
“Jangan macem-macem. Aku laporin Uni lho,” Julia tersenyum mengetahui Harun menggodanya.
“Percuma, orangnya ada di depan Uda,” jawab Harun yang saat menerima telepon sedang di ruangan Fanny.
“Wah, aku laporin Boss nih, jam kerja pacaran,” Julia makin menggoda ketika Harun bilang saat ini dia sedang bersama Fanny.
“Di ruang Uda atau ruang Uni?” tanya Julia penasaran.
“Di ruang Uni,” jawab Harun.
“Tunggu aku disitu, aku on the way. Siapin perkedel jagung yaaaaa,” Julia langsung menuju ruang Fanny. “Uda, sekalian berkas yang aku minta ambil dulu di ruangan Uda.”
“Kenapa mukamu seperti lap pel belum dibilas?” tanya Fanny saat Julia masuk ke ruangannya dia, sementara Harun sedang mengaambil berkas yang dia minta.
“Tunggu, aku mending makan perkedel dulu sebelum menjawab pertanyaanmu. Sekalian nunggu Uda karena jawabannya ada di berkas yang akan Uda bawa.” Julia langsung mengigit perkedel jagung manis kesukaannya.
“Kenapa bawa-bawa Uda?” tanya Harun yang mendengar namanya terkait dengan wajah jutek Julia. Sejak kembali dekat dengan Fanny, Harun yang anak tunggal menganggap Julia sebagai adiknya. Fanny tahu itu dan tidak keberatan. Julia yang anak sulung tentu senang mempunyai kakak lelaki.
“Uda inget kemarin bilang apa ke aku waktu aku hanya minta partial berkas itu?” tanya Julia sambil menyesap hot choco yang disediakan Fanny. Biar siang sekali pun, kalau disiapkan hot choco Julia tak pernah menolak.
“Ingetlah, Uda bilang nanti akan bingung kalau baca hanya bagian revisinya saja. Harus lihat keseluruhan untuk mendalami latar belakang revisi,” balas Harun.
“Sebelum aku minta ke Uda, aku sudah katakan seperti itu ke Big boss. Tapi dia bilang enggak perlu. Dia ngotot bilang, hanya ingin lihat bagian yang direvisi saja. Dan barusan dia ngomel karena bingung mau lihat keterkaitan dengan penjabaran sebelumnya. Lalu dia minta keseluruhan berkas. ‘Kan bikin aku naik darah aja!” dengan kesal Julia bercerita persoalan yang bikin dia naik darah.
“Kasihannya adek Uda. Gimana kalau sekarang kita makan siang duluan?” tanya Harun.
“Ayok Uni, kita makan duluan aja,” Julia menyetujui ajakan Harun dan mengajak Fanny yang sekarang juga telah kembali resmi bertunangan dan akan menikah 4 bulan lagi.
“Aku banyak kerjaan. Kalian makan berdua saja dan jangan lupa bungkusin kami. Gimana?” Fanny sedang banyak berkas yang harus dia teliti karena mau akhir bulan. Dia harus hitung kehadiran serta memeriksa daftar lembur para pegawai untuk dia serahkan ke bagian keuangan.
“Yaaaaah, Uni mah gitu,” rajuk Julia.
“Sudah cepat kalian keluar makan, aku dan teman-teman menanti makan siang kami disini. Nanti semua aku suruh makan diruanganku saja,” Fanny menyuruh keduanya segera berangkat beli makan siang untuknya.
“Ya udah ayok kita berdua beli makan aja, nanti kita juga ikut makan disini aja,” Harun mengajak Julia untuk keluar beli makan siang untuk dirinya dan genks lima sekawan.
Tanpa buang waktu Julia segera keluar berdua dengan Harun. “Da, kalau habis ini ada rumors kita lagi pedekate jangan aneh ya, Uda dan aku ‘kan enggak pernah jalan berdua lawan jenis, selama kita kerja disini.”
Harun tertawa renyah, dia mengacak-acak rambut Julia gemas, lalu mereka masuk ke lift. Tak mereka duga, ada beberapa pasang mata yang memandang kedekatan mereka dengan tatap berbagai makna tergantung isi otak pemilik mata tersebut.
“Udaaaaaaaaaa … bikin aku hilang pasaran kalau rambutku acak-acakan,” tentu saja Julia protes pada Harun.
Belum sempat Julia menjawab, ponselnya bergetar. Ada notifikasi chat dari Bastian. ‘Kamu dimana Honey?’
‘Baru mau keluar makan berdua dengan pak Harun,’ Julia menjawab jujur. Dia takut Bastian ngecek ke teman-teman genksnya kalau dia tak jujur.
Bastian langsung diam tak membalas chat Julia. Dia tahu tunangannya jujur keluar makan dengan Harun. Tapi mengapa? Mengapa dirinya ditinggal? Mengapa tidak dengan teman-teman lima sekawannya?
“Uda, kita beli makannya buat tujuh orang ya? Biar sekalian aku belikan big boss. Aku malas kalau nanti dia minta dibelikan makan,” Julia memberitahu Harun akan sekalian membeli makanan untuk Bastian.
“Siaaaaap,” jawab Harun. Mereka telah sampai di rumah makan yang dituju. Karena belum waktu makan siang, rumah makan relative belum terlalu ramai.
Julia memesan sesuai kegemaran masing-masing temannya juga Bastian. Dia khusus membeli juice mangga untuk Bastian sementara teman lain tak ada yang dia belikan minuman. “Uda biar aku yang bayar,” Julia mengeluar uang dari dompetnya lebih dahulu dan menyerahkan ke kasir.
“Lhoooo, biar saja Uda yang bayar,” Harun baru sadar dia telat. Karena dia sedang menjawab email dari konsumen saat pesanan selesai.
‘Aku on the way balik ke kantor. Tolong belikan aku lemon tea dengan sedikit es ya,’ Julia mengirim chat di groupnya.
‘Mau makan bareng enggak Yank? Aku baru sampai parkiran. Kalau mau, aku tunggu di ruangan Fanny ya,’ Bastian membaca chat dari Julia. Dia tersenyum. Sirna sudah amarahnya karena melihat tadi Julia keluar bersama Harun.
‘A’a turun sepuluh menit lagi ya Honey, biar pas kamu sudah disana. Enggak enak kalau A’a duluan sampai. Nanti A’a bingung,’ Bastian segera menjawab chat kekasih hatinya.
***
“Kemarin saya sudah memeriksa sidik jari di TKP ( tempat kejadian perkara ) yang dilaporkan oleh bu Laura. Beliau curiga ada yang masuk ruangannya. Walau tak ada barang berharga yang hilang, tapi berkas sketsanya banyak yang dipegang-pegang oelh penyusup,” Toha membuka pembicaraan serius di butik Laura. Semua sengaja dipanggil oleh Laura dan tak ada satu pun yang bekerja.
“Kami pihak kepolisian juga bekerja sama dengan warga lingkungan dan mendapat rekaman CCTV dari pemilik beberapa bangunan disekitar butik ini. Jadi maaf, dengan terpaksa kalian akan saya periksa di kantor kepolisian bila nama kalian lah yang tersangkut dengan persoalan ini,” Toha membuka berkas dalam map yang dia bawa.
Sementara Laura dan Adnan duduk terpisah. Laura masih tak percaya ketika melihat rekaman CCTV juga hasil sidik jari di TKP yang dicocokkan dengan sidik jari semua pegawai yang diambil Toha beberapa hari lalu saat dia melaporkan kejadian ini.
Toha menyalakan laptop yang dia bawa lalu mulai memutar video yang dia dapat dari rekaman CCTV beberapa gedung sekitar butik. Disana terlihat seorang pegawai senior yang keluar bersama seorang asing yang bukan pegawai, tapi merupakan saudara dari pegawai di butik juga. Mereka saling berbisik tak percaya dengan apa yang terpampang.
\===========================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta