TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
INI YANG ABANG BILANG AKAN PERG?



HALLLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO


ini update bab kedua hari ini. jangan lupa yanktie setia menunggu hadiah mawar dan secangkir kopi darimu


selamat membaca


“Kami dijodohkan dan Wisnu tak menolak. Aku tahu Wisnu sangat mencintai Namira. Dia tak pernah menganggapku ada. Bahkan kemarin saat Wisnu bertemu Namira di rumah sakit ini. Dia masih bilang dia pemilik Namira padahal dia sudah menikah denganku tiga bulan lalu,” Wiwin mulai terisak.


“Jahat sekali dia. Kalau dia tak bisa berpaling dari Namira mengapa mau menerima perjodohan denganmu?” desak Nadia.


“Waktu pertunangan, Wisnu harus memilih, harta keluarga besar atau Namira. Dan Wisnu memilih harta. Artinya dia harus tunangan denganku dan melepas Namira. Tapi sehabis bertunangan dia tetap saja pacaran dengan Namira tanpa peduli padaku,” dengan kesal Wiwin membeberkan culasnya Wisnu.


“Dan waktu akan menikah kembali ibunya Wisnu bertanya, dia mau terus mencari Namira atau menikahiku. Bila menikahiku maka perusahaan akan langsung miliknya. Kamu tahu, tanpa pikir panjang Wisnu memilih menjadi pemilik perusahaan dan menikahiku dan berjanji tak akan pernah mencari Namira,” jelas Wiwin.


“Kalau dia selalu memilih harta daripada Namira, mengapa dia ngotot memintaku terus mencari Namira dan juga mengatakan dia memiliki Namira padahal sudah menikah denganmu?” Nadia jadi penasaran apa yang ada dipikiran Wisnu.


“Itu yang aku enggak ngerti,” jawab Wiwin. “Eh apa Bayu enggak tahu pernikahan Wisnu? Bukankah mereka saudara?”


“Ayah Bayu sepupu jauh ibunya Wisnu. Bahkan aku yakin Bayu tidak tahu Wisnu adalah kerabatnya. Karena selama ini kedua orang tuanya jarang silaturahmi,” jawab Nadia.


“Sekarang Wisnu kemana?” tanya Nadia lagi.


“Tadi sebelum kamu masuk dia baru menerima resep. Mungkin menebus resep lalu salat Jumat. Aku juga tidak tahu karena selama ini kami tak pernah ngobrol sama sekali,” jawab Wiwin.


Setelah Bayu selesai salat, dugaan Nadia terbukti. Bayu tidak tahu kalau Wisnu adalah kerabatnya sendiri. Selama ini Bayu tahu Wisnu sebagai pacar Namira saja.


***


Namira baru selesai membuat risol dan puding serta donat pesanan konsumen esok hari. Hari Sabtu dan Minggu ini pesanan sangat banyak. Dia berniat membuka toko kecil untuk usahanya. Nanti dia yang meracik adonan, lalu ada pegawai yang mengeksekusi bentuknya. Sehingga tugasnya berkurang. Mengantar juga akan dia serahkan pada pegawai. Dia yang tetap akan belanja bahan.


Siang nanti Nadia dan Bayu akan datang kerumah ini. Sejak kemarin Nadia sudah mengabari akan datang.


“Bik, kalau ada teman saya datang suruh tunggu dulu ya. Saya akan jemput Nindi sekalian belanja bahan kue. Bibik ada yang ingin dibeli?” tanya Namira.


“Kalau barang dapur sepertinya enggak ada Non. Paling buah. Sepertinya bahan juice habis,” jawab bik Iyah. Ilyas itu malas makan buah, sehingga sejak kecil ibunya memberi buah dalam bentuk juice. Sampai dewasa kebiasaan itu tak bisa hilang. Lebih suka konsumsi juice daripada potongan buah segar.


“Oke. Ini dedek Ilhamnya. Bunda jemput teteh dulu ya,” Namira menyerahkan Ilham pada bik Iyah. Dia mengambil sepuluh box mika berisi risol frozen, pesanan tukang sayur depan sekolah Nindi.


Ternyata Nadia datang tepat saat Namira baru saja tiba dari belanja bahan kue sekalian menjemput Nindi.


“Hai, enggak nyasar ‘kan?” sapa Namira ramah.


“Enggak, gampang koq cari alamatmu ini,” jawab Bayu.


“Ayok masuk,” ajak Namira.


“Ini Nindi?” tanya Nadia saat melihat Nindi sedang membuka sepatu sekolahnya.


“Iya Bibi, ini Nindi,” sahut Namira mewakili keponakannya. “Teteh salim dulu ke Bibi dan Paman.”


“Wa’alaykum salam geulis.” Jawab Nadia gemas melihat kecantikan Nindi.


“Assalamu’alaykum Paman.” Lanjut Nindi lagi.


“Wa’alaykum salam cantik. Kamu baru pulang sekolah?” tanya Bayu. Nindi hanya menjawab dengan anggukan lalu masuk ke rumah. Dia memang malu berinteraksi dengan orang yang baru ketemu.


“Kalian makan siang ya,” Namira mengajak tamunya ke ruang tengah.


“Kami bukannya nolak rejeki. Tapi kami baru saja makan,” jawab Bayu. Dia merasa tak sanggup bila harus makan lagi.


Namira pun menyiapkan sirop dan donat serta risol kreasinya. “Tunanganmu pulang jam berapa?” tanya Bayu.


“Hari ini dia pulang jam empat sore. Tapi semalam pas aku bilang kalian akan datang, dia akan upayakan datang siang ini. Karena kemarin dia baru pulang seminar jadi hari ini belum mulai masuk kerja. Baru mulai dinas hari Senin. Jadi kemungkinan dia bisa nemuin kalian,” jawab Namira.


“Bagaimana bibimu? Apa parah?” tanya Namira. Dia tahu Bayu dan Nadia ke Bandung karena ada keperluan menengok bibinya Bayu di ICU.


“Di ICU, kami tidak bisa bertemu. Hanya bertemu dengan anak dan menantunya saja.” jawab Bayu berat. Saat makan siang tadi Bayu dan Nadia sudah diskusi akan menceritakan culasnya Wisnu pada Namira. Mereka sangat simpati pada Wiwin.


“Sudah lama?” suara berat milik Ilyas memotong pembicaraan mereka.


“Eh, bisa pulang cepat Yank? Mereka baru datang koq,” Namira berdiri untuk menyambut Ilyas yang baru pulang dan sedang digayuti oleh Nindi.


“Teteh, Ayah cape. Nanti ya ngobrolnya,” Namira membujuk Nindi. Tapi dari belakang Ilham berteriak dalam gendongan bibik minta untuk mendatangi Ilyas.


“Sebentar ya. Gini nih anak dua kalau Ayah mereka pulang,” Namira pamit sebentar pada Bayu dan Nadia yang memperhatikan bagaimana interaksi Ilyas dengan keponakan dan anak kandung Namira.


***


Laura diam, sejak pindah ke rumah sakit Kemala, Syahrul langsung dimasukkan di ICU. Tak ada yang boleh masuk. Penunggu diberi waktu masuk jam 12-13 siang dan jam 17-18. bagi pasien yang masih bisa makan, jam itu adalah jam penunggu menyuapi pasien atau bicara. Tapi untuk pasien yang sudah tak sadar, penunggu bisa membasuh atau paling tidak berbisik atau mengajaknya berdoa.


“Jadi ini yang Abang bilang akan pergi lama? Dan Abang titip anak-anak ke aku. Kenapa Bang? Kenapa tega?” bisik Laura ditelinga Syahrul.


“Abang tahu aku cinta Abang. Tadi pagi Papa minta Abang segera lamar aku. Kenapa Abang malah tidur aja?” Laura menciumi pipi Syahrul, keningnya, dagunya, hidungnya dan terakhir dia kecup bibir lelaki yang sudah direstui mama dan papanya untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.


Akhirnya isak tangis kecil keluar dari mulutnya. Laura sangat sedih menghadapi kenyataan hari ini. Apa yang harus dia katakan pada anak-anak? Dia yakin mama dan papanya sudah memberitahu Nazwa dan Fahri ayah mereka kecelakaan. Tapi tidak diterangkan kondisi sesungguhnya seperti ini.


“Cepet bangun ya Cintaku, aku dan anak-anak mencintaimu. Kami menunggu kamu bangun dan berkumpul bersama lagi.” bisik Laura. Baru kali ini dia terpuruk sedemikian dalam melihat kekasihnya sakit dengan kecil harapan untuk sembuh seperti ini. Saat Tommy meninggal. Tak ada penderitaan panjang. Tommy meninggal ditempat kecelakaan. Jadi Laura melihatnya sudah bersih di rumah sakit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta  ***