TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
CINCIN DARI ARIANO



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\======================================================================


“Assalamu’alaykum,” baru saja Laura menggendong seorang bayi di ruang depan, datang Ariano memberi salam.


“Wa’alaykum salam. Silakan masuk,” Laura mempersilakan tamunya masuk. Tentu tak etis membiarkan seorang tamu diluar saja.


Laura membaringkan kembali bayi yang baru dia gendong. Dia ciumi dulu sampai puas baru dia keluar dari kamar bayi.


“Ceritanya dari mana dan mau kemana?” tanya Laura basa basi. Padahal siang ini dia berniat ke rumah sakit lagi bersama Nazwa dan Fahri. Mereka akan makan siang diluar sebelum ke rumah sakit.


“Dari rumah. Sengaja kesini,” jawab si ganteng Ariano.


“Kamu tu susah bangeeet ya ditemuin,” keluh Ariano setelah beberapa saat tak ada percakapan antara mereka.


“Aku ‘kan kerjanya di Bandung. Dan enggak selalu nongkrong di butik tapi lebih banyak liat-liat toko buat cari pembanding atau ide. Orang yang enggak tahu akan menilai aku orang yang hobby window shopping,” jawab Laura santai. Dia tahu beberapa kali Ariano mendatangi panti tapi tak pernah bertemu. Biasanya dia sudah dirumah belakang dan tak mau menemui pria ini.


“Mungkin ini waktu yang enggak tepat dan enggak romantis. Tapi karena kamu sulit aku temui, terpaksa aku bilang sekarang. Aku tu sayang sama kamu La. Aku ingin serius menemui kedua orang tuamu bila kamu mau menerima aku,” Ariano mengeluarkan sebuah kotak cincin yang dia buka didepan gadis itu.


“Maaf. Hatiku sudah ada yang punya. Dan aku enggak akan berpaling darinya,” Laura akhirnya menjawab setelah cukup lama dia terdiam memandang kotak cincin yang sudah terbuka ditangan Ariano.


Ariano diam mendengar penolakan Laura. Karena dari info yang dia cari Laura belum punya tambatan hati lagi setelah calon suaminya meninggal hampir tiga tahun lalu.


***


Setelah Ariano pulang Laura langsung kembali ke rumah karena dia akan bersiap untuk makan siang dan menjenguk Syahrul bersama anak-anak. Laura merasakan derita Nazwa dan Fahri terlebih setelah kunjungan Ida kembali. Kemarin sore kedua anak itu menangis disisi Syahrul yang masih tetap diam membisu di ruang ICU.


“Kalian Mommy tinggal keluar ya. Ajak Daddy cerita biar Daddy cepat bangun,” begitu kemarin pesan Laura sebelum membiarkan kedua anak itu ‘ngobrol’ dengan daddynya. Saat mereka keluar terlihat mereka bekas menangis.


“Lho, kalian koq belum siap?” Laura melihat kedua anaknya masih diam diruang televisi. Mereka memandang kotak bersuara itu tapi tatapannya kosong.


“Kak, De,” Laura memanggil keduanya yang tak mendengar sapaannya barusan.


“Eh Mom,” Fahri yang lebih dulu sadar dan mendengar panggilan Laura segera menjawab.


“Kalian kenapa belum bersiap? Kita ‘kan mau makan siang lalu nengok Daddy,” Laura kembali mengingatkan rencana mereka hari ini.


“Kakak enggak jadi keluar Mom,” Nazwa langsung menjawab tak berniat ikut pergi dengan Laura.


“Kenapa Kak? Kakak sakit? Kita mau nengok daddy lho, bukan cuma keluar buat makan siang,” Laura tentu saja bingung melihat sikap Nazwa yang sepertinya terluka.


“Kakak baru dapat khabar besok ulangan Fisika. Tadi teman-teman ngasih tahu,” Nazwa memberitahu alasannya.


“Ya sudah. Kamu belajar ya. Nanti kalau minta dibawakan sesuatu, khabarin Mommy. Dan kamu De, bersiap sana. Mommy mau ambil dompet dan ponsel,” jawab Laura tak berpikir kalau ada yang mengganggu pikiran Nazwa.


***


“Terserah Mommy aja,” jawab Fahri lesu. Laura baru menyadari sikap kedua anaknya.


‘Aku yakin ada yang membuat anak-anak bersikap enggak biasa seperti ini,’ pikir Laura.


“Gimana kalau kita makan di ayam geprek depan rumah sakit daddy?” Laura tahu Fahri suka dengan ayam geprek lada hitam disana.


“Boleh,” sahut Fahri datar.


“Boleh Mommy tahu apa yang bikin Dede dan kakak jadi diem aja? Sampe kakak enggak mau ikut ke rumah sakit. Mommy tahu, ulangan fisika hanya sebuah alasan aja,” Laura langsung mengajuk hati lelaki kecil yang biasanya selalu terbuka padanya.


“Apa Mommy tetap akan jadi Mommy kami bila nanti daddy enggak ada?” tanya Fahri lirih dan hati-hati.


“Dengar ya De. Sebelum daddy mu seperti sekarang, Mommy pernah bilang, walau kami enggak menikah, kalian berdua adalah anak Mommy. Kalian tetap bisa kerumah Mommy kapan pun. Karena cinta Mommy ke kalian itu tulus. Bukan karena Mommy cinta pada daddy kalian,” Laura menegaskan pada Fahri sejak dulu dia dan kakaknya adalah anak-anak Laura.


“Jadi Mommy akan menerima lamaran om Ariano tadi?” tanya Fahri jujur.


‘What? Apa dia melihat ketika Ariano melamarku? Tapi harusnya dia tahu aku menolak Ariano,’ Laura mulai meraba penyebab Fahri dan Nazwa diam siang ini.


“Ade tadi lihat om Ariano lamar Mommy?” tanya Laura pelan.


“Kakak yang lihat,” jawab Fahri jujur.


“Apa kakak tidak bilang kalau Mommy menolak om Ariano?” tanya Laura lagi.


“Kakak enggak bilang. Kakak cuma kasih tahu om Ariano ngelamar Mommy. Dan Kakak bilang kami harus bersiap tinggal dengan nenek sihir bila Mommy menikah dengan om Ariano,” jawab Fahri dengan getir. Ada duka disuaranya.


Mereka telah sampai rumah makan ayam penyet seberang rumah sakit Kemala. Laura sengaja tidak langsung turun. Dia ingin menuntaskan kesalah pahaman tentang lamaran Ariano yang dia yakin hanya sepotong dilihat oleh Nazwa.


“De, dengerin Mommy. Benar tadi om Ariano melamar Mommy. Tapi Mommy sudah menolaknya. Jadi Ade dan kakak enggak perlu takut Mommy akan menikah selain dengan daddy kalian.” Laura menjelaskan penolakannya terhadap lamaran Ariano.


“Dan andai kita mendapat kenyataan pahit sekali pun. Andai daddy kalian tidak sembuh, kalian tak akan Mommy biarkan hidup dengan ibu kalian. Kalian akan selalu bersama Mommy apa pun yang terjadi,” Laura tentu tak mungkin bilang andai daddy kalian meninggal. Tak mungkin kuat Fahri mendengarnya. Dan Laura juga tak mungkin menyebut ida sebagai nenek lampir seperti yang Fahri sebut tadi.


“Ayo sekarang kita makan siang. Jangan lupa belikan bibik buat makan siang dan makan malam juga,” Laura mengajak Fahri keluar untuk makan.


Fahri tenang. Dia tak jadi takut tinggal dengan perempuan yang telah membuat daddynya terluka. ‘Andai tadi kakak melihat dulu sampai kepenolakan mommy. Atau andai tadi kakak tanya ke mommy seperti yang aku lakukan. Kakak tentu enggak akan galau seperti tadi.’


***


“Tadi ada yang datang Bik?” tanya Laura. Maksudnya tentu dia bertanya apa Ida masih berani datang setelah kemarin jelas ada Toha dan Adnan.


“Hanya teman Bapak. Dia tanya Non. Bibik bilang lagi urus anak-anak,” jawab bibik.


“Bik, ini buat Bibik,” Fahri menyerahkan dua kotak nasi dan ayam geprek yang mereka beli barusan.


“Terima kasih Den.” jawab sang bibik.