TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
KAMI HANYA INGIN MOMMY LAURA YANG JADI IBU KAMI



Halloooooooooooooooooooooooooooooooooo


Apa khabar hari ini?


Semoa selalu sehat dan bahagia ya?


Yanktie ucapkan selamat membaca kisah hari ini


Jangan lupa like dan komentar manisnya


“Aku minta Papi bilang ke mami dan cukup restui kami. Dia bukan perempuan matre. Dia hamil diluar nikah bukan karena nakal. Dan dia sudah menolak aku,” desah August putus asa.


“Mami cari-cari, rupanya kalian ada disini,” Nenden menyapa kedua lelaki penting dalam hidupnya. Mereka berdua terlihat serius. Dan percakapan keduanya langsung terhenti ketika dia datang.


“Ada apa? Kenapa jadi diem semua?” Nenden mulai curiga.


“Kamu jelaskan ke mamimu, biar kita langsung clear,” Prabu meminta August langsung bicara dengan maminya saja.


Akhirnya August menjelaskan dari awal seperti yang dia katakan pada Prabu tadi. Nenden yang memang welas asih tentu tak keberatan akan niat August. Tapi dia tak mau gegabah memberi izin. Dia tetap akan bertanya dulu pada putranya.


“Kamu hanya kasihan ‘kan? Pernikahan karena dasar kasihan enggak akan berjalan baik,” Nenden berupaya mengajuk hati anaknya.


“Tadi ‘kan aku sudah bilang, awalnya tu karena kagum akan kegigihannya. Kepandaiannya dan juga akan sikap nrimonya. Dia enggak mau nerima kalau Aku hanya kasihan ama dia. Dia juga enggak mau pesta,” jelas August.


“Dia enggak mau berhenti kerja walau nanti sudah dapat nafkah dariku. Dia tetap akan kerja tapi akan minta tidak digaji. Karena dia merasa bersyukur pemimpin panti asuhan itu bersedia menampungnya saat dia butuh tempat berteduh. Dari semua perempuan yang pernah aku kenal. Hanya Julia yang setara dengan dirinya,” lanjut August.


“Kalau kalian menikah, orang akan menyorot kehamilannya. Semua akan menduga itu anakmu,” Nenden sepemikiran dengan Prabu.


“Enggak apa-apa. Toch selama ini semua orang tahunya aku lelaki nakal. Tapi bisa saja kami hanya akad saja seperti kemauannya. Nanti resepsi diadakan setelah dia melahirkan,” cetus August.


“Lalu sekarang maunya bagaimana?” akhirnya Nenden pun pasrah dengan kemauan anaknya.


“Aku cuma minta restunya mami dan papi. Lalu aku akan atur akad nikah. Selama dia belum selesai kuliah dia akan tetap di Bandung. Aku akan langsung pulang ke Bandung begitu mendarat di Soeta. Mami dan papi enggak perlu melakukan lamaran ke pakleknya. Biar aku aja juga enggak apa-apa. Mami dan Papi  mau datang saat kami akad nikah saja itu sudah Alhamdulillah,” sahut August.


“Ngawur aja. Kamu putra kami satu-satunya. Pernikahan bukan buat main-main. Kamu atur kapan kami bisa ketemu pakleknya,” Prabu langsung mengatakan dia akan datang ke Bandung untuk melamar Wulan.


August langsung memeluk Nenden dan menciumi pipi perempuan yang telah melahirkannya itu. “Makasih Mi, makasih Mi,” kata August berulang. Selepas dari pelukan Nenden, August pun memeluk erat Prabu tanpa bisa berkata apa pun. Dia hanya terisak. Dia tahu telah sangat berdosa pada lelaki yang keras tapi sangat menyayanginya ini.


‘Honey, Mas mau ngobrol penting nanti malam. Mas enggak mau ganggu waktu kuliahmu,’ August segera mengirim pesan pada Wulan. Lelaki itu tahu hari ini Wulan kuliah sejak jam delapan hingga jam dua belas nanti siang.


‘Iya,’ jawab Wulan pendek. Dia memang sedang dalam kelas.


***


Fahri sejak tadi sudah menunggu di depan sekolah kakaknya. Dia tak sabar. Karena Laura bilang begitu mereka selesai mengerjakan tugas, mereka harus memberitahu opanya agar mereka dijemput. Di mobil Fahri langsung mengerjakan tugas sambil menunggu Nazwa keluar kelas.


Jadilah sore ini Claudia dan Anjas membawa kedua cucunya. Yang pertama Anjas kunjungi adalah toko buku. Dia ingin melihat minat keduanya. Fahri bercerita dia suka buku tentang ilmu bangunan, dia suka melihat foto bangunan bersejarah dan sangat mengagumi pembuatnya. Sementara Nazwa suka terhadap design baju dan aneka buku kuliner seperti Laura.


“Kakak juga enggak suka, tapi dia tanpa kita dorong malah kuliah pertamanya ambil jurusan hukum. Biar aja mereka berkembang sesuai minatnya,” jawab Claudia.


“Iya ya, Gerry malah ke arsitek,” sahut Anjas mengingat putra bungsunya Gerald yang lebih sering dipanggil Gerry ( Jerri ).


“Mama juga enggak didorong papie buat ikutin jejaknya, tapi emang mau kesitu aja. Padahal mamie dulu ngotot minta mama ikutin jejak dia,” lanjut Claudia mengingat mendiang mamie nya.


“Kalian mau beli apa? Ambil saja,” Anjas menawarkan keduanya untuk memilih yang mereka inginkan.


“Sepertinya Kakak belum ada yang ingin dibeli Opa, kemarin habis kesini sama Mommy,” Nazwa menolak. Dia terbiasa tidak aji mumpung. Dan buat anak Syahrul, kebutuhannya semua terpenuhi. Sehingga bila tidak butuh ya mereka enggak akan ambil.


“Aku ini aja Opa. Kebetulan kemarin kamus ku hilang,” Fahri mengambil kamus bahasa inggris super tebal.


“Mengapa tidak menggunakan ponsel saja untuk mencari persamaan kata?” tanya Claudia.


“Ade belum boleh punya ponsel. Dia sudah punya, tapi tidak dipakai,” sahut Nazwa. Dia takut opa dan oma nya membelikan Fahri ponsel bila dikira adiknya belum memiliki.


Anjas dan Claudia langsung memberi poin positive untuk Syahrul yang di masa sekarang masih keras melarang putranya memilik ponsel.


“Lalu kalau ingin berkomunikasi dengan teman atau mau search sesuatu bagaimana?” tanya Anjas penasaran.


“Di rumah ada ponsel yang bisa digunakan Fahri. Tapi tidak setiap saat. Kalau untuk search kami masing-masing punya laptop dan wifi dirumah bisa kami gunakan,” jelas Nazwa. Mereka sudah selesai membayar buku yang mereka beli.


“Kita makan dulu ya,” Anjas mencari rumah makan yang bisa santai bercerita dengan dua cucu dadakannya ini.


“Apa kalian sejak lahir di Bandung?” tanya Claudia.


‘Iya Oma, Daddy asli Sumatera Barat. Sejak kuliah di Bandung. Lalu menikah juga disini jadi kami berdua kelahiran Bandung. Oma dan Opa kalau mau tanya tentang ibu kami, kami akan jawab koq,” dengan tegas Nazwa memberitahu dia siap memberi info apa pun. Karena dia ingin opa dan omanya tidak membatalkan restu untuk mommy dan daddynya.


“Mengapa kamu bicara seperti itu sayang? Apa ibumu masih ada?” Anjas malah bingung mendengar ungkapan Nazwa.


“Kakak dan adek enggak mau Opa dan Oma menghalangi mommy dan daddy. Daddy sudah lama meminta mommy menjadi ibu kami, tapi mommy belum bisa melupakan om Tommy. Sedang buat kami, kami hanya ingin mommy Laura yang jadi ibu kami. Bahkan dua bulan lalu ibu kandung kami datang, kami enggak ingin bertemu dia,” Nazwa mengutarakan isi hatinya.


“Sayaaaaaaaaaaaaang, Oma dan Opa enggak akan melarang pilihan anak kami. Kami membebaskan pilihannya. Kalian jangan khawatir. Itu tak akan terjadi. Buat kami kebahagian anak-anak kami adalah yang utama,” Claudia memeluk Nazwa dan mengecup keningnya.


“Boleh Oma tahu mengapa kalian tidak mau bila ibu kalian yang kembali menjadi pendamping Daddy?” tanya Claudia.


======================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta