
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENYAMPAIKAN SELAMAT MEMBACA
“Iya Pa. Sa ya akan te rus sema ngat,” sahut Syahrul masih dengan terbata. Mungkin karena benturan di kepaka dan rahangnya sehingga dia sulit bicara.
“Papa tutup dulu teleponnya ya Kak, ini masih ada rekanan,” demi putrinya walau sedang ada tamu, Anjas menerima sambungan telepon. Dia tak ingin melewatkan berita penting.
“Iya Pa. Nanti malam kita ngobrol lagi seperti biasa kalau Papa sudah bersama Mama ya,” jawab Laura. Lalu mereka bertukar salam sebelum telepon ditutup.
“Abang lihat sendiri ‘kan. Kalau kami sangat mencintai Abang. Apa pun kondisi Abang, kami tak akan pernah berpaling,” sebenarnya Laura tak ingin mencolok mata Syahrul dengan kata-kata seperti ini. Tapi hal ini terpaksa dia lakukan agar Syahrul menepis rasa taak percaya dirinya.
Kalau saat normal, Syahrul bisa melihat dengan jernih semua hal dengan transparant. Tapi saat ini berbeda. Mata Syahrul sedang ditutupi kabut rasa tak percaya diri. Rasa tak percaya diri ini menyelimuti semua hal yang biasanya terlihat clear.
“Aku enggak akan pernah berpaling dari Abang. Jangan berpikir Abang tua, Abang cacat, Abang duda. Karena yang aku pilih adalah Abang. Dan yang direstui mama papa adalah Abang. Bukan lelaki lain. Kalau pun aku pilih yang lain tapi mama papa enggak merestui, aku bisa apa?” ajuk Laura.
“Abang harus yakin, restu mama dan papa itu segalanya buatku melangkah. Dan Abang sudah memenangkannya. You are the champion!” Laura mencium bibir Syahrul lembut.
Syahrul membalas ciuman Laura dan dengan curang dia memegang tengkuk gadis itu sehingga ciuman mereka makin dalam.
“Teri ma kasih Love, te rima ka sih atas cin ta mu,” sahut Syahrul.
“Ab bang eng gak ra gu lagi,” lanjut Syahrul. Tak sia-sia Krisna rekan sejawatnya selama beberapa hari ini selalu datang dan menemaninya bertukar pikiran.
Syahrul makin yakin akan cinta Laura padanya. Bahkan putra dan putrinya selalu bercerita bagaimana oma dan opanya memperhatikan kedua buah hatinya. Sejak mereka lahir mereka tak punya kakek nenek kandung dari dirinya. Dan dari Ida kedua mantan mertuanya tak peduli terhadap keberadaan cucunya itu.
Miris. Justru orang lain yang belum menjadi kakek nenek mereka sangat menyayangi kedua buah hatinya. Bahkan sekarang topik pembicaraan kedua anaknya bertambah dengan satu sosok yang mereka sayangi yaitu OM GERRY. Nazwa mau pun Fahri tak pernah bosan bercerita sosok yang baru minggu lalu mereka kenal secara langsung.
“Jadi mulai besok, aku akan pergi sebentar ya? Sesekali lihat butik dan sesekali lihat panti asuhan. Enggak akan tiap hari dan hanya beberapa jam saja. Enggak akan sampai setengah hari koq,” Laura memberitahu Syahrul niatnya kembali ke rutinitas kerjanya.
“I ya sa yank, bo leh. Ma af. Se lama ini bi kin yayank eng gak bisa ker ja,” jawab Syahrul.
“Aku enggak apa-apa. Tapi kan sudah satu bulan kerjaan enggak ditengok. Cuma akan tanda tangan aja beberapa berkas,” jawab Laura. Saat ini dia mendekap Syahrul erat. Dia ingin tidur siang dalam dekap hangat calon suaminya itu.
‘Kamu terlalu lelah ya sayank. Sampai tidur tanpa bisa ditahan,’ Syahru melihat wajah manis yang tidur dalam dekapannya. Sampai seorang petugas yang mengantar makan siang diberi kode oelh Syahrul agar tak berisik dengan meletakkan telunjuk di bibirnya.
Petugas itu mengangguk dan menaruh makan siang Syahrul di meja makan.
‘Astagaaaaa. Aku lupa membayar gaji driver dan bibik. Juga belum bayar PDAM dan PLN juga sekolah anak-anak selama aku tak sadar kemarin.’ Syahrul baru ingat akan semua kewajibannya.
Dia tahu awalnya hanya anak-anak yang pindah ke rumah bu Ganis, tapi akhirnya bibik pun ikut menginap disana. Satu minggu satu kali bibik ditemani driver akan pulang ke rumah membersihkan semua juga menyiram tanaman. Jadi walau ditinggal rumah tak akan terlalu kotor.
‘Apa bayaran sekolahmu sudah dibayar?’ Syahrul mengirim pesan pada Nazwa. Dia tahu sebentar lagi putrinya akan bisa membalas chat yang dia kirimkan. Menunggu waktu istirahat kedua. Di sekolah Nazwa memang penggunaan ponsel dibatasi.
‘Bahkan uang obat aja semua Mommy yang bayar. Opa enggak boleh bayar sama Mommy,’ chat lanjutan membuat Syahrul makin tak percaya. Dia langsung membandingkan Laura dengan Faiza dan Ida.
Faiza yang maunya makan gratis tanpa pernah satu kali pun membawakan sesuatu untuknya. Bahkan satu buah permen untuk anaknya saja tak pernah.
Dan Ida saat masih menjadi istri sahnya. Selalu mengeluh kurang bila membayar sesuatu. Bila Syahrul bilang bayar dulu dengan uang belanja, maka Ida akan langsung berkata : langsung ganti ya! Seakan uang belanja bukan dari dirinya.
‘Oke. Terima ksih. Nanti Daddy akan tanya Mommymu,’ balas Syahrul.
‘Mommymu! Daddy menyebutnya mommyku. Dia memang perempuan terbaik untuk kami,’ batin Nazwa sambil membuka kotak bekalnya.
***
“Sweety, kita jadi mampir ke panti asuhan sepulang kamu kuliah nanti?” tanya August. Mereka baru saja berangkat dari rumah.
“Jadi lah. Aku juga kangen anak-anak. Karena di panti aku dipanggil BUNDA, maka aku inginnya anak kita manggil aku IBU. Biar beda,” jawab Wulan sambil menyuapi roti bakar ke mulut August.
Mereka sedikit kesiangan karena Wulan terlalu lelah digempur August yang mengatakan dede ingin dikeloni ayahnya. Jadilah mereka sarapan didalam mobil untuk mempersingkat waktu.
“Kalau begitu, supaya Ibu enggak terlalu cape, yang beli diapers dan susuu bayi, Ayah aja ya?” sahut August. Dia tak ingin Wulan terlalu letih.
“Iya Yah. Tapi Ibu titip buah nangka matang dan alpokat ya. Kepengin bikin es teler. Nanti kelapa mudanya beli didekat rumah aja,” sahut Wulan.
“Belikan minyak telon, sabun dan shampoo bayi juga Yah. Nanti merek yang biasa dipakai akan Ibu kirim ke WA Ayah.” Wulan menambah daftar yang ingin dia bawa untuk anak-anak panti asuhan.
“Siyaaaaaaaaap Nyonya,” goda August. Dirinya tak percaya bisa bertemu dengan bidadari seperti Wulan. Bukan kecantikan wajah yang jadi tolok ukur. Karena kecantikan wajah itu relatif tergantung mata siapa yang menilai.
Wulan dan April sama-sama hamil diluar nikah. Tapi penyebabnya berbeda. Dengan April, August mendapat pukulan bertubi dari papinya bahkan sempat dicoret dari nama keluarga besar ketika lapor akan menikahi perempuan itu.
Tapi ketika lapor akan menikahi Wulan, sang papi tak melarang. Padahal saat itu semua belum tahu sifat dasar Wulan. Sekarang makin hari semua bisa menilai sifat mulia perempuan muda disisinya ini. Semua kagum dan jatuh cinta pada Wulan.
=========================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta