
“Mau ngasih tau, anak-anak sebentar lagi sudah dibawa pulang oleh apa’ dan mamah,” jawabku. Tetap kupandangi wajah polosnya yang tetap cantik. Karena memang dia walau pergi keluar pun tidak berdandan berlebihan.
“Baru aja mamah ngasih tau aku,” oh ternyata dia sudah tahu lebih dulu dari mamahku.
“Aku akan datang nanti sore ya? Aku selesaikan dulu kerjaanku. Siang ini kamu jangan telat makan dan minum obat,” dia memberitahu kalau dia sedang sibuk. Aku sadar diri dan tak mau mengganggu kesibukan dirinya.
“Kalau kamu sibuk, enggak apa apa. Kamu enggak perlu maksain diri datang ke rumah sakit.”
Lalu hingga sore hampir berakhir dia tak juga datang. Aku lelah menantinya dan tertidur. Sampai terbangun saat merasa kandung kemihku sudah penuh. Tak kusangka ada gadis yang memelukku. Aku sangat bahagia, janjinya akan menemaniku berbaring disisiku saat nanti recovery sudah dia lakukan sejak malam ini. Aku bergerak pelan membuka pelukannya di tubuhku.
“Mau ke toilet?” tanyanya lembut, dia terbangun.
“Maaf, A’a ngebikin kamu bangun ya? A’a ngerepotin kamu,” aku memang ingin buang air kecil.
“Udah, enggak usah ngerasa bersalah begitu,” Julia turun dari bed dan membawa tiang infus serta mengantarkanku ke toilet. Lalu kembali menuntunku kembali ke bed. Dia melakukannya dengan hati-hati. Dan kembali dia pasang selimutku.
“Kamu kenapa enggak bobo lagi? Ini masih tengah malam. Enggak enak ya nemani A’a di sini?” tanyaku karena kulihat dia tidak kembali tidur.
“Mulai deh … tuh lihat cairan infusmu sebentar lagi harus diganti. Tanggung kalau aku tidur sekarang. Katanya mau berubah enggak selalu buruk sangka?” protesnya. Sekarang dia akan selalu protes bila kata-kataku tak berkenan dihatinya. Dia meraba wajahku dan membelai lembut.
“Maaf,” hanya itu yang bisa aku sampaikan untuknya. Aku bersyukur akan protes-protesnya. Karena dulu bila dia tak berkenan dengan kata-kataku dia hanya akan diam. Hal itu malah membuatku tak mengerti dan makin banyak membuat kesalahan karena aku terpancing emosi bila dia diam. Kuambil jemarinya di wajahku dan mengecup dengan lembut.
Esoknya Julia membersihkan wajahku yang sejak dia tinggal sudah tak kupedulikan lagi. “Aku enggak suka kalau kamu berantakan kayak gini,” ketus dia bicara melihat wajahku.
“Kenapa? Jelek?” tanyaku menggodanya. Wajah cantiknya sangat dekat dengan wajahku, membuatku tak mau membuang kesempatan itu. Kukecup bibirnya dengan lembut. Tak kusangka dia membalasnya. Jadilah itu first kiss kami.
Bastian end POV
Laura menunggu team dari biro jasa bangunan yang berjanji akan datang pukul 10.00 pagi ini. “Teh, Tamunya sudah datang,” Karni lapor pada Laura tamu yang dinantinya sudah datang.
“Baik, sebentar lagi saya temui di depan,” Laura menutup laptopnya. Dia tadi sedang mengecek keuangan panti. Bila harus mengangsur pada uwak Ganis, berapa kemampuan maksimal yang akan panti bayarkan.
“Assalamu’alaykum,” Laura menyapa kedua tamunya. Seorang perempuan muda yang terlihat sedang hamil walau belum terlalu terlihat. Dan seorang lelaki tampan.
“Alina,” perempuan itu mengulurkan tangan lembutnya. Perempuan ini terlihat ramah.
“Laura.”
“Ariano,” sang lelaki tersenyum sambil mengulurkan tangan juga.
“Laura.”
***
“Bundanya kemana Bik?” Ilyas bertanya pada bik Iyah yang sedang menggantikan diapers Ilham saat bayi itu menangis ketika bangun tidur.
“Mengantar pesanan Den, dekat koq,” bik Iyah menjawab sambil mengangkat Ilham dengan lembut.
“Sini, biar Ayah yang gendong ya?” Ilyas meminta Ilham dari gendongan bik Iyah. “Kamu tambah endut. Kangen Ayah enggak?” diciuminya pipi Ilham dengan gemas. Bayi itu terkekeh mendapat perlakuan seperti itu.
“Kamu tu anak Ayah atau Papa? Enaknya panggil Ayah aja deh ya? Jangan panggil mama, nanti panggillnya bunda. Biar match!” Ilyas bicara dengan bayi kecil itu. Dia memantapkan hati dengan panggilan AYAH.
Sepulang mengantar pesanan, Namira mampir belanja sayuran yang kurang. Dia juga membeli banyak mika karena kebetulan jalan menuju rumah bu Palupi melewati toko plastik langganannya. Sesampai di rumah Namira langsung meletakkan belanjaannya dan mencuci tangan serta mengganti kaosnya dengan kemeja agar mudah menyusui Ilham. “Sini Den, biar saya beri ASI dulu,” pinta Namira.
“Kamu mimi’ sama Bunda dulu ya, nanti sehabis mimi’ baru Ayah gendong lagi,” Ilyas memberikan Ilham pada Namira. Tentu saja Namira mendengar dengan jelas kata-kata Ilyas pada Ilham. Selama ini Namira membahasakan dirinya IBU pada Ilham. Walau bayinya tentu belum bisa mengerti. Tapi barusan dengan jelas Namira mendengar Ilyas mengatakan BUNDA dan AYAH.
‘Apa dia beneran serius?’ aneka tanya datang ke benak Namira. ‘Aku tak boleh memikirkannya. Dia terlalu sempurna. Sedang aku hanya sampah. Apa aku harus pindah dan sewa kamar lagi? Lalu bagaimana usahaku untuk mencari nafkah? Aku tak punya peralatan apa pun bila aku keluar dari rumah ini.’
“Bukankah seharusnya kamu bersiap untuk berangkat ke Bogor guna mengurus surat kuliahmu?” Ilyas mengingatkan Namira ketika Ilham sudah pindah tangan.
“Aden masih sakit, enggak boleh bawa mobil jauh. Dan lagi besok hari Jumat. Jam buka administrasi terlalu pendek. Kalau tidak selesai, dan pastinya tidak selesai dalam satu hari. Maka harus dilanjutkan hari Senin. Itu terlalu lama. Saya punya banyak tanggung jawab terhadap konsumen yang sudah memesan produk saya,” Namira berkelit tak mau ke Bogor bila untuk mengurus surat-surat administrasi kuliahnya.
“Mulai sekarang jangan panggil Aden atau tuan atau pak. Saya tunangan kamu. Itu yang harus kamu ingat!” Ilyas mengingatkan Namira dengan ketus lalu dia kembali masuk kamarnya.
“Ada apa dengan Aden?” tanya bik Iyah yang melihat kemarahan Ilyas. Karena sesalah apa pun. Sejak dia ikut dengan majikannya itu, Ilyas tak pernah marah padanya. Bi Iyah mulai menduga ada sesuatu yang tidak beres dengan Ilyas dan Namira. Bukan Namira yang terlihat mengejar cinta Ilyas. Tapi bik Iyah melihat Namira tak hendak merespon Ilyas.
Bik Iyah sering ditanya Novia apa Namira bertingkah aneh seperti mengharap cinta atau atensi pada Ilyas. Dan bik Iyah selalu menjawab Namira tak pernah bicara apa pun bila tak ada bik Iyah. Bahkan bila bicara dengan Ilyas Namira tak pernah berani menatap Ilyas. Bahkan bik Iyah tahu, Namira tak pernah memulai bicara dengan Ilyas. Hanya menjawab bila ditanya. Dengan bik Iyah Namira normal. Bisa bicara lebih dulu, bercerita akrab tanpa ada yang ditutupi.
\===============================================================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Jangan lupa tinggalin komen manisnya
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta