TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
TERNYATA … AKANG BEIB JUGA SUDAH MEMILIKI ANAK PEREMPUAN !



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


\====================================


‘Lho … koq dia juga membeli perlengkapan untuk anak perempuan? Bandana, ikat rambut, aaah fix aku bahagia. Pasti yang dia bilang babynya tadi adalah keponakannya. Buktinya dia beli aneka perlengkapan anak perempuan juga. Tak mungkin ‘kan dia sudah punya anak besar. Kecuali …,’ batin Kemuning melihat apa yang sekarang jadi fokus pencaharian Ilyas.


‘Semoga saja pikiranku salah,’ Kemuning menepis pikiran buruknya lalu bergegas ke kasir untuk menyudahi belanjanya. Dia tak ingin terus memikirkan tentang kemungkinan terburuk kalau Ilyas menikah dengan janda yang sudah mempunyai anak perempuan.


Sementara sosok yang menjadi incaran para perempuan muda di rumah sakit tempatnya bertugas masih santai melihat aneka perlengkapan anak perempuan. “Mbak, ini ada yang agak besar?” tanya ilyas pada pramuniaga.


“Warna dan bentuknya sama?” tanya pramuniga yang bertugas. Dia melihat sandal bulu berbentuk kelinci yang diinginkan Ilyas. “Putrinya usia berapa Pak?”


“Usia putri saya 9 tahun tapi kakinya besar,” jawab ilyas dengan yakin. Saat itu Kemuning mendengar dengan jelas saat dia sedang menuju kasir.


‘Ahhhhh … sakit dadaku,’ batin Kemuning. Dia setengah berlari menuju kasir. Dia ingin segera chat di groupnya.


***


“Terima kasih paman,” Nindi langsung mengucap terima kasih ketika menerima sandal kelinci dan bandana dari Ilyas.


“Cium paman dulu,” pinta ilyas, dia ingin Nindi merasakan kehangatan kasih seorang ayah. Tanpa ragu Nindi mencium pipi kanan dan kiri Ilyas dan ilyas membalasnya dengan pelukan hangat. Dia mengecup kening dan puncak kepala gadis kecilnya itu.  Namira yang melihat dari dapur hanya tertegun. Dia sedang memotongi wortel untuk isi risol.


‘Dengan ayah kandungnya saja dia tak pernah mendapat pelukan hangat. Yang dia dapat hanya cacian, bentakan serta pukulang di bo_kong atau pahanya. Semoga kamu bahagia dan tidak melakukan hal buruk yang dapat mengecewakan pak dokter Nak,’ Namira berpikir sendu tentang keponakannya itu.


“Ini untuk dede Ilham, kamu simpan ya,” Ilyas menitipkan sisir bayi pada Nindi.


“Iya paman,” jawab Nindi dengan senang hati. “Ups lupa, terima kasih dari dede Ilham,” Nindi baru ingat nasehat Namira.


“Kalau begitu, kamu juga harus memberi paman ciuman dari dede ilham,” goda Ilyas.


***


‘Ahh … mengapa wajah innocent Wulan bermain dibenakku?’ August berupaya menepis wajah polos “gadis” yang dia kasihani sejak siang mendengar kalau Wulan bernasib tak beruntung karena disiksa oleh bibinya sendiri. Dia menjalankan mobilnya pelan, antara ingin pulang ke rumah orang tuanya atau ke apartemennya saja. Akhirnya dia menuju apartemen. Dia lelah, tentu tak enak bila pulang ke rumah langsung tidur. Bila ke apartemen tentu semua terserah dirinya.


Sementara Wulan terus berkonsentrasi terhadap mata pelajarannya. Dia ingin segera menyelesaikan ujiannya minggu depan lalu fokus merawat kehamilannya. Sambil menggendong balita yang baru dia suapi dia membaca sekilas tulisan rangkuman yang dia buat. “Sudah berapa kali Teteh bilang kamu jangan menggendong anak-anak?” tegur Sukma pada Wulan. Semua pekerja di panti membuat larangan untuk Wulan mengangkat berat. Semua merasa mereka lah yang sedang hamil. Kalau menggendong bayi masih boleh.


“Iya Teteh, ini enggak berat koq, dan aku ngegendong karena dede baru aku mandikan sehabis makan,” jawab Wulan. Dia merasa sangat bersyukur masuk ke lingkungan yang sangat memperhatikan dirinya.


“Besok-besok jangan lagi ya, biar saja kotor sehabis makan, berikan ke yang lain untuk dimandikan,” saran Sukma selanjutnya.


“Iya Teh. Maafkan ya kesalahanku,” jawab Wulan lirih. Dia tak enak bila meminta rekan seniornya mengerti keadaan tubuhnya yang sedang hamil. Mereka melanjutkan mengurus penghuni panti menjelang mereka tidur malam ini. Wulan memilih mencuci perlengkapan makan para balita serta mencuci botol para bayi. Sehabis itu dia memasak botol untuk mensteril agar tak ada kuman yang masih bertahan, mencegah para bayi terkena sakit akibat botol yang tidak disteril.  Sambil menunggu rebusan botol, Wulan menyiapkan su5u untuk para bayi. Dia membuat 5 botol su5u sesuai jumlah bayi yang sebentar lagi akan diberikan minum menjelang tidur malam.  Dia letakkan di meja khusus dan ditulis di list data pukul berapa dia membuat su5u tersebut. Agar siapa pun yang akan mengambilnya tahu siapa yang membuat dan jam berapa dibuatnya.  Selesai sudah tugas hari ini, Wulan lanjut menghapal pelajarannya.


“Alhamdulillaaah,” dengan lirih Wulan mengucap syukur atas semua pencapaian yang dia telah lakukan hari ini. Dia bersyukur atas semua yang telah terjadi. Dia selalu cemas bila kehamilannya mengganggu proses belajar. Dia ingin agar bisa lulus sekolah. “Ups ….” Wulan langsung menuju dapur. Dia ingat belum minum su5u ibu hamil yang wajib dia minum. Awalnya dia tak meminumnya karena sayang uang yang dia miliki. Tapi bu Laura menyiapkan untuknya, sehingga ketika su5u bubuknya habis dia membeli sendiri agar tak dibelikan lagi oleh bu Laura. Dia merasa tak enak kalau semua ditanggung oleh Laura. Itu sebabnya Laura tak pernah melihat list kebutuhan su5u bayi ibu hamil dalam list Sukma, karena Wulan sudah membeli sendiri.


***


Flasback on


“Tanda tangani surat pengunduran diriku, besok pagi-pagi sekali akan kuletakkan di meja big boss. Tolong aku sekali ini. Lepaskan aku dari kantor ini,” pinta Julia dengan memelas.


“Tapi aku akan bermasalah Jul, kamu ‘kan tahu surat resign harus diajukan sebulan sebelumnya,” tolak Fanny saat itu.


“Aku tak bisa lagi Fann, satu kali ini aja aku minta tolong padamu. Tolong tanda tangani. Atau aku tetap akan keluar tanpa surat. Ada atau tidak ada surat resign, mulai besok aku tak akan bekerja lagi di kantormu!” Julia menegaskan keputusannya kala itu.


“Itu kantor kita, bukan hanya kantorku,” balas Fanny.


“Sejak tadi, aku sudah tidak bekerja di sana!” Jawab Julia memastikan tekadnya.


“Aku akan bantu, dengan satu syarat,” Fanny akhirnya luluh terhadap rengekan Julia.


“Apa pun, akan aku lakukan asal aku bisa mendapat surat itu,” tanpa berpikir Julia menyanggupi syarat yang belum Fanny sebutkan.


“Kamu harus menjelaskan secara rinci dan jujur alasanmu sebenarnya.” Setelah debat agak lama akhirnya Fanny mau membantu Julia. Dan akhirnya keluarlah semua rahasia hubungan Julia dan Bastian selama ini.


“Bisa ya kamu sembunyikan semua rahasia ini dari kami para sahabatmu!” Fanny tentu geram mendengar rahasia yang Julia sembunyikan.


Esoknya pagi sekali Julia mengantarkansemua berkas yang sudah dia kebut kerjakan sejak kemarin siang. Dipaling bawah dia letakkan surat pengunduran dirinya yang telah mendapat ACC dari wakil manager personalia. Karena sudah 1 bulan kepala personalia non aktif akibat sakit, maka ACC Fanny sudah kuat.


Julia ingin melepas semuanya setelah dia resign dari kantor Bastian. Dia tak peduli dengan pesangon atau apa pun. Dia hanya ingin terbebas dari manis egois seperti Bastian. Dan sekarang semua hal tentang pekerjaan kantornya hanya tinggal kenangan. Sekarang dia akan beralih profesi


Flashback off


\======================================================


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


judul cerita MUHASABAH CINTA  penulis LUSIANA CINTA   pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


sepenggal kisahnya seperti ini  :


Risma


Saat ku putuskan untuk berubah, rasanya mudah sekali. Hanya dengan mengenakan hijab panjang dan pakaian syar'i. Namun, ternyata salah, aku juga harus menata hati dan menahan diri.


Memasrahkan semua yang terjadi pada sang pemilik nyawa. Namun, aku tidak bisa berbesar hati. Melihat laki-laki yang telah mengusik hatiku terbaring tak berdaya. Sedangkan aku hanya bisa terdiam menunggu kabar baik yang entah kapan itu datangnya.


Namun, saat hati tak lagi berdaya, sedang raga meminta untuk tetap bertahan, bolehkah aku menyalahkan sang pemilik nyawa? Mampukah aku bertahan di tengah keputusasaan yang mendera?