TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
MEET AUGUST AGAIN



Sebenarnya Julia tiap hari masuk kerja, dia dijemput dan diantar oleh Bastian. Bastian sengaja parkir di parkiran khusus CEO di basement yang langsung masuk ke lift khusus mengantarnya ke lantai tempat kerjanya. Jam makan siang Julia tidak boleh keluar agar August tidak bisa menemuinya di lobby. Dan pulang langsung masuk ke mobil Bastian kembali. Mobil Julia dibawa mang Dadang, parkir di rumah pak Achdiyat.


Flash back on


”Tell me please,”  pinta Bastian siang itu di rumah mang Engkus.


“Awalnya aku hanya ingin ke toilet, tapi di toilet aku mendengar Seruni ingin mendekatimu. Bikin aku kesal,” Julia akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.


“Yang mau ngedekati A’a ‘kan Seruni. Bukan A’a mau ngedeketin dia. Kenapa kamu marah ke A’a? Kamu bikin A’a ga bisa konsen kerja,” keluh Bastian.


“Iya, maaf,” Julia menjawab lirih. Dia sadar dia salah. “Tapi ‘kan keqi A’.


“Kalau besoknya kamu ke kantor, kamu akan tahu apa yang terjadi besoknya. A’a minta perempuan yang kerja di kantor pakai baju sopan. A’a juga ngeblokir nomor Seruni karena dia sengaja mau ngedeketin A’a.” Bastian menjelaskan semua langkah yang dia ambil karena kejadian yang diawali Seruni.


“AYA tahu, yayah dan bubu bingung waktu A’a cerita nomormu enggak bisa dihubungi. Please lain kali, kalau marah ke orang lain, jangan A’a yang jadi sasaran. A’a aja tiap hari liat August nungguin kamu di lobby kantor, enggak marah ke kamu.” Bastian memberitahu kalau Julia juga dicari August.


“Seriusan? Ngapain dia?” tanya Julia bingung.


“Mana A’a tahu, A’a ‘kan enggak nanya ke dia. Paling minta balikan. Apa lagi sih?” balas Bastian santai. Dia cukup tenang, karena sudah tahu Julia bukan kesal pada dirinya.


“Trus AYA besok kerja gimana A’? tanya Julia, dia mulai ikut menyebut dirinya AYA.


“Ya biasa aja, kalau kamu mau temui, tinggal selesaikan. Kalau enggak mau temui ya kamu kerja lewat jalur khusus. Jalur CEO. Tak ada yang bisa pakai lift CEO di basement karena membukanya pakai password. Lift langsung masuk ruangan A’a. Jadi tidak ada yang tahu kamu masuk kerja. Saran A’a sih temui.  Biar tuntas!’ jawab Bastian.


“Kami sudah tuntas A’.  Dia pernah satu kali bohong, lalu AYA tahu. Dia janji tidak akan pernah bikin AYA marah lagi. Di depan kedua orang tuanya dia janji bila sekali lagi bersalah, maka tak akan pernah ada kesempatan ke dua. Kemarin waktu dia ke rumah untuk ngucapin selamat ulang tahun. Dia juga sekaligus minta balikan. Tapi AYA sudah bilang tak akan pernah ada kesempatan ke dua. Kalau sudah seperti itu, apa belum tuntas?” tanya Julia.


“Ok, minggu ini kamu boleh menghindar, tapi minggu depan kita akan hadapi bersama. Kalau dia masih ngotot ingin balikan, ya kamu minta orang tuanya untuk mengingatkan anaknya agar enggak mengganggu hidup kamu lagi. Karena kisah kalian sudah tamat.” Dengan tegas Bastian memberi rambu pada Julia. Dia juga tak ingin Julia merasa hidupnya tertekan karena dikejar mantan tunangannya.


Itu sebabnya August tak pernah bisa menjumpai Julia di kantor. Sedang di rumah, teh Imah memang selalu mengatakan Julia tak ada, dan di garasi memang tak ada mobil sehingga August percaya.


Flashback off


Julia mengamati mantan tunangannya yang masih rajin datang.  Setiap akan jam makan siang dia melihat dari ruang kerja Bastian yang memang bisa melihat area parkir depan. Sedang dari ruangannya yang terlihat area belakang kantor. “Kita harus bagaimana A’? tanya Julia. Dia merasa tak enak karena terganggu.


“Bilang ke bagian resepsionis, suruh dia meninggalkan nomor telepon untuk janjian bertemu jam makan siang. Nanti kita


temui dia dan minta dia menyudahi kekonyolannya berharap sesuatu yang tak mungkin lagi dia gapai. Kasihan juga bila kamu terus menerus menghindarinya seperti ini,” Bastian memberi saran agar Julia memberi kepastian pada August.


***


“Ada apa Mas?” tanya August bingung.


“Ini, baru saja Bu Julia menghubungi kantor, beliau minta Bapak meninggalkan nomor yang bisa dihubungi untuk janjian makan siang katanya,” satpam yang mengejar August memberikan secarik kertas dan spidol kecil pada August untuk menuliskan nomor teleponnya.


‘Bahkan kamu sudah tak mempunyai nomor teleponku?’ batin August. Teramat memilukan, namun dia tetap menuliskan nomor ponselnya. “Terima kasih ya Mas,” August segera meninggalkan kantor Julia.


“Selamat pagi, dengan Bapak August?” tanya penelpon di seberang sana. August baru saja menuliskan data penerbangan yang akan dia lakukan 2 jam lagi.


“Ya benar, dengan saya sendiri,” jawab August, dia melihat nomor yang menghubunginya adalah nomor telepon rumah atau kantor, bukan ponsel.


“Saya Randy Pak, saya diminta Ibu Julia, menanyakan kapan Bapak bisa bertemu makan siang dengan beliau. Bu Julia bilang, kalau beliau yang menentukan waktunya, takut Bapak sedang tak ada di Indonesia,” suara empuk asisten Julia jelas terdengar.


“Hari Kamis 3 hari lagi saya bisa,” balas August senang.


“Oke Pak, nanti saya akan memberitahu alamatnya via WA saya ya Pak, tak perlu bapak save nomor saya karena hanya akan memenuhi kontak Bapak saja. Hari Rabu saya konfirmasi tempatnya. Terima kasih,” tanpa menunggu jawaban telepon sudah ditutup.


August bisa mengira, dari permintaan pertemuan yang tidak langsung dilakukan Julia, dia sedikit menduga tak akan ada lagi yang bisa dia harap dari gadis baik itu. Tertutup sudah pinta maaf Julia untuknya. Namun dia tetap akan datang, setidaknya untuk menyatakan perpisahan pada wanita terindah yang dia kenal. Julia bukan mantan terindah. Karena baginya cinta pada Julia tak akan pernah pupus.


***


Di hari yang di janjikan, Julia dan Bastian datang 20 menit lebih dulu dari waktu pertemuan yang di jadwalkan. Bastian duduk terpisah dengan Julia, dia ingin nanti August dan Julia bisa bicara tuntas sebelum dia ikut gabung. Ternyata August datang lebih awal 10 menit dari jadwal.


“Wah Neng, kamu ternyata sudah datang lebih dulu?” sapa August, dilihatnya juice sirsak yang dipesan Julia sudah ada di meja.


“Iya Kak, tadi takut macet, nanti bikin Kakak kelamaan nunggu. Kakak mau pesan apa?” tanya Julia sambil menyerahkan daftar menu pada August. August menyebutkan menu yang ingin dia makan.


“Kemarin-kemarin nyari saya di kantor?” tanya Julia saat pesanan sudah ia berikan pada pramusaji yang bertugas.


“Eh … iya, tapi Eneng enggak pernah ada. Sibuk ya?” tanya August.


“Iya maaf, lagi dipinjam mantan direktur untuk kerja di rumah dia, jadi boss di kantor enggak bisa nolak kalau yang memerintah ayahnya,” jawab Julia santai.