TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
ABANG SALAH APA?



Siang ini kembali jadwal Laura meluncur ke butiknya di daerah Kopo - Bandung. Sengaja sejak pagi dia sudah di panti dan mobil juga sudah di halaman panti. Terparkir di sebelah mobil dokter Syahrul. Dokter anak yang hari ini bertugas memeriksa bayi-bayi di panti. “Kamu mau ke butik?” tanya dokter Syahrul. Dia sudah seperti kakak bagi Laura. Dokter anak ini duda beranak dua yang berusia 11 dan 8 tahun. Istrinya meminta cerai ketika anak bungsunya berusia 4 tahun. Alasannya tak nyaman hidup dengan seorang dokter. Bagi Laura perempuan itu aneh. Bukankah sejak mereka pacaran atau sebelum menikah dia tahu kesibukan calon suaminya? Mengapa setelah ada anak baru perempuan itu minta cerai? Dan mengapa pula perempuan itu tega meninggalkan anak-anaknya?


“Iya Dok, jadwal ke butik. Tapi sengaja ke sini dulu lihat para kekasih hati,” balas Laura ceria.


“Berapa kali aku harus bilang, jangan panggil Dok atau Om. Usia kita hanya selisih 12 tahun. Banyak pasangan suami istri yang selisih usianya lebih dari kita. Apa aku terlalu tua sehingga kamu membangun dinding pembatas yang tinggi? Atau kamu sudah menerima cinta Ilyas?” protes dokter Syahrul. Pria itu memang sering memberi gambaran bila dia menyukai Laura. Dia sering memancing-mancing kalau Laura tak mau menerimanya karena dia seorang duda dengan dua orang anak menjelang ABG.


“Kan sekarang kita sedang dalam konteks kerja. Bukankah anda saja pakai baju kerja? Wajar ‘kan saya panggil anda dokter sesuai status anda?” jawab Laura pelan. Dia tak ingin rahasianya dengan dokter Syahrul diketahui oleh para pegawainya seperti apa yang dia dan dokter Ilyas jalani. Rasanya kedepannya dia hanya akan menerima dokter perempuan sebagai dokter sukarela di panti ini. Sayang semua sudah berjalan lama sejak dia belum memegang kendali panti.


“Teh Karni, temani dokter Syahrul ya, saya tidak bisa terlalu lama karena akan berangkat ke Bandung. Saya hanya mengambil catatan dari Nengsih untuk belanja. Memang Laura lupa catatan kebutuhan panti yang harus dia beli. Dia baru ingat ketika bik Sanah memberikan catatan kebutuhan dapur yang habis.


“Mari dokter, saya permisi,” Laura pamit berbasa basi pada dokter Syahrul. Sebenarnya dia menyukai dokter Syahrul. Matang dan dewasa. Dia tak peduli dengan status duda dua anak yang disandang dokter tersebut. Yang jadi kendala, dirinya belum bisa membuka hati untuk sosok lain sebagai pengganti Tommy. Saat ini, andai dia harus memilih antara dokter Ilyas dengan dokter Syahrul, dia lebih memilih dokter Syahrul. Dia juga beberapa kali bertemu dengan kedua anak dokter Syahrul. Dari perilaku kedua anaknya, Laura bisa menilai bagaimana tanggung jawab dan kasih sayang dokter Syahrul. Karena sang anak sudah tak punya ibu sejak berusia 7 dan 4 tahun. Keduanya sangat sopan dan manis. Juga tak terlihat sedih karena tak ada sosok mama dalam hidup mereka. Dokter Syahrul bisa memenuhi semua yang diinginkan anak-anaknya namun tetap tidak memanjakan mereka. Bahkan dengan si sulung Laura menjalin persahabatan. Dia tahu kebutuhan putri kecil Syahrul akan figur perempuan dewasa bagi tumbuh kembangnya.


***


Laura sedang belanja di sebuah super market terlengkap di Bandung ketika merasakan getar ponselnya. Menandakan ada pesan masuk. ‘Pulang jam berapa? Aku juga sedang di Bandung.’


‘Belum tahu, baru masuk super market,’ send dari Laura. Tapi langsung pengirim chat menelponnya.


“Di super market mana?”


Laura menyebutkan nama super market yang dia kunjungi. “Tunggu, Abang juga di sini, di lantai dua bagian pakaian. Abang ke situ. Kamu di bagian apa?”


“Susu bayi,” jawab Laura. Dia memang baru sampai. Belum juga menolak untuk bertemu sambungan telepon sudah ditutup.


“Sudah dapat apa saja?” tanya dokter Syahrul ketika berhasil menyusul Laura.


“Baru ambil susu aja,” jawab Laura sambil melihat catatan yang diberikan Nengsih. Dia mencoret yang sudah diambil agar tidak bingung.


“Abang mau mborong apa?” tanya Laura. Di luar memang Laura memanggil abang sesuai permintaan Syahrul 3 tahun lalu.


“Mau cari buku pesanan Nazwa, tapi di atas mau cari celana renang buat Fahri dulu,” jawab Syahrul menyebut nama kedua buah hatinya.


“Kenapa sih kamu menjaga jarak dengan menyebut saya lagi? Tadinya sudah aku ‘kan? Abang salah apa?” bisik Syahrul. Dia tak ingin suaranya terdengar pengunjung lain yang juga sedang berbelanja.


Laura bingung. Entah apa yang ada dibenaknya. Kadang dia bisa bebas dengan Syahrul, kadang dia harus membatasi karena tak ingin Syahrul mengharap lebih. Dia takut Syahrul dan terutama Nazwa kecewa.


“Aku takut Abang berharap terlalu dalam. Aku takut membuat Nazwa kecewa. Aku belum siap, jadi aku mohon Abang bisa menjauh,” Laura menjawab terbata.


“Abang tak mau kita diskusi sambil belanja. Kita bertemu di food court 90 menit dari sekarang. Abang cari kebutuhan Nazwa dan Fahri dulu. Assalamu’alaykum,” tanpa menunggu jawaban Syahrul berbalik meninggalkan Laura.


Sudah 97 menit dari pertemuan dengan Syahrul tadi, Laura baru saja selesai belanja semua kebutuhan panti dan dapur rumah bibik. 2  trolly penuh belanjaannya. Dibantu satpam dia mendorong trolly  ke parkiran mobilnya. Saat itu Syahrul juga baru saja memasuki parkiran karena buku yang dibutuhkan Nazwa tak ada di supermarket itu sehingga dia harus mencari ke gra-media. Syahrul membantu memindahkan belanjaan Laura ke bagasi mobil gadis itu. Setelahnya baru mereka keluar berbarengan dari supermarket. Tak jadi makan di food court. Mereka beriringan menuju cafe tempat biasa mereka makan.


***


“Sudah dapat semua?” tanya Syahrul saat mereka berjalan memasuki cafe. Pasangan yang serasi. Gadisnya lembut, tanpa polesan dan berwajah manis. Sedang yang lelaki ganteng dan dewasa. Keduanya menggunakan outfit hampir sama, t shirt polos biru dongker dilapis kemeja tangan panjang yang digulung dan tanpa di kancing dengan jeans biru muda serta sneaker membalut kaki mereka.


“Alhamdulillah dapat semua, yang Abang cari dapat semua?” Laura balik bertanya. Dijawab dengan anggukkan oleh Syahrul. Syahrul izin ke toilet lebih dulu. Saat itu tanpa sengaja Laura melihat dokter ilyas sedang makan dengan Santi, kakak dari bu Fitri yang mengadopsi batita di pantinya.


“Selamat sore, selamat makan ya,” Laura sengaja menyapa. Itu agar Ilyas tahu dipergoki sedang kencan dengan perempuan lain sedang ilyas tetap ngotot mengatakan mencintainya. Laura ingin ilyas mundur mendekatinya.


“Eh, Laura, lagi di Bandung. Datang ama siapa?” tanya dokter ilyas bingung. Dia tadi sedang makan sendirian ketika Santi datang dan duduk di depannya. Sesungguhnya dia tak janjian dengan perempuan yang adiknya saja sangat terlihat mengejar dirinya untuk dijodohkan dengan Santi kakaknya ini. Dia seperti suami yang ketangkap basah oleh istrinya sedang makan dengan selingkuhannya.


“Saya datang sendirian, tapi barusan ketemu dokter Syahrul di parkiran. Sebentar lagi dia ke sini. Sekarang dia sedang ke toilet. Permisi teh Santi,” Laura langsung berlalu menuju meja pojok


\==================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta