
DARI SEDAYU NGAYOGYOKARTO YANKTIE INGETIN KALAU SAAT INI HARI SENIN. BERIKAN VOTE YANG KALIAN DAPAKAN DARI NOVELTOON/MANGATOON BUAT NOVEL INI AJA YA.
TERIMAKASIH DAN SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
Laura sudah selesai bertemu dengan konsumennya. Dan sejak tadi dia sudah meminta drivernya Syahrul untuk menjemput bibik dirumah wak Ganis agar bersih-bersih di rumah. Dia yang akan menjemput anak-anak sepulang mereka dari sekolah. Sengaja dia tak memberitahu Nazwa dan Syahrul.
“Hallo sayank,” sapa Laura dipintu pagar sekolah Fahri.
“Mommyyyyyyyyyyy,” pekik Fahry dengan bahagia. Dia berlari memeluk Laura dengan bahagia.
“Ha ha haaa, anak Mommy senang ya dijemput Mommy?” Laura memeluk jagoan kecilnya dan mengecup kening anak lelaki yang wajahnya lebih mirip Ida dari pada Syahrul.
“Suka bangeeeeeeeet,” sahut Fahri sahut Fahri sambil terus memeluk ibunya itu.
“Ya sudah. Sekarang kita jemput kakak dan beli makan ya. Kita makan bareng Daddy aja berempat di ruang rawat,” Laura mengajak Fahri menjemput Nazwa.
Nazwa juga sangat senang ketika Fahri bilang yang menjemput mereka adalah Laura. Memang di sekolah Nazwa, Laura tidak turun, dia sedang menerima telepon dari Syahrul.
“Sabar sebentar ya. Ini Mommy baru selesai. Habis ini Mommy beli makan siang, kita makan bareng. Daddy mau makan apa?” tanya Laura lembut. Memang sejak baru saja berangkat dari rumah sakit, Syahrul berulang kali menghubungi Laura. Lelaki itu masih ketakutan ditinggal kekasihnya.
“Mau na si Pa dang bo leh?” tanya Syahrul pelan.
“Iya. Mommy bawakan nasi padang. Kita makan bareng ya. Sabar. Jangan dipikirin kalau Mommy enggak bakal balik. Mommy kan cuma cinta ama Daddy,” bujuk Laura. Persis seperti membujuk anak kecil.
“Kalian mau makan apa? Daddy minta nasi Padang,” Laura memberitahu kedua anaknya.
“Ya udah Mom, samain aja. Enggak usah dibikin repot,” sahut Fahri lugas. Dia dengar kalau daddynya merengek persis anak kecil.
“Oke kemooon,” sahut Laura. Dia pun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Karena rumah makan Padang yang besar dan enak memang akan mereka lewati bila menuju rumah sakit.
Laura hanya membeli tiga bungkus nasi putih tapi dengan lauk yang beragam. Syahrul dan Fahri mana mungkin cukup dengan satu macam lauk. Dan lagi di rumah sakit ada jatah makan siang Syahrul. Jadi tiga bungkus nasi itu nanti bisa cukup untuk tambahnya Fahri.
Syahrul hanya bisa menatap penuh cinta melihat kedatangan Laura dengan dua buah hatinya. ‘Dia memang bidadari yang Allah berikan untukku,’ batinnya. Ada air mata tergenang dimatanya.
“I love you, jangan sedih dan jangan suka mengira Mommy akan tinggalin Daddy. Mommy keluar kan buat kerja bukan buat main,” Laura mengusap air mata Syahrul. Nazwa serta Fahri melihat itu dengan jelas perlakuan Laura pada daddy mereka.
Laura mengecupi pipi Syahrul yang hanya bisa diam. Dia peluk erat lelaki yang sedang rapuh itu. “Kita makan yok,” ajak Laura.
Syahrul sudah bisa turun dari kasur dengan satu kakinya, lalu dia pindah ke kursi roda. Jadi mereka bisa makan di sofa bukan di brankar.
“Ade bantu Daddy bisa? Pegangi kursi rodanya,” Laura meminta Fahri agar ikut terlibat dalam perpindahan Syahrul ke kursi roda. Sudah tak ada infus sejak tadi pagi.
“Yeeeeaaay, mari kita makan.” Laura ingin semua ceria. Dia memberikan air untuk Syahrul mencuci tangan. Karena biasanya kalau makan nasi Padang lebih enak menggunakan tangan dari pada dengan sendok.
Laura membuka semua lauk dan tak lupa jatah konsumsi dari rumah sakit. Dia akan makan nasi itu lebih dulu agar tak ada yang terbuang. Dua bungkus nasi belum dibuka karena Nazwa hanya mengambil sedikit nasi dari jatah rumah sakit.
“Dadd, istri mas August dirawat disini juga. Tapi tadi Mommy buru-buru jadi enggak sempat lihat. Nanti malam kita tengok berdua yok?” ajak Laura.
Syahrul membuka mulutnya. Dia memang tadi cuci tangan, tapi tidak makan sendiri. Dia disuapi Laura. Mereka makan sepiring berdua. Porsi makan Syahrul memang belum kembali ke porsi semula.
“Daddy tadi cuci tangan buat apa?” goda Nazwa.
“Ha ha ha, aku juga mau tanya gitu Kak,” sahut adiknya.
“Persiapan kalau mau ambil lauk sendiri Kak. Kadang Daddy enggak cukup dengan lauk yang Mommy suapin,” balas Laura. Memang seperti itulah kenyataannya. Kadang Syahrul memegang lauk yang dia inginkan.
***
Handle pintu rumah Almi sudah diganti. Tadi dia juga sudah minta sang tukang membeli kardus besar bekas rokok juga lakban besar dalam jumlah banyak untuk ‘membuang’ semua barang Halim dan Anna dari rumahnya.
Bu RT bilang disimpan di balai warga aja. Karena dirumahnya juga tak ada tempat untuk kardus-kardus itu.
Para ibu yang kepo sudah pamit selesai mendengar drama yang Anna buat. Mereka langsung menjadikan hal itu trending topic dan akhirnya meluas sampai ke desa sebelah tempat asal Anna.
Almira sedih karena aib Namira jadi tersebar, tapi hal itu tak terlalu dia permasalahkan lagi karena adiknya bukan pelaku perselingkuhan atau menjual diri seperti yang selama ini terdengar diluaran. Nama adiknya malah bersih setelah warga tahu kalau semua adalah skenario Anna.
Orang tua dan kakak Anna langsung terkena imbasnya. Toko orang tua dan salon kakaknya langsung jadi sasaran cemooh warga.
Halim dan Anna memang tidak ditahan tapi mereka menjadi tahanan kota dan wajib lapor satu kali seminggu. Mereka diperiksa hingga larut malam saja.
Yang pasti sekarang mereka sudah terkena hukuman masyarakat. Mereka tak akan diterima dimana pun karena merupakan pelaku pasangan kumpul kebo. Itu merupakan aib dan tak ada yang membolehkan mereka menetap dilingkungan tempat tinggalnya. Karena ada pendapat dalam masyarakat yang menyebut bila 40 rumah dari pelaku zina akan mendapat kesialan.
Walau hadisnya lemah tapi itu memang sudah mengakar di masyarakat. Maka semua langsung akan mengusir ketika tahu kalau Anna dan Halim tak pernah menikah walau hanya secara siri sekali pun.
Sejak selesai pemeriksaan tadi, Halim dan Anna berpisah di depan kantor polisi. Anna yang saat dibawa keluar rumah tak sempat membawa dompet dan HP bingung hendak kemana. Dia meminta ojek pangkalan untuk menuju ke rumah orang tuanya. Tapi kedua orang tuanya menolak kehadirannya. Akhirnya dengan terisak dia minta bantuan uang pada ibunya untuk membayar ojek yang akan dia minta mengantarnya ke toko miliknya.
Sedang Halim yang sejak lama tak punya orang tua, dia mencoba ke rumah kakak sepupunya untuk menumpang beberapa hari, tapi tak ada satu pun yang mau menampung sampah seperti dirinya. Akhirnya Halim duduk terpaku di emper masjid. Karena masjid sekarang pun di kunci agar tak menjadi tempat mampir tuna wisma.
\===========================================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE, MAMIR DAN KASIH FAVORITE NOVEL YANKTIE YANG BARU AJA NETES YAAA
===============================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta