TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
HARUS MENIKAH MINGGU INI JUGA



HAI  HAI  HAI


Update bab kedua hari ini.


Jangan lupa ditunggu secangkir kopinya


########


Sampai Minggu malam, tak ada perubahaan. Kondisi Syahrul tetap sama. Beberapa rekan sejawat datang menengok dan memberi dukungan kekuatan bagi Laura. Banyak teman sejawat yang akhirnya tahu siapa kekasih sejati dokter anak yang handsome itu. Duda anak dua yang sudah mulai ABG tapi tetap terlihat muda dan tampan.


Laura sudah berniat besok dia tak hadir dalam persidangan. Dia akan memberi kuasa pada Adnan mewakilinya. Toh kehadiran saksi korban besok tak diperlukan.


Ida sudah tak datang lagi. Dia sudah tak punya muka mendengar Nazwa putri kecilnya membuka kebusukannya didepan Laura dan Claudia. Terlebih Nazwa telah mengatakan dia bukan ban serep. Karma memang ada. Dan sekarang Ida beserta suaminya merasakan hal itu.


***


Hari yang August tunggu akhirnya datang juga. Sejak pagi dia langsung bersiap dan tentu Yudha dia kejar-kejar agar berangkat pagi. Mereka sarapan di ruang makan hotel karena memang semua tamu hotel mendapat jatah makan pagi.


“Ini data barang yang akan datang hari ini. Kamu pegang bon pembelian dan cek ketika barang datang ya. Lihat kalau ada yang rusak jangan diterima,” August memberikan bon pembelian pada Yudha.


“Dan kordeyn juga akan dipasang hari ini,” August menambahkan bon untuk diterima Yudha. Pagi ini dia akan mengantar Yudha ke rumahnya sekalian dia menjemput Wulan dan mengantar perempuan itu ke kampus.


***


“Morning Sweety,” sapa August saat Wulan langsung menghampiri mobilnya ketika dia baru sampai panti asuhan. Mungkin perempuan itu takut terlambat tiba di kampus.


“Assalamu’alaykum Mas,” sapa Wulan.


“Nanti selesai ujian jam berapa?” tanya August lembut.


“Jam 11.45,” balas Wulan.


“Oh. Kalau gitu Mas tinggal kamu untuk serahin barang ke tempat jasa bikin seserahan, trus jemput kamu. Sehabis kita makan siang, kita ke KUA buat urus pendaftaran nikah ya. Jam lima sore kita kerumah pakde, salat maghrib disana lalu berangkat ke resto,” August memberitahu route mereka hari ini.


“Mami dan Papi Mas sudah datang?” tanya Wulan ragu. Dia takut kedua orang tua calon suaminya membatalkan datang.


“Mereka sudah berangkat sehabis sarapan tadi. Lalu mereka akan istirahat di hotel,” jawab August sambil menggenggam jemari Wulan yang dia rasa sangat dingin.


“Enggak usah dipikirin. Kamu konsen ujian aja.” August menguatkan Wulan.


August menurunkan Wulan langsung di lobby fakultas agar perempuan itu tak berjalan jauh. Karena dia tak parkir maka dia langsung melajukan mobilnya menuju kantor jasa pembuatan paket seserahan.


***


“Wah, tuan putri diturunkan langsung di lobby ya,” sapa Kemuning yang baru tiba.


“Hai. Gimana persiapan ujianmu?” tanya Wulan. Mereka akan mid test dua mata kuliah hari ini. Sebenarnya bukan mid test karena kuliah baru berjalan satu bulan.


“Yang mata kuliah  jam pertama aku kurang siap. Tapi mata kuliah jam kedua aku siap banget,” keluh Nuning. Semalam dia kekenyangan bakso yang ibunya belikan sehingga malah ngantuk.


Mereka masuk ruang kuliah dan Wulan mengambil kursi paling depan dekat dengan meja dosen. Dia lebih nyaman duduk disitu selama ujian. Tak terganggu dengan suara temannya yang gelisah karena tak bisa menjawab soal ujian.


***


“Teteh biar bareng Ayah aja Bund,” pinta Ilyas pagi ini saat mereka sarapan.


“Enggak bisa, saya harus antar kue sekalian Teteh sekolah dan belanja bahan kue termasuk belanja sayuran,” jawab Namira datar tanpa melihat Ilyas. Jangan lupa dia menggunakan kata saya, bukan aku atau bunda. Tentu hal itu jadi perhatian Ilyas.


‘Bagaimana aku akan bicara permintaan Teh Novia semalam?’ pikir Ilyas. Semalam tetiba Novia menelponnya dan menyuruhnya segera menikah minggu ini. Yang penting mereka terikat secara agama dan negara. Karena posisi satu rumah akan riskan berbuat hal tak patut. Soal resepsi bisa kapan saja Namira atau Ilyas siap.


Flash back on


”Assalamu’alaykum Teh,” sapa Ilyas. Dia sedang dikamarnya.


“Kamu sehat Yas? Anak-anak bagaimana?” teteh malah lupa menjawab salam yang Ilyas berikan. Dia langsung tanya keadaan adik dan keponakannya. Dia memang sudah menganggap Nindi dan Ilham adalah keponakannya.


“Alhamdulillah kami semua sehat. Teteh dan keluarga bagaimana?” jawab Ilyas. Tak biasanya tetehnya menghubungi malam menjelang tidur.


“Didieu urang sadayana sehat. Alhamdulillah,” sahut Novia. [ didieu urang sadayana sehat = disini kami semua sehat ].


“Yas, Teteh teh kepikiran sama kamuh. Kamu dan Mira satu rumah. Itu riskan untuk berbuat tak patut karena kalian merasa sekarang sudah setengah resmi. Teteh minta minggu ini juga kalian menikah resmi secara agama dan negara. Tak perlu pesta dulu tidak apa-apa. Yang penting kalian tidak zina.” Novia langsung memberitahu keinginannya.


“Bukan berburuk sangka. Tapi namanya setan ‘kan bisa aja. Kamu ingat Ilham terjadi karena Mira serumah dengan kakak iparnya. Soal resepsi bisa kalian rundingkan kapan saja. Bahkan kalian bikin satu tahun lagi juga Teteh tidak keberatan.” Novia menjelaskan mengapa dia minta Ilyas segera menikahi Namira.


“Baik Teh, nanti akan aku bicarakan dengan Namira.” Seperti biasa Ilyas tak membantah kakaknya. Yang dia anggap pengganti orang tuanya.


Flash back off


“Ya sudah, Ayah berangkat dulu ya. Bund, siang bisa ke rumah sakit Ayah enggak? Jangan naik motor, berangkatnya naik gojek aja. Kita nengok dokter Syahrul di rumah sakit Kemala. Kata Laura kemarin dokter Syahrul sempat tak ada denyut jantung,” Ilyas mengajak Namira menengok Syahrul.


“Sesudah jam satu siang? Atau jam berapa?” tanya Namira masih datar. Tak menjawab juga tak enak. Menjawab, dia malas bicara dengan Ilyas.


“Jam satu ya, kita makan siang bareng. Ada pesan teteh Pia ( Novia ) semalam,” jawab Ilyas sambil membawa tas peralatan dokternya.


“Ya, nanti saya kesana,” Namira menyiapkan box kue yang akan dia antar. Hari ini pesanan yang akan dia antar cukup banyak.


“Teteh salim dulu enggak?” tanya Ilyas saat dia akan berangkat kerja. Dia mendekati Ilham dalam gendongan bik Iyah karena Namira juga akan berangkat mengantar Nindi.


“Ayah berangkat ya. Dedek jangan rewel dan emam yang banyak,” nasihat Ilyas pada putra gembulnya. Dia ciumi lelaki kecil yang sejak pertama melihat matanya membuat dirinya jatuh hati sehingga ingin menolong ibu anak itu.


Nindi salim pada Ilyas begitu pun Namira. Sejak mereka bertunangan Namira membiasakan diri mencium punggung tangan lelaki itu. “Hati-hati. Jangan berlari kencang dan jangan naik-naik,” nasihat Ilyas pada Nindi.


“Ayah berangkat ya, Bunda hati-hati,” Ilyas mengecup kening Namira dengan lembut dan lama.


================================================================   


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta