harus segera menikah tanpa sepengetahuan Lala?” tanya Mieske.
Anjas pun menceritakan garis besar sosok Syahrul yang sudah mendekati Laura dua tahun dan menyatakan cinta sejak satu tahun lalu tapi belum diterima oleh putri mereka.
\==================================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta