
HALLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
Seperti biasa ini update kedua hari ini.
Semoga kalian suka ya
Jangan lupa yanktie nunggu secangkir kopinya
Terima kasih
“Saya pengacaranya Syahrul dan anak-anaknya,” Claudia memberikan kartu namanya pada perempuan yang mengaku sebagai ibu kandung Nazwa dan Fahri. YA. Perempuan itu adalah Ida, atau nama lengkapnya Firda Umiyani. Mantan istri Syahrul. Ibu kandung Nazwa dan Fahri.
“Jadi kalau anda hendak bicara dengan anak-anak, saat ini mereka dibawah perlindungan firma hukum saya. Anda harus bicara dengan saya. Atau dengan anak-anak tapi didampingi saya. Bila anda menemui anak-anak diluar sepengetahuan saya, saya akan pidanakan!” dengan santai Claudia melanjutkan makannya.
“Tidak mungkin … anda pasti mengada-ngada,” Ida tak percaya dengan pernyataan Claudia.
“Nazwa, tell her who am I in relation to you and your daddy. Let her know and not guess wrong,” Claudia meminta Nazwa menerangkan siapa dirinya. Claudia tahu Nazwa cukup pintar mengetahui drama yang dimulai oleh Claudia.
“Beliau itu oma Claudia. Dia yang urus tentang hak asuh anak bila anda akan mengajukan banding. Jadi memang oma yang mengurus hak asuh kami. Dan sebelum Daddy kecelakaan dia mengatakan bila dia sakit atau pergi maka oma dan opa yang urus kami,” Nazwa menggunakan kata ganti anda untuk ibu kandungnya.
Sebenarnya Laura tak senang. Tapi dia merasa itu pantas untuk seorang ibu yang tak peduli pada anaknya.
“Saya ingin selama Syahrul sakit anak-anak ikut saya sebagai ibu kandungnya,” tetap saja Ida ngotot.
“Saya sebagai calon istri Syahrul tidak mengizinkan anak-anak saya ikut dengan anda,” akhirnya Laura langsung pasang badan untuk anak-anak.
“Kalau … sekali lagi kalau. Saya izinkan anak-anak ikut anda. Mereka akan anda bawa tinggal dimana? Mereka sekolah, bukan balita yang bisa dibawa kapan pun. Dan apa anda sudah tanya kemauan anak-anak? Anda pikir mereka tak punya kemauan dan kemampuan memilih?” lanjut Laura.
“Ade mau ikut ibumu?” tanya Laura lembut.
“Sampai kapan pun Ade enggak mau hidup dengan orang yang udah sakitin Daddy!” dengan ketus Fahri langsung bicara tegas.
“Kakak sudah lihat semua file yang teman Daddy kirim. Anda ninggalin kami saat Ade masih bayi. Kakak tahu sekarang Anda mengharap kami karena suami anda tidak bisa punya anak lagi. Maaf kami bukan ban serep!” Nazwa lebih kasar dalam bersuara.
“Kakak, enggak boleh begitu sayang,” Claudia berbisik pada Nazwa tapi jelas terdengar oleh Ida.
“Kakak lihat. Enggak sengaja lihat semua file dilaci Daddy Oma. Kakak tahu semuanya tentang dia. Kakak tahu semuaaaaa ….” Nazwa terisak karena dia juga tahu perselingkuhan Ida dengan suaminya yang sekarang.
“I know the abortion she had when she was in college before marrying my daddy,” pelan namun jelas Nazwa mengungkapkan fakta yang menikam jantung Ida dan Laura.
Ida malu karena keburukannya sudah diketahui anaknya. Sedang Laura sedih karena tak menyangka Nazwa menyimpan beban yang sangat menyakitkan baginya. Laura tahu Nazwa sangat terluka.
***
Pagi ini ilyas dan Namira membawa Nindi dan Ilham keluar. Namira ingin membeli peralatan makan untuk Ilham yang besok akan memulai MPASI. Dia ingin beli blender khusus juga beberapa panci kecil yang hanya akan digunakan untuk memasak bubur Ilham. Dia tak ingin alat-alat itu dicampur dengan alat dapur untuk masak lainnya.
Dan piring serta gelas makan bayi Ilham juga belum punya. Maklum ketika dia lahir tak ada seorang pun yang memberi kado. Karena dia lahir saat Namira sembunyi.
“Kita mau kemana Bund?” tanya Ilyas.
“Bunda jadi bingung. Tadinya ‘kan Bunda mau pergi sendiri mumpung enggak anter Teteh sekolah,” jawab Namira.
“Ke mall aja ya, biar bisa sekalian cuci mata,” jawab Ilyas sambil melajukan mobilnya ke arah mall.
“Teteh mau apa?” tanya Ilyas pada putri sulungnya.
“Lagi enggak ada yang dimauin Yah,” jawab Nindi. Namira memang mengajarkaan putri sulungnya untuk selalu hemat. Bila malam sebelum tidur, Namira selalu mengingatkan masa susah mereka. Itu sebagai acuan agar saat ini jangan aji mumpung.
“Nanti kalau ada yang dikepenginin bilang Ayah ya sayang?” Ilyas pun memberi tahu Nindi dia tak akan menolak bila putrinya butuh sesuatu.
“Iyaaaa Cintaaaa,” jawab Ilyas. Dia tahu tak boleh mendidik anak dengan boros.
Dengan manis Namira mengecup pipi Ilyas. “Curaaaaang … beraninya pas Ayah nyetir,” Ilyas malah komplain karena tidak bisa membalas aksi yang dilakukan Namira padanya.
Namira hanya terkekeh saja. Sejak dia tahu dia tak bersalah meninggalkan Wisnu, Namira memang sudah meyakinkan diri berjodoh dengan Ilyas. Dulu awalnya dia masih terbebani rasa bersalah pada Wisnu. Kekasih yang dia kira selalu setia dan jujur padanya. Sekarang sudah tak ada lagi keraguan untuk menerima cinta Ilyas.
Mereka pun langsung turun ketika sampai di mall. “Ayah apa boleh ke timezonee?” tanya Nindi. Dia ingin kewahana permainan.
“Boleh,” Namira langsung menjawab. Dia tak ingin Nindi tak punya pengalaman main di lokasi itu.
“Makasih Bunda,” Nindi memeluk Namira erat, padahal bibinya itu sedang memindah Ilham kedada Ilyas sesuai kemauan lelaki itu.
Mereka lebih dulu belanja sebelum nanti akan main ke arena permainan. Karena kalau sudah main nanti Nindi lelah dan rewel ketika diajak belanja. Maka bermain akan dilakukan menjelang pulang sesudah selesai belanja.
“Bagusan mana Yah?” tanya Namira pada Ilyas.
“Buat Ayah sih warna enggak penting. Yang penting fungsinya,” jawaban Ilyas bikin bad mood. Dia minta pendapat malah jawabannya seperti itu.
‘Tau gitu aku enggak perlu minta pendapat dia,’ lalu Namira pun memilih beberapa barang tanpa bertanya pada Ilyas. Dan secara sembunyi-sembunyi dia membayar semua kebutuhan Ilham saat Ilyas sedang memperhatikan stroller.
“Bunda kemana Teh?” tanya Ilyas saat dia ingin bertanya Namira memilih warna apa.
“Itu disana, dibangku tunggu. Sudah keluar dari kasir,” jawab Nindi yang sejak tadi tahu bundanya keluar dari area belanjaan.
‘Wah gawat, nyonya besar ngambeg!’ Ilyas pias melihat Namira yang duduk dengan tas belanjaan dan kardus-kardus elektronik yang sudah dia bayar.
“Ya sudah kita ke Bunda dulu Teh, habis ini kita mainan kalau Bunda enggak ada yang mau dibeli lagi.” Ilyas mengajak Nindi keluar. Dia menunda membeli stroller untuk Ilham.
“Koq keluar duluan Yank?” tanya Ilyas hati-hati.
“Ayo Teh, katanya mau ke timezonne,” Namira menggandeng Nindi meninggalkan super market. Dia bawa semua yang dia beli barusan.
Ilyas serba salah. Dia bingung menghadapi perempuan yang sedang ngambeg itu. Di lokasi permainan Ilham ingin menyusu. Namira mengambil alih jagoannya, memakai apron khusus menyusui, dia memberi ASInya pada Ilham. Sementara Ilyas mengambil semua belanjaan untuk dia masukkan dimobil terlebih dahulu.
\=========================================================
Haiiiiiiiiiiiiiiiiii
Yanktie punya cerita baru di noveltoon
mampir kesana ya, judulnya BETWEEN QATAR and JOGJA
ceritanya tentang AUREL yang harus berusaha tegar setelah suaminya Raditya meninggal. mereka punya dua anak yang harus dia urus, belum lagi empat toko kue miliknya dan perusahaan keluarga milik kake Radit
Mampukah Aurel bertahan?
apa dia akan menerima cinta baru lelaki asal India yang bekerja di Qatar?
=============================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta