TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
DISAPPEAR



hai hai, maaf agak lama  tidak update, kakak yanktie sedang sakit di rs fatmawati jakarta, sehingga konsentrasi yanktie, yanktie fokuskan kesana


tapi sekarang kakak mulai stabil jadi yanktie bisa aktiv nulis lagi


selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak like, komen manis dan vote setiap hari senin ya. tak lupa yanktie juga menunggu secangkir kopi atau setangkai mawar merah darimu


“Ya ga-papa Pa’ nanti aku akan nyobain apa yang mamah beli,” Bastian memang selalu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Dia sudah merasa sangat bersalah saat  dulu berjalan di rel yang tak seharusnya. Sekarang dia ingin memperbaiki diri. Itu sebabnya saat jatuh cinta pada Julia 2 tahun lalu, dia langsung menyampaikannya pada sang bunda. Dia selalu ingin direstui. Tak ingin lagi salah langkah. Begitu pun saat dia tahu Julia putus pertunangannya, Bastian langsung minta izin dan minta dukungan sang mamah untuk mendekati Julia. Bu Tuti yang sejak awal memang menyukai sifat Julia tentu saja mendukung penuh usaha putra bungsunya itu.


Ternyata bu Tuti juga membeli nasi padang untuk menu makan siang kali ini. Julia yang sudah selesai makan siang dengan tak keberatan langsung menyuapi kedua pacarnya. “Kalian curang, baru datang langsung disuapi Aunty,” protes Bastian pada kedua kompetitornya itu.


“Uncle … uf …,” dengan mulut penuh makanan Guntur ingin bicara menjawab protes pamannya. “Jangan bicara bila di mulut sedang penuh makanan,” nasehat Julia dengan lembut. Guntur membalas dengan senyum dan anggukkan. Dia segera menelan makanan di mulutnya lalu kembali bicara. “Kenapa uncle tidak sejak tadi saja minta suapin Aunty? Sebelum kami datang?” hahaha Guntur juga tidak mau disalahkan Bastian.


Julia menyodorkan gelas juice dengan sedotan langsung di depan bibir Bastian, dia tak ingin sang monster tambah cemburu pada kedua pacar imoetnya. Bastian memegang tangan Julia yang sedang memegang gelas juice untuknya. Sengaja dia lakukan itu. Dia meminum sedikit juice lalu mendorong dari bibirnya. Bastian masih teramat kenyang. “Cukup dulu, A’a masih kenyang,” bisiknya. Dia tak ingin Julia merasa ditolak.


“Kalian mau juice jambu?” tanya Julia pada Topan dan Guntur. Juice miliknya masih utuh. Nanti dia bisa berbagi juice dengan Bastian saja.


“A’  jam dua meeting dengan staff marketing lho,” Julia memperingatkan jadwal Bastian siang ini. Pak Achdiyat sedang keliling kantor. Dia ingin tahu siapa yang tak tepat waktu kembali kerja  sesudah istirahat makan. Sedang bu Tuti sedang menggantikan baju kedua cucunya, karena pakaian keduanya sudah basah dengan keringat.


“Kamu ikut meeting ya, bikin notulen,” perintah Bastian.


“Sebenarnya malas, pengen di sini aja ama pacar,” Julia menawar perintah Bastian.


“Mau aku hukum?” tanya Bastian dengan senyum jahilnya. “A’a akan minta ke apa’ dan mamah jangan pernah bawa pacar-pacarmu ke sini lagi saat jam kerja.”


“Aku ‘kan cuma bilang ‘sebenarnya’ malas, bukan bilang enggak mau ikut meeting,” Julia tentu tak mau dihukum. Dia pun tak tahu apa hukuman yang akan boss monsternya itu berikan padanya. Tentu dia juga tak setuju bila kedua pacarnya tak boleh datang ke kantor. Dia pernah janji pada Topan akan membacakannya buku cerita.


“A’, ini uang apa?” Julia yang baru membuka ponselnya, dia baru melihat ada notif mBanking dari rekening atas nama Bastian Mahesa Hadipraja.


“Itu tadi buat bayar makan siang dan minggu lalu aku telat ngebayarin roti unyil,” jawab Bastian ringan.


“Ya enggak segini banyaknya juga kalee,” Julia tak enak, karena jumlah yang diberikan hampir 4 kali dari nominal yang dia belanjakan. “Lagian ‘kan roti unyil memang aku yang mau jajan,” protes Julia. ‘Darimana monster ini tahu nomor rekeningku?’


“Enggak usah banyak protes,” Bastian tak menerima protes Julia dan bersiap melaksanakan salat dzuhur untuk langsung menuju ruang meeting.


Julia lebih dulu masuk ke ruang meeting, dia mengecek semua kebutuhan meeting, dia cek apakah proyektor berfungsi baik, apakah ruang cukup dingin, apakah minum dan snack rapat sudah ready disiapkan office boy, apakah bahan meeting sudah diperbanyak dan semuanya. Dia tak ingin bossnya ngamuk karena ada yang tidak beres.


Saat semua peserta rapat masuk, Julia memperhatikan Bastian masuk berdampingan dengan Seruni, supervisor marketing yang menggunakan baju kurang bahan dan super ketat. Seruni tertawa manja sambil menepuk lengan Bastian dengan sentuhan lembut. Kesal, tentu itu yang dirasakan oleh Julia saat ini.


“Kalau ditanya, aku izin ke toilet sebentar ya,” Julia berbisik pada Yuni bagian administrasi marketing yang duduk di sebelahnya.


“Ok,” balas Yuni singkat.


‘Mau ke mana dia? Kenapa keluar? Tapi note dan filenya enggak dia bawa,’ Bastian yang melihat Julia keluar hanya bisa membatin dalam hatinya. Dia tak mungkin mengejar kekasihnya itu. Dia terpaksa terpaku di ruangan itu karena akan memimpin meeting.


10 menit.


15 menit.


30 menit.


65 menit.


Bastian gelisah menunggu, sejak tadi dia sudah tidak menyimak materi yang dipaparkan team marketing. Fokusnya pada kursi milik Julia.


‘Yun, aku titip note dan file ku ya, nanti aku ambil di rumahmu. Aku langsung pulang karena perutku sakit,’ Yuni menerima chat dari Julia setelah 98 menit meeting berlangsung.


Bastian menutup meeting tanpa bisa memutuskan apa pun karena dia tidak konsentrasi. 120 menit Julia keluar ruang meeting tanpa berita. Dia langsung menuju ruangan Julia, didapatinya ruangan itu kosong. Tak ada tas Julia di kursi seperti biasanya. Sejak keluar ruang meeting Bastian mencoba menghubungi ponsel Julia. Namun nomor Julia tidak aktiv.


Sementara Julia, begitu keluar ruang meeting memang dia ke toilet. Niatnya dia akan kembali ke ruang meeting. Saat akan membuka pintu toilet dia mendengar dua orang wanita sedang bicara tak terlalu keras, tapi sangat jelas. “Kamu serius mau nempel big boss?” tanya perempuan pertama.


“Ya iyalah, aku akan buat dia tertarik dengan programku selain dengan pesonaku. Tadi lihat ‘kan, dia begitu ramah dan memberiku senyum sangat manisnya. Makanya sekarang aku sengaja keluar dulu untuk touch up, biar pas presentasi nanti dia tak akan berkedip memandang bodyku,” balas perempuan ke dua dengan percaya diri.


Julia keluar setelah tak terdengar dialog lagi. Dia langsung ke ruangannya mengambil tasnya lalu langsung melajukan mobilnya keluar kantor. Sengaja dia duduk sendiri di gerai donat. Dia pesan hot choco dan sebuah donat besar isi strawberry.


‘Yun, aku titip note dan file ku ya, nanti aku ambil di rumahmu. Aku langsung pulang karena perutku sakit,’ Julia mengirim pesan pada teman akrab di kantornya itu. Tanpa menunggu balasan dia juga mengirim chat pada teh Imah di rumah. Mengabarkan dia tak akan pulang malam ini. Dia akan menenangkan diri. Dia akan tidur di rumah bibiknya di Lebak Bulus. Julia selalu menyediakan baju ganti kerja dan santai di mobilnya. Sehingga bila ada keperluan mendadak dia siap tanpa harus mengambil baju di rumah terlebih dahulu. Ketika boss nya masih pak Achdiyat, sering dia harus menemani ke berbagai kota secara mendadak. Karena itulah dia selalu siap baju ganti untuk keperluan mendadak. Setelah itu dia mematikan ponselnya.