
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Namira dan Ilyas tiba di cafe seberang rumah sakit Persada dua puluh menit sebelum jam sembilan pagi. ‘Saya sudah di cafe,’ Namira mengirim pesan pada nomor Wiwin yang kemarin Nadia berikan.
‘Tunggu sebentar,’ balasan dari nomor Wiwin segera masuk. Namira tidak tahu yang mana Wiwin. Sehingga setiap ada perempuan muda masuk dia akan memperhatikannya. Sebaliknya, Wiwin tahu sosok Namira, karena sering lihat perempuan itu berjalan dengan tunangannya.
“Ayank mau pesan kopi?” tanya Namira lembut.
“Beli beberapa kue deh, minumnya coklat panas aja,” jawab Ilyas. Sesekali dia membalas salam suster atau dokter yang menyapanya. Ini di lingkungan rumah sakit Persada. Tentu saja banyak yang mengenal dokter Ilyas disini.
Namira pun mengambil piring dan meletakkan beberapa jenis kue basah yang tersedia. “Minta hot milk choco dua gelas ya Mbak,” pesan Namira pada kasir sambil membayar bill yang terlihat di mesin.
“Baik, minumnya akan kami antar ke meja anda,” jawab kasir sambil menerima kembalian.
Jangan aneh bila sekarang Ilyas hanya duduk dan membiarkan Namira yang memesan. Sejak mereka tunangan memang Ilyas sudah memberikan Namira kewenangan penuh mengelola uang harian rumah tangga mereka. Sepulang dari Bogor, Ilyas langsung memberikan amplop belanja bulanan. Biasanya dia memberi bik Iyah seminggu sekali. Tapi pada Namira dia memberikan untuk satu bulan sekalian.
“Hai, Mira?” sapa seorang perempuan muda manis yang menghampiri Ilyas dan Namira.
“Wiwin?” tanya Namira untuk meyakinkan.
“Benar, kamu enggak kenal saya? Kita satu sekolah ketika SMP. Tapi saya tidak ke SMA, melainkan ke SMK,” jawab Wiwin.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Namira ramah.
“Enggak. Aku baru sarapan dan ini bawa minum,” jawab Wiwin cepat.
“Win, saya minta maaf ya. Serius selama berhubungan dengan Wisnu, saya tidak tahu dia sudah tunangan. Kalau tahu saya tentu enggak bakal mau jadi pelakor,” Namira langsung minta maaf atas kesalah pahaman ini.
“Harusnya saya mendatangi kamu dan memberitahu pertunangan kami. Tapi saya enggak berani. Saya yang pelakor karena saya yang hadir belakangan,” jawab Wiwin memegang erat tangan Namira.
“Dikeluarga, Wisnu janji akan memutuskan hubungan dengan kamu sesudah kami bertunangan. Tapi dia enggak melakukan hal itu. Dia tetap aja pacaran dengan kamu,” lanjut Wiwin.
“Nah disitu kamu salah. Harusnya saat melihat Wisnu berdua dengan Namira, kamu mendatangi mereka dan menegur Wisnu karena dia berbohong terhadap janjinya ke orang tua kalian,” Ilyas memberi masukan.
“Saat itu saya takut bila Wisnu marah dan malah menuduh saya yang mengejar hartanya.” balas Wiwin.
“Sekarang kita sudah sama-sama mengerti kesalah pahaman kita. Semoga kedepannya kamu enggak salah paham dengan saya. Kamu tahu saya menghilang dari Wisnu ‘kan? Itu artinya saya enggak akan pernah mau kembali ke dia. Jadi sebelum saya tahu kelicikannya, saya sudah tidak berniat kembali pada Wisnu,” Namira menekankan tidak mau kembali pada Wisnu agar Wiwin tak salah duga lagi padanya.
“Iya, maafkan saya yang sempat berburuk sangka ya. Saya pikir kamu masih aja mau dengan Wisnu padahal tahu dia sudah tunangan,” clear sudah permasalahan antara Wiwin dan Wisnu.
“Sekarang saya akan janjian dengan Wisnu. Nanti kamu dan tunangan saya mendengarkan dibelakang kami ya. Dan kamu muncul disaat yang tepat,” Namira memberitahu rencananya pada Wiwin.
“Yank, pinjam ponselmu boleh?” tanya Namira.
“Buat apa?” mulut Ilyas bertanya tapi tangannya memberikan ponselnya.
“Aku mau telepon Wisnu dengan nomormu, agar kalau dia menyimpannya, ya nomormu yang ke save. Aku enggak ingin dia tahu nomorku,” sahut Namira dengan senyum liciknya. Dia memencet nomor yang Nadia berikan kemarin dan dia speaker agar Wiwin dan Ilyas mendengarkan pembicaraan mereka.
“Hallo,” suara tegas terdengar menjawab panggilan yang Namira lakukan.
“Assalamu’alaykum,” sapa Namira.
“Mira … sayank, kamu telepon aku. Kamu dimana?” Wisnu langsung mengenali suara Namira. Tanpa ragu Wisnu langsung menyebut Namira dengan panggilan SAYANK.
“Aku di rumah sakit Persada. Bisa ketemu?” tanya Namira dengan berupaya terlihat santai.
“Boleh, dimana? Aku sedang di apotik, nanti antar obat dulu ke IGD baru kita ketemuan ya?” Wisnu langsung menyetujui ajakan Namira.
“Tiga puluh menit lagi di kantin belakang ya,” Namira langsung menutup sambungan telepon tanpa memberi salam.
Mereka bergegas keluar dari cafe dan menyebrangi jalan menuju rumah sakit. Wiwin dan Ilyas akan mencari posisi aman terlebih dahulu.
Wisnu datang lebih dulu dari Namira yang masih sembunyi. Dia menghubungi nomor ‘Mira’ yang tadi menghubunginya. Ilyas hanya tersenyum dan tidak mengangkatnya.
‘Dia sudah dua kali menghubungi nomorku,’ Ilyas langsung mengurum chat untuk Namira.
“Sudah lama?” tanya Namira saat dia masuk kantin. Wisnu sudah memesankan juice alpokat untuk Namira dan juice mangga untuk dirinya sendiri. Namira melihat posisi Wisnu dan Wiwin agak jauh. Dia sengaja menghubungi ponsel Ilyas agar mereka mendengar semua yang dia bicarakan. Tujuannya agar Wiwin bisa datang tepat waktu. Jangan asal datang tanpa tahu isi pembicaraan Namira dan Wisnu.
“Enggak. Baru aja koq. Nunggu kamu biar seharian juga enggak lama koq,” balas Wisnu yang langsung berdiri ingin memeluk Namira. Namun Namira menolaknya.
“Kamu kemana aja? Aku kehilangan kamu, kangen banget, sampe bingung cari kamu. Aku minta Nadia terus cari info tentang kamu,” Wisnu memberondong Namira dengan pertanyaan.
“Serius kamu nyariin? Selama aku enggak ada pasti sudah banyak pengganti ‘kan?” tanya Namira seakan merajuk.
“Kamu tahu, kamu tu satu-satunya yang aku cinta. Aku enggak pernah bisa gantiin kamu ama yang lain. Kamu tahu itu sejak dulu Yank,” Wisnu dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa hanya Namira yang ada dihatinya.
“Sampai sekarang, selama aku enggak ada. Beneran enggak ada perempuan lain?” tanya Namira lagi memastikan.
“Serius cuma kamu dihati aku. Selama enggak ada kamu ya aku jomlo. Enggak pernah sekali pun cari pengganti kamu. Karena saat coba nyari pengganti, enggak pernah ada yang bisa isi kekosongan hati aku. Disini cuma ada kamu,” Wisnu memegang jemari Namira dan dia letakkan didadanya.
“Bener ya, cuma ada aku?” pancing Namira lagi.
“Honey, koq ada disini?” sapa seorang perempuan cantik sexy dengan rok super pendek, yang dipadu dengan atasan model krah sabrina yang bagian lehernya diturunkan hingga kelengan sehingga bahunya terekspose.
Wisnu kaget mendapat sapaan perempuan itu. Sementara Wiwin yang tadi hendak menampakan diri jadi urung melihat ada figuran datang tak sesuai skenario.
“Hai, kamu pacarnya Wisnu?” sapa manis Namira pada perempuan itu tanpa rasa cemburu. Wisnu gugup melihat reaksi Namira.
“Iya, lebih tepatnya calon istrinya. Saya Leoni, Wisnu janji segera menikahi saya,” jawab gadis itu dengan percaya dirinya.