
Sore ini August berniat datang lebih cepat ke kantor Julia. Kemarin sore dia menunggu sejak pukul 16.00 hingga pukul 19.00. Namun sosok mantan tunangannya tak pernah dia lihat keluar dari kantor itu. Sore ini, ups … hari ini dia akan menunggu Julia sejak siang bukan sore. Karena hari ini dia sedang off, kemarin dia baru bebas tugas. Setangkai mawar sudah dia siapkan untuk pertemuan sore ini.
Sementara Bastian yang sejak pagi belum juga bisa menghubungi Julia makin pusing. Akhirnya karena putus asa dia menghubungi pak Sanusi Prawira, ayah Julia. “Kenapa?” tanya ayah Julia ramah setelah Bastian bertukar salam dan basa basi saling menanyakan khabar.
“Saya tidak tahu Yah, kemarin sebelum masuk ruang meeting, kami masih baik-baik saja. Habis makan siang bersama dengan kedua orang tua saya. Lalu saya salat terpisah sedang dia menyiapkan berkas. Saya masuk ruang meeting, dia langsung marah dan keluar. Bahkan dia tidak membawa berkasnya. Lalu sejak itu dia tidak bisa saya hubungi. Saya tanya teh Imah, AYA memang pamit tidak pulang, tapi tidak mengatakan akan menginap di mana,” Bastian menceritakan semua tanpa menutupi apa pun. Memang Bastian mulai memanggil Julia dengan sebutan sayang AYA, bukan YAYA seperti panggilan Apa’ nya.
“Saat kamu masuk ruangan, dia sudah di dalam. Apa yang kamu lakukan?” tanya ayah Julia. Bastian berpikir keras dan mengingat saat dia masuk ruang meeting kemarin.
‘Shit, kemarin Seruni sengaja mepet dirinya dan mengelus lengannku dengan pukulan manja. Apa itu yang membuat AYA marah padaku?’Bastian menduga-duga. “Saya kurang jelas apa yang terjadi, karena saya masuk berbarengan dengan beberapa pegawai lalu meeting dimulai.” balas Bastian. Dia tak mau menceritakan perlakuan Seruni yang mungkin menyebabkan Julia cemburu.
“Kita tutup dulu ya. Ayah akan coba tanya ke rumah paman Engkus. Nanti Ayah kabari,” pak Sanusi menduga, Julia ada di rumah adik istrinya di Lebak Bulus. Karena famili mereka di Jakarta yang benar-benar akrab hanya Engkus adik iparnya itu. Engkus tidak mempunyai anak sejak anak pertamanya meninggal di usia 4 tahun. Julia sangat dekat dengan bibiknya itu. Dan paman serta bibiknya tidak bekerja di kantor, mereka mempunyai toko sembako dan bensin eceran. Sehingga kapan pun Julia ingin bertemu, tentu mudah karena tidak terganggu jam kantor.
Saat akan makan siang, Bastian mendapat chat berupa alamat lengkap rumah paman Julia dari calon ayah mertuanya. Tanpa membuang waktu Bastian bergegas mematikan laptopnya dan segera bersiap menuju rumah paman Engkus di Lebak Bulus. ‘Gigih juga,’ Bastian kaget melihat August baru saja keluar dari mobilnya dan menuju ke resepsionis di lobby, mungkin dia akan menanyakan apakah Julia ada di ruangannya atau tidak.
‘Apa dia sengaja menunggu jadwal makan siang, sehingga bisa menemui AYA saat jam istirahat?’Bastian kembali menduga-duga apa maksud August yang siang ini dia lihat sudah berada di kantornya. Bastian tentu tahu August, karena sejak 2 tahun lalu dia menjadi stalker Julia. Sedang August tentu tak mengetahui siapa Bastian. August hanya tahu, big boss Julia bernama Bastian, hanya dia belum pernah melihat sosoknya.
‘Bodo amat lah, yang penting sekarang aku segera menemui AYA ku di Lebak Bulus,’Bastian segera menyalakan mesin mobilnya. Hatinya berbunga-bunga.
“Selamat siang, apa saya bisa bertemu ibu Julia Bestari?” tanya August pada resepsionis yang sedang bertugas.
“Saya cek dulu ya Pak,” jawab petugas sambil menghubungi extension Julia. Karena tak ada jawaban, maka petugas menghubungi resepsionis CEO untuk menanyakan info keberadaan sekretaris CEO itu.
“Maaf Pak, ibu Julia sejak pagi belum terlihat datang.”
“Apa sedang tugas dengan Direktur,” tanya August.
“Tidak Pak, pak Bastian baru saja pergi dan beliau sendirian tanpa ditemani ibu Julia.”
“Baik, terima kasih,” August pun pamit. ‘Kamu ke mana?’
August makin kesal mendengar lagu lawas dari radio di mobilnya yang terdengar mewakili suasana hatinya kali ini.
Bilakah
Bilakah saatnya
Kita ‘kan hidup bersama
Tak ‘kan terpisah lagi
Tak ‘kan terasa sepi
Seperti saat yang begini …
***
Bastian sedang mencari nomor rumah yang diberitahu oleh pak Sanusi yang dia klaim sebagai calon mertuanya. Tak sengaja dia melihat mobil Julia parkir di bawah pohon waru, di sebelah toko sembako yang cukup besar. Dia meyakini itu pasti rumah paman Engkus.
“Assalamu’alaykum,” sapa Bastian sopan. Dia melihat selain pembeli, ada 4 orang di toko itu.
“Saya mencari Julia,” jawab Bastian.
“Eh, kamu Bastian?” tanya lelaki itu.
“Muhun ( iya, benar ),” jawab Bastian sopan.
“Tadi Kang Uci sudah memberitahu sayah, kamu teh mau datang,” jawab lelaki itu lagi.
‘Ternyata ayah Sanusi dipanggilnya UCI,’Bastian membatin saja. Bastian menurut saja diajak masuk ke belakang oleh mang Engkus, demikian tadi mereka berkenalan.
“Neng, ini ada yang nyari,” seru mang Engkus, Julia kaget melihat Bastian yang diantar masuk oleh pamannya. Bastian menyalami bibiknya Julia dengan hormat sebelum dia mendekati Julia. Julia dan bibiknya sedang menimbang terigu. Dari karungan dipindah ke plastik ukuran 1kg dan 500gr.
“Duduk, enggak perlu salam, tangan bibik kotor,” awalnya bibik Fatma menolak saat Bastian akan menyalaminya. Namun Bastian bilang enggak apa-apa, sehingga Bastian tetap mencium tangan bibik Julia tersebut.
“Neng, bikinkan minum sanah, ajak ngobrol di belakang, biar enggak gerah,” bik Fatma mengerti, pasti ada hal penting yang akan diselesaikan oleh keduanya.
“Ayo A’ ke belakang,” ajak Julia yang sudah membawa 2 gelas es cendol dan cemilan dalam nampan.
“Saya ke belakang dulu Bik,” Bastian pun bangkit dan pamit pada bibik Julia yang masih menimbang terigu dibantu seorang pegawainya.
Julia meletakkan nampan yang dia bawa ke sebuah gazebo dekat kolam ikan patin yang memang dipelihara pamannya di kebun belakang rumah. Setelah itu baru dia melepas sandalnya dan naik ke gazebo yang dibuat panggung itu.
“Silakan minum,” dengan datar Julia mempersilakan Bastian minum, perempuan itu tidak mau memandang wajah Bastian sama sekali.
“Kamu kenapa Yank? Kamu marah ama A’a? A’a salah apa? Bukankah kita sudah berjanji akan saling mengenal dan akan selalu berkata jujur. Kalau kamu pergi menghindar tanpa memberitahu ada masalah apa, bagaimana A’a harus bersikap?” Bastian dengan sabar bertanya, dia menggeser duduknya agar bisa berada tepat di depan Julia.
“Jangan nunduk begitu, pandang A’a dan katakan ada apa?” pinta Bastian lembut sambil memegang kedua tangan lembut Julia.
‘Aku memang salah menghindar darinya, tapi aku kesal dan butuh waktu,’Julia hanya bisa membatin. Dia mengangkat wajahnya dan menatap mata Bastian yang mengirim sinyal rindu pada matanya.
“Please tell me, what happen?”tanya Bastian, karena sejak tadi Julia hanya memandanginya saja.
“Enggak ada apa-apa,” jawab Julia lirih.
“Kalau enggak ada apa-apa, mengapa sejak kemarin kamu matikan ponselmu dan kamu menginap di sini tanpa ada seorang pun yang tahu? Bahkan bubu dan yayahmu enggak kamu beritahu kamu nginap sini,” Bastian langsung menjawab telak membuat Julia sadar kalau pasti ayah dan ibunya kalang kabut saat Bastian menanyakan di mana dia berada.
‘Bodoh, mengapa aku tak berpikir dia akan cari info ke yayah dan bubu? Pasti yayah dan bubu bingung saat A’a bilang tidak bisa menghubungiku sejak kemarin dan aku tak ada di rumah!’
=================
Yah si eneng kemaren bertindak tanpa pikir panjang sih, jelas kan si eneng udah cinta ke kang Tian? buktinya dia cemburu!
Ikuti kisah serunya di episode selanjutnya ya, jangan lupa tinggalkan jejal like serta setangkai mawar agar yanktie lebih semangat nulis lanjutannya
TERIMA KASIH
Salam manis dari Sedayu Jogjakarta dan semoga kita semua selalu sehat