TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ANTI MAINSTREAM



BERTEMU LAGI DI DOUBLE DATE HARI INI. SEMOGA SEMUA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA


YANKTIE UCAPKAN SELAMAT MEMBACA



“Ayah maunya begadang diatas tempat tidur bareng Bunda lah,” jawab Ilyas cepat. Dia memberi kode istrinya agar bersiap main dokter-dokteran dengannya. Ilyas langsung masuk kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur.


Namira hanya tersenyum mendengar kode dari Ilyas. Dia tahu suaminya ingin membuang penat selepas bekerja dengan bertukar peluh bersamanya. Dia sudah tak pernah takut lagi melakukan hal intim suami istri sejak Ilyas berhasil meyakinkan bahwa making love dengan suami tak akan mungkin menyakitkan seperti yang pernah dia alami saat diperkosa oleh kakak iparnya dulu.


Sentuhan lembut Ilyas berhasil menghalau trauma yang Namira derita. Cinta Ilyas berhasil menjadi obat untuk lukanya.


***


Pagi ini Laura memberikan sarapan Syahrul bubur nasi dengan semur bola-bola ayam giling. Dan Syahrul tak menolak. Dia suka karena bubur dari rumah dimasak dengan santan kental sehingga gurih. Tadi sehabis salat Subuh mang Asep mengantar sarapan bagi Laura, Anjas dan Fahri juga baju ganti untuk Anjas dan Fahri karena keduanya kemarin tak membawa baju ganti.


Laura sudah membuatkan satu cangkir kopi untuk papanya. Untuk dirinya, Fahri dan Syahrul dia membuat ener-gen walau nanti tetap sarapan.


“Ade mau roti atau bubur? Oma bawakan banyak roti isi daging asap,” Laura menanyakan jagoan kecilnya.


“Dad … dy mau ro … ti,” pinta Syahrul.


Tentu saja Laura senang. Syahrul baru saja selesai makan hampir satu mangkuk bubur. Sekarang sudah meminta roti.


“Tapi enggak pakai saos pedas ya?” Laura memberitahu Syahrul. Lelaki asal Sumatera Barat itu tak bisa lepas dari sambal.


“Nda mau,” sahut Syahrul cepat.


“Ha ha ha, Daddy cuma kangen rasa pedas aja kan makanya pengen roti? Cepat sembuh ya biar bisa langsung ketemu sambel,” goda Laura. Dia tentu tak akan memberikan roti berlapis saos sambal untuk Syahrul.


***


Seperti yang Ilyas rencanakan semalam. Pagi ini dia membawa kedua anaknya berkeliling naik sepeda. Tentu saja Nindi naik sepeda miliknya sendiri sedang Ilham berada dalam gendongan didadanya.


“Cape Teh? “ tanya Namira ketika Nindi masuk kedalam rumah lalu langsung berbaring di karpet depan televisi.


“Lumayan Bund,” jawab Nindi. Dia menerima minuman sereal yang diberikan oleh bundanya. Karena diberikan saat hangat maka langsung dia habiskan.


“Jagoan kenapa Yah?” tanya Namira. Dia lihat suaminya langsung masuk kamar membawa Ilham.


“Jagoan pup Bund. Ni sudah selesai mandi sekalian,” Ilyas memberikan Ilham pada Namira karena dia akan membersihkan diapers yang kotor oleh faecesnya Ilham. Namira menerima Ilham yang sudah bersih dan wangi. Dia membasuh badan anaknya dengan minyak telon lalu memakaikan baju.


Ilyas keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk menutupi perut kebawah. Dia ambil baju yang sejak dia pergi keluar rumah sudah disiapkan oleh istrinya.


“Teteh sarapan dulu. Ayah dan Dede sudah mandi lho. Cuma Teteh aja yang belum,” Namira mengajak putri sulungnya makan.


“Dede mandi ‘kan karena pup. Ayah juga pasti mandi karena bajunya bau pup Dede,” Nindi tak mau kalah. Karena biasanya sehabis sepedaan memang mereka akan sarapan tanpa mandi lebih dulu.


“Ha ha ha, anak Ayah cerdas. Tahu aja kaos Ayah bau pup Dede,” Ilyas tertawa mendengar jawaban Nindi yang memang tidak salah.


“Tap habis sarapan mandi ya Teh. Bunda ama Ayah mau pergi. Kalau Teteh mau ikut harus sudah rapi,” Ilyas memberitahu kalau mereka akan pergi.


***


Ilyas cukup puas dengan hasil kerja tukang yang mengerjakan toko milik Namira. Dia juga takjub dengan pola pikir Namira yang meminta membuat pagar agar Ilham nanti tidak keluar kamar tanpa perlu dikunci atau ditutup didalam kamar.


“Mang, ini buat makan siang kalian ya,” Namira memberikan tas berisi makan siang untuk dua orang tukang.


“Sampai saat ini masih cukup semua Pak. Yang belum ada hanya kabel listrik karena Ibu minta dibuatkan beberapa titik tambahan untuk  kulkas, mixer, oven dan lain-lain,” jawab si mamang.


“Baik, besok saya belikan sekalian satu roll saja,” jawab Ilyas.


“Sekarang kami pulang dulu ya Mang. Masih ada yang harus kami cari,” pamit Ilyas.


***


“Yah, nanti buat ditoko enggak usah beli tempat tidur. Nanti pakai kasur yang digelar aja,” Namira memberitahu kalau nanti dikamar toko mereka hanya butuh kasur sebagai tempat tidur Ilham. Dia tak ingin anaknya jatuh karena tak terlihat saat anak itu bangun.


“Iyaaaaaaaaaa Bun, Ayah mah ngikut maunya Bunda aja,” jawab Ilyas sambil mencium selintas pipi istrinya. Kebetulan mobil berhenti karena lampu merah.


“Kita makan dulu sebelum belanja ya?” Ilyas memberitahu Namira, karena dia membelokkan mobil disebuah rumah makan.


“Itu mah pemberitahuan, bukan minta pendapat,” sahut Namira sambil senyum.


“Salah ya Bun?” tanya Ilyas dengan menggerak-gerakan alisnya menggoda Namira.


“Ayok Teh, kita makan dulu,” ajak Namira.


“Yaaaaah, jagoan malah bobo,” Ilyas melihat Ilham tertidur dalam dekapan istrinya.


Mereka masuk ke rumah makan, Ilyas memilih ruang lesehan agar lebih santai. Dia memilih menu yang dia inginkan, juga untuk Nindi dan Namira.


“Sebelum makan, Ayah ucapin selamat ulang tahun ya istriku. Semoga selalu sehat dan berbahagia disisiku selamanya,” Ilyas memberikan kado kecil dan tipis yang dia keluarkan dari saku celana belakangnya.


Namira tak percaya mendapat kejutan ini. Orang lain memilih tengah malam mengucapkan, Ilyas mah tak ikut dengan pakem itu. Dia anti mainstream. “Buka  dong,” Ilyas meminta Namira membuka kado darinya.


“Ayah, ini ngapain? Banyak banget. Lagian koq bisa?” Namira memberondong pertanyaan.


“Ha ha ha, satu-satu tanyanya. Itu hasil jual hak rumah Bogor. Kak Pia waktu itu kan sudah bayar. Langsung Ayah buat aja atas namamu semua,” jawab Ilyas santai.


“Koq bisa?” tanya Namira masih kaget tak percaya dana sangat besar semua atas nama dirinya.


“Waktu Ayah minta tanda tangan buat urus izin adopsi, berkas pembukaan rekening Ayah selipin buat Bunda tanda tangani. Jadi Bunda enggak sadar udah bikin rekening itu. Kan kang Kusdi ngizinin bawa berkas kosong,” jawab Ilyas.


“Eh, urusan itu sampai mana?” tanya Namira sambil memandang Nindi. Dia tak enak menyebut kata ‘adopsi’ didepan gadis kecil itu.


“Kesaksian dari warga sekitar dan pengurus RT serta RW sudah. Tinggal dibawa ke kelurahan dan kecamatan oleh anak buah kang Kusdi. Lalu setelah itu kita lampirkan diberkas yang untuk pengadilan,” jawab Ilyas.


Ilyas dan Namira memang harus ada bukti kalau Nindi adalah anak terbuang dari kedua orang tuanya agar adopsi mereka legal. Banyak saksi mata yang mau membantu agar Nindi bisa legal diasuh oleh Ilyas sebagai anak resmi bukan keponakan.


***


============================================================= 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta