TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
PINGSAN LAGI



SELAMAT MEMBACA



“Pak RT terima kasih. Nanti barang-barang kedua penumpang gelap dirumah saya ini akan saya titipkan di rumah pak RT saja. Karena saya tidak sudi rumah saya dimasuki pasangan me-sum tak bermoral ini,” dengan keras Almi sengaja bicara agar semua mendengar karena saat itu Anna dan Halim sudah keluar dari pintu rumahnya. Halim jelas mendengar semua yang Almira katakan. Satu-satunya perempuan yang dia cintai sejak SMA. Bahkan di kampus banyak yang mengejarnya, dia tetap setia pada Almira seorang.


Misah langsung masuk kekamar mandi dan membuka pakaiannya. Dia memang melapisi baju kesehariannya sehingga sejak tadi merasa gerah.


Bu RT dan beberapa rekan segera masuk kerumah Almira ingin tahu.


“Ibu terima kasih bantuannya,” Almira langsung menyampaikan ucapan terima kasih pada bu RT.


“Sami-sami. Kita memang harus saling bantu atuh Neng,” sahut bu RT.


“Punten Bu, tukang yang saya minta sudah ada?” tanya Almi. Semalam dia minta bu RT mencarikan tukang untuk mengganti handle pintu rumahnya. Antisipasi bila Anna atau Halim masih ingin masuk dan mereka punya kunci cadangan.


“Ada. Sudah datang koq,” sahut bu RT sambil keluar memanggil seorang yang sejak tadi jongkok di seberang jalan.


“Ibu-ibu, punten. Saya sambi ya. Saya mau ganti baju dulu. Ini dengarkan aja kejadian selengkapnya,” Almi tahu para ibu penasaran dengan kejadian didalam tadi. Dia menyalakan ponselnya yang merekam semua pembicaraan. Dia ingin berita ini tersebar dan membuat Anna makin malu.


***


“Kamu kenapa Lan? Koq bisa sampai drop?” Nenden mulai menyelidiki menantunya. Mereka hanya berdua diruang rawat. Karena August ditemani Prabu pergi ke rumah untuk mengambil pakaian. Prabu memerintah mereka menggunakan mobilnya diantar sopir karena dia melihat anaknya kurang tidur.


“Enggak apa-apa Mi. Enggak apa-apa,” Wulan mencoba menghindar pertanyaan ini. Dia tak siap mengatakan pada mertuanya.


“Bilang aja, jangan kamu pendam. Kasihan cucu Mami kalau kamu sedih,” bujuk Nenden sambil mengusap lengan menantunya lembut.


Mendengar kata-kata Nenden ‘cucu mami’ membuat Wulan menangis. Dia sadar sebentar lagi dia tersisih dari orang-orang yang sayang dan peduli pada dirinya dan bayi dalam perutnya.


“Eh, jangan nangis. Ya sudah kalau belum siap cerita ke Mami. Tapi jangan sedih. Kasihan Dedenya,” Nenden memeluk Wulan dengan tulus.


“Mas August Mi. Mas August akan kembali dengan mantannya,” sahut Wulan sambil terisak dan tak lama dia pingsan lagi.


Nenden langsung menekan bel memanggil petugas medis. Dia juga langsung mengambil ponselnya.


“Kembali ke rumah sakit Pi. Wulan pingsan lagi,” Nenden langsung bicara tanpa menjawab salam yang suaminya berikan.


“Mas Hendi, kita balik ke rumah sakit sekarang juga,” Prabu langsung memerintah drivernya untuk segera balik arah.


“Ada apa Pi? Kenapa kita balik lagi? Mami kenapa?” tanya August penasaran.


“Wulan pingsan lagi,” jawab Prabu pelan.


“Sia-lan. Aku enggak akan melepaskanmu Vallen!” desis August. Dia sangat benci dengan mantannya. Karena kata-katanya pasti didengar oleh Wulan dan membuat istrinya sangat terluka.


Sampai di halaman rumah sakit August langsung berlari.


“Mas August,” Laura bingung melihat August yang terburu-buru.


“Mau ke butik. Siapa yang sakit?” tanya Laura.


“Istriku, sejak semalam. Dan barusan dia pingsan lagi,” sahut August.


“Ya sudah sana. Nanti sehabis dari butik aku akan mengunjungi ruang rawat Wulan. Aku juga terburu-buru janjian dengan konsumenku,” Laura menepuk lengan August bersimpati dan August langsung berlari lagi ke ruang rawat istrinya.


***


“Bisa kita bicara diluar?” pinta dokter Krisna pada Nenden. Saat mereka keluar kamar August pas masuk.


“Bagaimana Wulan Mi?” tanya August dengan napas terengah.


“Ini Dokter jiwa ingin bicara dengan kita,” sahut Nenden pelan.


“Saya tidak tahu awal ceritanya. Yang saya tahu saat ini bu Wulan sangat terluka dan sangat ketakutan sehingga membuat dia seperti ini. Nanti saya akan banyak bercerita dengannya bila dia sudah sadar. Pastinya tahap awal saya akan gunakan hipnotherapi untuk mengetahui dasar ketakutannya ini,” dokter Krisna, dokter jiwa senior dirumah sakit ini memulai pembicaraan dengan August dan Nenden.


“Saat ini saya minta jangan ada yang menanyakan apa penyebab dia terluka. Dan kalau bisa orang yang membuat dia terluka jangan ada didepan matanya bila dia tidak minta. Ini untuk mencegah dia kembali pingsan dan membuat asupan oksigen pada bayi berkurang,” lanjut dokter Krisna.


“Barusan saya memberi suntikan agar dia relaks. Itu akan membuat dia tidur minimal enam jam dari sekarang. Jadi kalian bisa atur waktu selama enam jam dia tertidur. Nanti malam saya akan datang untuk hipnotherapi agar segera kita mengetahui penyebab dia terluka saat ini,” dokter Krisna pun pamit pada Nenden, August dan Prabu yang baru saja tiba.


“Memang tadi bagaimana Mi koq bisa dia pingsan lagi?” tanya Prabu penasaran.


“Dia seperti kosong. Diem aja. Maka Mami berinisiatif tanya. Kamu kenapa? Dia jawab enggak apa-apa. Enggak apa-apa, gitu aja terus. Nah Mami bilang, kamu jangan sedih, kasihan cucu mami. Dia langsung nangis dan seperti sedih banget. Mami peluk dia. Mami bilang ya udah kalau belum siap enggak usah cerita sekarang,” Nenden pun ikut sedih mengingat bagaimana Wulan terisak lalu pingsan.


“Dia lalu bilang, mas August Mi. Mas August mau balikan ama mantannya. Udah aja habis itu dia langsung pingsan,” jawab Nenden dengan pandangan marah pada August yang dia anggap penyebab kejadian ini.


“Gust, cerita ke Papi. Apa yang bikin rumah tanggamu yang baru aja dua minggu udah kayak gini,” pinta Prabu. Dia tak mau salah langkah karena dia tahu anaknya tak pernah mendua bila telah berpasangan. Tentu pengecualian ketika selingkuh dengan April.


August duduk di kursi teras ruang rawat. Dia sangat benci mengingat awal kejadian siang kemarin. Dia menceritakan semuanya secara rinci sejak dia mengirim chat pada Wulan dan kedatangan Wulan di cafe serta pencarian yang dia dan paklek lakukan. Tak ada yang August tutupi.


“Kalau begitu sekarang kamu pulang Gust. Ambil baju gantimu juga baju Wulan. Masih ada lima jam dari jadwal dia bangun. Dan mulai dia sadar, seperti yang dokter bilang, kamu jangan ada didepannya kalau tak dia cari. Biarkan dia enggak lihat kamu dulu biar dia cooling down,” dengan bijak Prabu memberi arahan pada putranya yang sedang terpuruk


“Kamu pulang dengan mas Hendi aja. Jangan nyetir sendiri,” Nenden pun memberitahu August. Dia tahu putranya selalu jujur. Jadi tak mungkin merekayasa cerita tadi.


“Iya Mi, August pulang dulu. Sekalian ambil charger ponsel karena ponsel kami sejak kemarin belum di charge,” August pun salim dan bersiap pulang dengan driver.


***


============================================================= 


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta