
SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Terserah kamu lah. Habis ini aku siapkan pakaian dulu,” sahut Misah. Almira tak perlu membawa baju, karena bajunya di rumah Ningrum masih banyak. Malah nanti akan dia bawa semua ke Bogor karena dia tak jadi tinggal di Bandung.
“Apa suami Namira sudah membalas pesanmu?” tanya Misah lagi. Tujuan mereka ke Bandung kan menemui Namira. Percuma mereka berangkat bila belum tahu bisa atau tidak bertemu dengan Namira. Karena mereka tak tahu nomor ponsel Namira juga alamatnya.
“Sudah. Dia minta aku datang ke rumah sakit tempatnya bekerja lusa jam 3 sore. Dia ingin bicara tanpa Nindi tahu dan dia bilang Eneng juga akan datang disana,” sahut Almira. Sebenarnya dia gugup bertemu adik yang sudah dia tuduh menjadi perusak rumah tangganya.
“Suami Eneng juga minta dibawakan akte kelahiran Nindi buat sekolahannya. Dia udah urus adopsi resmi dan dia bilang enggak bakal ubah akte itu,” balas Almira lagi. Itu sebabnya tadi dia mampir ke rumahnya dan mengambil data Nindi disana.
FLASH BACK ON
“Assalamu’alaykum. Benar ini dengan dokter Ilyas Pratama?” Almira kemarin pagi langsung menghubungi nomor telepon yang Misah dapatkan di kelurahan.“Wa’alaykum salam. Benar saya Ilyas. Dari mana ini Ibu?” suara sopan menjawab telepon yang Almira lakukan.
“Maaf. Saya Almira dan mendapat nomor anda dari kelurahan. Bisa saya minta waktu bertemu dengan Namira? Saya ingin minta maaf karena telah tahu apa yang terjadi padanya dua tahun lalu,” Almi tahu waktu bicaranya sangat pendek mengingat yang dia hubungi adalah seorang dokter.
“Saya sebentar lagi jadwal kerja. Saya harus bicarakan dulu dengan istri saya dia mau tidak bicara dengan anda. Nanti saya kabari bila dia sudah memberi keputusan,” sahut Ilyas.
“Baik Dokter. Terima kasih. Saya tunggu khabar baiknya. Assalamu’alaykum,” Almira pun menyudahi sambungan teleponnya.
Dan malamnya ada chat dari Ilyas dia diminta datang ke rumah sakit Persada esok lusa jam 3 sore.
FLASH BACK OFF
***
Siang ini Almira dan Misah sampai di kamar kost Ningrum yang masih saudara jauh dengan Anna.
“Rum, aku enggak jadi pindah kost disini. Aku akan kembali ke rumahku di Bogor saja,” Almira mengatakan niatnya pada sahabatnya selama di Taiwan itu. Mereka sedang santai istirahat di kamar Ningrum.
“Kamu juga enggak akan balik ke Taiwan kan?” tanya Ningrum. Mereka merasa modal tabungan mereka sudah cukup dan mereka hendak berhenti menjadi TKW ( tenaga kerja wanita ).
Waktu di Taiwan mereka berjanji akan membuka usaha di Bandung. Bukan bergabung. Mereka akan membuka usah sendiri-sendiri. Agar bila ada masalah dalam bisnis, mereka tak saling menyalahkan.
“Enggak Rum. Aku akan berjuang di Bogor saja. Ternyata kang Halim dijebak saudaramu. aku sudah bercerai secara agama. Nanti akan aku urus resmi surat cerai secara negaranya. Aku tetap tak mau kembali padanya,” sahut Almira.
Almira lalu menceritakan kejadian yang dia alami selama di Bogor sehabis dia cerita bertemu dengan Namira dan suaminya di Bandung. Pertemuan dengan Namira memang kemarin belum Almi ceritakan pada Ningrum.
“Astagfirullaaaah. Anna memang ular. Setelah dia memfitnahku dan membuat ibuku sakit hingga meninggal. Dia juga merusak rumah tanggamu,” Ningrum kaget mendengar cerita Almi yang dilengkapi dengan rekaman suara dari ponsel Misah.
***
Lama ya kita enggak tahu khabar Julia dan Bastian. Sekarang dan bab selanjutnya kita nengok Julia dulu yaaa.
“Honey, aku berangkat duluan ya,” Bastian pamit pada Julia. Mereka baru saja selesai makan siang sehabis belanja barang dagangan Julia.
“Iya sayank. A’a bakal hati-hati. Dan enggak akan ninggalin minuman sama sekali. Karena bisa jadi dalam minuman yang kita tinggal diberi sesuatu,” sahut Bastian. Dia memang harus berjaga-jaga dalam segala hal.
Bastian langsung menuju hotelnya. Dia meminta Gladys datang jam lima sore karena mereka janjian dengan Achdiyat jam enam sore.
Bastian langsung menuju kamar untuk membahas rencana yang akan mereka laksanakan malam ini. Akhirnya untuk memudahkan komunikasi memang Achdiyat dan Bastian tinggal satu kamar.
“Kamu jangan lupa bawa laptopmu. Nanti pura-pura kamu search planning konsep weddingmu. Dan jangan lupa kamu bahas dulu masalah agama agar tak terkesan kamu emang buru-buru menikahi karena kehamilannya. Kalau beda agama kamu ajukan penawaran aja kompensasi biaya hidup bayi. Dan rekam semua pembicaraan,” Achdiyat mengingatkan Bastian agar semua berjalan sesuai rencana.
Kalau malam ini beres. Rencananya Achdiyat akan kembali ke Indonesia besok siang. Sedang Julia dan Bastian masih akan di Singapore beberapa hari kedepan karena Julia masih banyak yang dicari.
Sudah terlalu lama dia di Singapore meninggalkan istrinya dan kedua cucunya yang menjadi tanggung jawab penuh setelah anak dan menantunya meninggal dunia. Dia kasihan pada istrinya bila harus mengurus semua sendirian diusia senja mereka.
‘Sayang, aku on the way ke hotel tempat menginap papimu,’ chat dari Gladys baru saja Bastian terima. Dia langsung memforward ke nomor Julia dan Achdiyat.
‘Baik. Kalau kamu duluan tunggu saja di lobby. Aku baru bersiap mandi dan perjalanan dari hotelku butuh waktu 20 menitan untuk tiba disana,” balas Bastian. Dan jawaban ini juga dia forward pada nomor Julia dan Achdiyat. Memang Bastian mengatakan pada Gladys dia tidak satu hotel dengan Achdiyat.
Bastian bersiap mandi. Dia akan membiarkan Gladys menunggunya di lobby. Disana sudah ada dua orang polisi yang memang stanby untuk menangkap Gladys.
***
“Ibu memanggil saya?” tanya Wilson sopan. Tadi kepala divisinya memberitahu dia dipanggil oleh Manager HRD. Ibu Kharisma, gadis keturunan India Malaysia yang sangat ketat dan displin.
Tak ada yang bisa melunakkan bila perempuan muda ini sudah marah. Karena dia memang selalu bertindak sesuai aturan.
“Kamu tahu mengapa saya memanggilmu?” tanya Kharisma datar.
“Tidak Miss. Setahu saya absen saya sangat baik dan tak ada kesalahan administrasi lainnya,” sahut Wilson dengan percaya diri.
“Yups benar. Saya hanya ingin mempromosikanmu saja. Saya ingin kamu datang ke pertemuan malam nanti jam 6 di cafe hotel Champion. Akan saya perkenalkan kamu pada seseorang yang bagus untuk kariermu selanjutnya,” sahut Kharisma.
“Are you serious?” tanya Wilson tak percaya. Ini sama persis ketika dia mendapat referensi untuk bekerja di cabang Singapore. Dia berharap akan dipindahkan ke negara baru agar pengalamananya semakin luas.
“Off course,” jawab Kharisma. “Kita bertemu disana pukul 17.45 ya.”
***
\==============================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta