
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Please jangan marah. Aku enggak berpikir itu penting kamu ketahui karena dia enggak berarti buatku,” sahut Ilyas sambil memeluk pinggang Namira dengan lembut. Dia tak ingin bunda anak-anaknya itu marah. Apalagi nanti Namira akan menyetir mobil sendirian. Dia memang tadi diantar Namira menggunakan mobil. Sekalian mengantar Nindi.
“Ini rumah sakit, jangan seperti ini. Malu!” Namira berupaya melepas pelukan Ilyas. Banyak mata memandang mereka dengan pikiran berbeda-beda. Yang pasti dia melihat Adinda memandangnya dengan sinis.
“Suatu hubungan bila selalu menggunakan pemikiran salah satu pihak, tak akan bisa jalan selaras. Karena yang benar menurutmu, belum tentu benar menurutku. Atau yang tak penting menurutmu, itu sangat penting untukku. Kita dua mahluk yang berbeda latar belakang. Tanpa kejujuran dan komunikasi terbuka kita akan selalu panas,” jawab Namira lirih.
“Fine, Ayah minta maaf. Enggak lagi berbuat seperti itu. Forgive me please,” pinta Ilyas dengan kesungguhan. Namira hanya menjawab dengan senyuman dan membelai dagu Ilyas selintas.
“Siap Yas?” tanya dokter Edwin dan dokter Wawan pada Ilyas yang masih saja memeluk pinggang tunangannya. Seakan dia malas berpisah.
“Aku dari tadi sudah siap koq,” balas Ilyas.
“Mulut bilang siap. Tapi itu tangan masih meluk pacar aja terus,” goda seorang pemuda tampan yang ada name tag ‘Wawan’ di bajunya.
“Hahaha … dia bukan pacarku,” jawab Ilyas. Dia mengambil jemari tangan kiri Namira dan memperlihatkan pada dua rekannya. Dia belahan jiwaku. Kami sudah resmi bertunangan enam bulan lalu.”
Adinda yang berdiri dekat Wawan hanya bisa tertunduk begitu melihat cincin yang melingkar di jari manis Namira sama persis dengan cincin di jari Ilyas. Awalnya ketika ilyas dirawat dulu, Adinda mengira, Ilyas hanya membuat prank saja untuknya. Ternyata bukan. Adinda makin terpuruk karena cintanya harus layu sebelum berkembang.
“Sudah berangkat sana, Yank,” Namira menyuruh Ilyas segera berangkat. Ilyas memeluk erat Namira dan mengecup kening perempuan itu.
“Jangan lama balas chatku,” bisik Ilyas. Dia paling tidak sabar menanti jawaban chat yang dia kirim pada kekasih hatinya itu.
“Iya kalau pas enggak sibuk pasti langsung aku balas,” jawab Namira. Dia mencium pipi Ilyas dengan santai didepan teman-teman dokter muda itu.
“Bawa mobilnya hati-hati ya Honey,” Ilyas masih sempat memberi pesan untuk Namira.
***
August uring-uringan. Saat dia sudah punya akses mudah untuk berkomunikasi dengan Laura, mengapa dia malah malas mengejar perempuan cantik itu. Dia malah merindukan Wulan. ‘Kamu pulang kuliah jam berapa?’ chat terkirim pada Wulan.
Satu jam kemudian balasan dari Wulan baru masuk. ‘Pukul 13.40 Pak. Saya masuk kuliah jam sepuluh nanti.’
‘Saya akan jemput kamu di kampusmu. Nanti share lock.’ balas August. Dia masih dirumahnya di Jakarta. Hari masih pagi. Saat ini baru pukul 08.11.
‘Duh, ngapain sih tu Bapak mau jemput ke kampus,’ Wulan malas membalas. Hanya dia baca dan dia kembali mencuci baju-baju bayi dan balita penghuni panti. Nanti sehabis mencuci dia akan bersiap berangkat kuliah. Baju bayi dan balita tidak dicuci dengan mesin. Hanya dikucek setelah direndam. Setelah dibilas dua kali baru dikeringkan dengan mesin.
“Kamu kuliah siang?” tanya Sukma pada Wulan.
“Jam sembilan berangkat Teh, masuk jam sepuluh,” sahut Wulan sambil memasukkan baju ke mesin pengering. Selesai menjemur cucian, Wulan langsung bersiap untuk berangkat ke kampus. Saat ini usia kehamilannya sudah memasuki usia 18 minggu. Perutnya sudah terlihat buncit. Tapi karena tertutup dengan kemeja gombrong dan celana hamil maka kalau tidak diperhatikan, tak ada yang tahu perempuan muda tersebut sedang hamil.
“Nanti pulang bareng ‘kan?” tanya Kemuning pada Wulan.
“Aku ada urusan, jadi aku pulang sendiri,” jawab Wulan saat mereka baru saja bertemu dikelas. Hari ini ada dua mata kuliah yang Wulan ikuti.
‘Share lock sekarang. Saya sudah didepan kampusmu,’ chat August masuk saat dosen baru saja mengakhiri kuliah hari ini.
‘Cari aja fakultas hukum,’ jawab Wulan. Tapi dia tetap mengirim lokasi.
“Assalamu’alaykum Paklek,” Wulaan langsung mengangkat telepon saat terlihat nomor pakleknya memanggil.
“Kamu sibuk Ndar?” tanya Suparman -pakleknya Wulan- setelah menjawab salam dari Wulandari yang biasa dia panggil Ndari.
“Mboten. Niki bar rampung kuliah Paklek,” sahut Wulan. Sang paman tahu walau sedang hamil, keponakannya tetap kuliah. [ Mboten \= tidak. Niki bar rampung kuliah Paklek\= ini baru selesai kuliah, paman ].
“Paklek kepengen crito Nduk,” sahut sang paman.
“Ada apa Lan?” tanya Kemuning.
“Ini pamanku sudah tanya aku sudah berangkat menemuinya belum,” sahut Wulan. Alasan punya urusan jadi pas karena pamannya memang menghubunginya.
Kemuning dan Wulan berjalan bersisian. Tanpa Wulan sadari, mobil August parkir tepat disebelah mobil Kemuning.
“Sudah selesai?” tanya August tiba-tiba dari belakang Wulan.
“Eh … sudah,” jawab Wulan gugup.
“Aku enggak dikenalin?” goda Kemuning.
“Oh iya, kenalkan ini sahabatku,” Wulan tak menyebut siapa August. Dia hanya menyebut Kemuning sahabatnya.
“Kemuning.”
“August.”
“Aku langsung ya Ning. Nanti pamanku kelamaan nunggu,” Wulan langsung pamit pada Kemuning.
“*Take care *ya Lan,” Kemuning langsung masuk ke mobilnya.
“Ada apa ngejemput?” tanya Wulan saat August baru saja masuk ke mobilnya.
“Enggak boleh? Apa ada yang marah?” tanya August.
“Bapak ‘kan tahu kalau saya enggak ada yang marah. Tapi saya enggak mau kalau dari pihak Bapak ada yang berpikir yang enggak-enggak tentang saya,” jawab Wulan ketus.
“Bagaimana kalau ada yang mikir yang iya-iya?” goda August.
“Au ah,” jawab Wulan keqi. Dia langsung teringat dia harus ke bengkel pamannya.
“Saya mau ke bengkel paman, dia baru saja telepon mau bicara. Saya diantar kesana saja. Tapi kalau enggak searah ya turunkan saya dilokasi terdekat dengan bengkel,” Wulan memberitahu August tujuannya kali ini.
‘Punten Teteh. Saya pulang agak terlambat. Barusan paman saya telepon minta saya datang karena ada yang akan dibicarakan,’ Wulan pamit pada Karni yang hari ini bertugas piket administrasi.
‘Iya, hati-hati ya,’ sahut Karni singkat.
“Ada apa dengan pamaanmu?” tanya August.
“Entah, barusan telepon, dia bilang ada yang penting,” sahut Wulan. Dia juga tidak tahu apa maksud pamannya menghubungi.
“Lho, koq masuk ke bengkel? Bapak memangnya mau kemana? Dan dari tadi belum bilang alasan ngejemput saya,” Wulan bingung karena August masuk ke benkel tempat pamannya bekerja.
“Stop panggil saya Bapak. Panggil Mas. Kita sama-sama orang Jawa,” August meminta Wulan memanggilnya dengan sebutan Mas.
“Mana ada orang Jawa matanya biru gitu,” Wulan tak percaya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : RIESKEJULLY
Judul cerita : CINTA TERAKHIR DALAM HIDUPKU
Cerita singkatnya seperti ini :
Rifki adalah sosok yang ahli dalam dunia beladiri dan juga dunia gaib, dia pemimpin dari sebuah geng yang diberi nama Gengcobra, sementara Theo adalah sosok yang juga ahli dalam dunia beladiri dan dia menjabat sebagai pemimpin dari geng yang diberi nama Gengters
Kedua lelaki itu saling memperebutkan Nadhira agar menjadi pasangan mereka, lantas siapakah yang akan memenangkan hati Nadhira? Akankah terjadi perkelahian ketika anggota dua geng saling bertemu?