
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\======================================================================
“Amah enggak dianggep gituh?” bu Tuti protes melihat Bastian terus memeluk Julia.
“Makasih Amah kejutannya. Ade sukaaaaaaaa banget,” Bastian memeluk mamanya erat dan mengecup pipi perempuan yang sangat mengerti dirinya itu.
Akhirnya semua mengucapkan selamat ulang tahun untuk Bastian.
“A’a makan dulu ya, badan sampe kurus gini sih,” Julia komplain melihat badan Bastian yang sedikit kurus.
“Tiap hari enggak mau makan malam tuh Ya, udah Apa’ bilangin tetep aja susah,” pak Achdiyat mengadukan kebiasaan Bastian bila jauh dari Julia.
“Ih, Apa’ ngadu,” ejek Bastian. Dia tak mau menerima nasi dan lauk yang diberikan gadis itu. Dia kangen disuapi.
Julia tahu kemauan kekasihnya. Walau tak diucap, dia bisa melihat keengganan Bastian menerima piring yang dia sodorkan. Julia mencuci tangan lagi lalu menyuapi Bastian dengan tangan.
“Uncle enggak malu,” Topan langsung mengejek pamannya. Guntur mengangguk menyetujui pendapat kakak kembarnya itu.
“Iya Kak, dia enggak malu sama kalian ya?” bu Tuti menguatkan ejekan cucunya. Tapi dia bahagia melihat bagaimana telatennya Julia pada putranya.
“Besok potong ya ini sedikit,” Julia menyentuh dagu Bastian dengan tangan kirinya yang bersih. Dan lelaki gagah itu hanya mengangguk sambil terus memandangi wajah perempuan yang bisa menjungkir balikkan dunianya.
***
Sehabis makan, mereka memotong tart. Julia tidak makan malam. Dia ingin makan black forrest banyak saja. Sama seperti Bastian, Julia juga sangat menyukai tart black forest.
“Habis ini kalian jangan lupa ganti baju, cuci kaki lalu tidur ya,” bu Tuti biasa memberi kedua cucunya waktu satu jam sehabis makan untuk mereka tidur.
“Kita makan kue didepan ya, Apa’ mau bicara dengan kalian,” Achdiyat berjalan meninggalkan meja makan. Dia meminta Julia dan Bastian bicara dengannya.
Julia membawa tart ke meja depan. Dia juga menyiapkan gelas dan spritee yang memang disiapkan bu Tuti untuk malam ini.
“Babe, bawain piring-piring kecilnya,” pinta Julia pada Bastian.
Bastian duduk sangat rapat dengan Julia, seakan dia takut Julia hilang menguap bila tak dia genggam.
“Kalian sudah dewasa. Apa dan Amah baru tahu persoalan ini versi masing-masing. Mari kita gabung dan kita tuntaskan persoalan ini. Sehabis persoalan ini selesai. Apa tidak mau kamu Yaya menunda. Apa’ akan langsung melamarmu dan seminggu setelah lamaran kalian menikah. Agar tak ada lagi kasus seperti ini,” tegas tapi lembut seperti biasa Achdiyat bicara tanpa bisa dibantah.
Bastian dan Julia tak bisa membantah lagi. Mereka harus patuh pernikahan mereka segera dilaksanakan.
Lalu Bastian mulai bercerita saat dia sedang rapat menerima foto dan seterusnya. Julia pun bercerita hal yang sama sampai dia sembunyi di rumah Bastian.
“Aku sudah bilang ke Amah, itu foto baru dan bukan foto editan. Kaos itu kan kita beli hari pertama kita jalan di Singapore Babe.” Julia menampik pendapat Bastian kalau yang mereka terima adalah foto editan.
“Tapi aku enggak pernah tidur ama dia Honey,” balas Bastian. Dia sangat takut dituduh selingkuh.
“Tapi kamu pernah tertidur di apartemen Wilson. Apa kamu bisa perhatikan lokasi foto itu ada disana?” tanya Julia.
“Eh iyaa juga. Coba A’a lihat lagi. Bastian mengambil ponselnya disaku celana lalu dia melihat dengan saksama background lokasi di foto itu.
“Apa’, iya. Ade bisa pastikan ini apartemen teman Ade yang bilang dia satu kampus saat di Aussie,” Bastian melihat titik terang dari persoalannya itu.
“Lusa kita berangkat ke Singapore. Dan kamu hubungi Gladys agar bersiap untuk menerima lamaran dari Apa’. Bilang orang tuamu sudah menyetujui kalian menikah karena kehamilan itu,” Achdiyat langsung memutuskan akan bergerak. Dia sudah menyelidiki tentang Wilson sejak tiga hari lalu.
“Yaya, kamu pesan tiket untuk kita bertiga saja. Amah biar jaga anak-anak.” Masih seperti biasa, Achdiyat memerintah Julia seakan calon menantunya itu sekretaris dirinya ketika dikantor.
“Sekarang Apa’ mau tidur. Yaya jangan tidur kemaleman. Jangan biarkan Bastian mengajakmu ngobrol,” Achdiyat langsung berdiri meninggalkan sepasang anak manusia yang dia yakin masih ingin banyak bertukar cerita.
Bastian langsung memeluk Julia ketika papanya pergi meninggalkan mereka. “Apa sih peluk-peluk terus?” goda Julia.
“Honey, aku kangen banget. Tiap hari aku berangkat sehabis subuh buat nyari kamu. Sampe ke kantor paling cepet jam sepuluh. Kadang sampai jam dua siang,” Bastian masih keqi karena ternyata Julia berada dirumahnya.
“Sebenernya, aku seminggu juga udah pengen keluar. Aku Apa’ dan Amah yakin kejadian itu dibikin saat kamu bilang kamu tertidur di kamar Wilson. Kamu bilang kan sebelumnya kamu sudah sangat ngantuk,” jawab Julia.
“Sejak itu juga Apa’ mencari jati diri Wilson dibantu kang Dade,” lanjut Julia.
“Lalu kenapa bertahan sampai dua minggu?” tanya Bastian penasaran.
“Apa’ bilang biar kamu ngerasain kangen dan sengaja bikin kejutan ulang tahunmu ini,” jawab Julia santai tak merasa bersalah.
“Kamu bikin aku hopless Honey. Kamu tahu aku takut akan ancamanmu saat dirumah sakit,” Bastian mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Julia dengan penuh kasih.
“Ancaman yang mana A?” Julia malah lupa bagian mana yang ditakutkan oleh tunangannya ini.
“Kamu kan bilang tak ada maaf untuk perselingkuhan,” jawab Bastian resah.
“Bener banget A. Buat aku enggak akan ada maaf untuk perselingkuhan. Tapi kan aku enggak sembarangan memutuskan. Aku menyelidiki dulu. Kecuali aku lihat langsung. Aku pasti langsung putusin enggak ada maaf,” jelas Julia.
“Kalau kasus foto itu, aku tela’ah dulu. Selama di Singapore kita berpisah hanya saat A’a pergi keluar dengan Wilson. Dan selama pergi itu A’a selalu hubungi aku kecuali saat A’a tertidur. Nah itu jelas kalau A’a enggak mungkin berbuat yang enggak benar saat itu,” Julia membeberkan mengapa dia tak langsung marah.
“Kita harus mulai bisa bersikap dewasa A. Jangan asal marah kalau belum jelas apa yang kita lihat. Apalagi Apa sudah bilang, dia mau langsung nikahin kita setelah masalah ini selesai. Kalau kita masih asal marah tanpa bisa meredam emosi, rumah tangga kita akan ribut terus A.”
“Kemarin aku langsung pulang dari kantor itu bukan marah ke A’a. Aku hanya ingin meredam marah karena A’a kembali jadi sasaran target,” Julia mengajak agar Bastian mulai bisa berpikir jernih.
“Kamu enggak nolak disuruh nikah?” tanya Bastian ragu.
“Mungkin yang ragu tu A’a,” jawab Julia cepat.
“Yeeeeeee … A’a suruh nikah sekarang juga siap koq,” balas Bastian. Karena sejak pertunangan, mereka memang belum pernah membahas tentang pernikahan.