TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
TERNYATA DIA PRIA HEBAT!!!!



Harun dan Yuni sampai di lobby bersamaan dengan Bastian yang keluar dari lift khusus miliknya.


‘Untung enggak telat,’ Yuni langsung membatin dengan ucapan syukur. Haha kalau dibatin bukan ucapan ya?


“Selamat siang Pak,” sapa Harun. Yang hanya dijawab dengan anggukan.


“Ini, kamu yang bawa mobil,” Bastian menyerahkan kunci mobil miliknya pada Harun.


‘Yah, padahal kalau bukan aku yang nyetir, aku masih mau baca berkas ini,’ keluh Harun, tapi tak berani dia ungkapkan. Hanya dibatinnya saja.


‘Aku harus menunggu, di mana boss duduk. Baru aku masuk mobil,’ Yuni langsung berpikir untuk menentukan posisi duduknya. Ternyata Bastian memilih duduk di kursi belakang sehingga Yuni duduk di depan menemani Harun. Tak mungkin ‘kan dia duduk bersisian dengan big boss di belakang?


Yuni dan Harun yang baru satu kali ini mengikuti bos besar meeting tentu kaget dan sangat kagum saat melihat bagaimana bos besar mereka meyakinkan rekanan dalam bahasa German dan Jepang. Kalau bahasa Inggris, banyak dan umum yang bisa dan tak aneh bos besar menguasai karena dia ‘kan memang kuliah di Aussie. Tapi kalau 2 bahasa lainnya itu, kapan dan di mana bos besar mempelajarinya? Sehingga bisa langsung menjawab zoom meeting yang rekanannya adakan mendadak. Sang rekanan rupanya langsung melaporkan pada perusahaan induk mereka di Jepang dan German.  Saat staff rekanan hanya menggunakan bahasa inggris untuk bicara dengan kantor pusat mereka. Bastian malah mengajak orang kantor pusat rekanannya, dengan bahasa negara asal mereka.


‘Aku enggak nyangka, kemampuan big boss memang diatas rata-rata. Wajar dia berhasil. Ternyata keberhasilannya bukan karena mendapat warisan perusahaan saja, tapi memang dia orang hebat,’ Harun yang orang marketing sangat kagum pada Bastian.


‘Kerrreeeeeeeeeeeeeeen, big boss hebat banget. Aku kira dia cuma jago marah, ternyata dia emang orang hebat,’ Yuni mencatat semua yang dibicarakan dalam meeting itu semampunya. Dia hanya mengerti yang bahasa inggris, itu pun dengan susah payah.


***


‘Terima kasih, dan maaf baru bilang sekarang,’ Laura mengirim chat di WA juga membalas email berisi kiriman foto dan video lengkap acara yang di lakukan group nya August di panti asuhan miliknya. Tentu foto dan video ini berbeda dengan yang dia dapat dari ponsel August.


‘Sama-sama. Semoga suka. Dan saya juga minta maaf karena team baru selesai mengedit sehingga baru bisa kirim full,’ August yang memang sedang free langsung menjawab chat dari Laura.


Tak ada balasan lagi dari Laura. Dia memang hanya ingin berterima kasih. Bukan untuk berpanjang-panjang ngobrol. Perempuan cantik itu kembali serius pada sketsa gambarnya. Banyak ide yang sedang datang, maka dia harus segera menuangkannya di kertas agar bisa menjadi design gaun yang cantik.


“Momm, ada yang mau konsultasi bisa punya waktu?” Sukma datang setelah tadi Laura mempersilakan masuk ketika dia mengetuk pintu ruang kerja Laura yang tidak ditutup. Itu memang tata krama di panti. Semua harus ketuk pintu walau pintu tidak tertutup.


“Silakan aja. Saya bisa terima tamu koq,” dengan ramah Laura membolehkan tamu yang ingin bertemu dengannya.  Seorang gadis dengan seragam sekolah yang ditutup jaket jeans masuk. Wajahnya manis tapi terlihat sedih.


“Silakan dek,” Laura mengajak tamunya duduk di sofa ruangannya. Dan dia pun juga segera pindah dari meja kerjanya untuk duduk di sofa. Laura mengulurkan tangannya hangat. “Laura.”


Sukma datang mengantar segelas es sirop wlau di meja sofa sudah tersedia air kemasa gelas lengkap dengan sedotannya. “Silakan diminum Neng.”


“Terima kasih Teteh.”


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Laura setelah Sukma keluar ruangan itu.


“Saya bingung harus cerita dari mana,” lirih Wulandari bicara.


“Minum dulu biar tenang dan tarik napas panjang,” Laura berupaya menenangkan gadis itu.


“Saya hamil.”


Laura tak aneh, dia sudah menduga. Tapi seperti biasa dia tak mau berburuk sangka. Terlebih dia lihat gadis di depannya terlihat gadis baik-baik.  Untuk itulah dia masih diam, tak mau berkomentar. Menanti kelanjutan cerita dari tamunya.


“Orang tua saya kecelakaan sepulang dari pasar. Becak yang dinaiki kedua orang tua dan adik saya tertabrak truk dan mereka mati ditempat. Kejadian itu 3 tahun lalu ketika saya baru lulus SMP. Karena tak punya saudara lagi di Sragen, paklek ( paman ) saya membawa saya ke sini dan dia menyekolahkan saya di SMK. Tapi bibi tidak terlalu suka. Walau semua pekerjaan rumah sudah saya kerjakan,” Wulandari membasahi tenggorokannya sebentar.


“Dua bulan lalu bibi membelikan saya gaun, dan mendandani saya lalu mengajak saya ke cafe. Di cafe ada yang menunggu dan saat saya sadar saya sudah di hotel dengan seorang lelaki. Saya tidak menyangka bibi melakukan itu. Paklek saya tidak tahu,” Wulandari mulai terisak.


“Kejadian itu terulang lagi 3 minggu kemudian. Dan kemarin saya mulai merasa mual-mual dan saya sudah terlambat menstruasi. Pagi tadi saya test dengan test pack hasilnya 2 garis. Saya masih ingin lulus sekolah agar saya punya ijazah untuk menata masa depan saya. 3 bulan lagi saya ujian dan 4 bulan lagi saya lulus. Tapi saya tidak mau membunuh bayi ini. Tolong saya untuk bisa keluar dari rumah bibi agar bayi ini selamat. Saya mau bekerja di sini. Nanti sehabis lulus saya akan menunggu kelahiran bayi saya lalu saya akan bekerja untuk nafkah hidup kami berdua. Saya tak ingin bayi saya diberikan pada orang lain. Dia dan saya tak bersalah. Saya ingin bayi ini tetap hidup dan saya akan memperjuangkan hidup kami,” selesai sudah Wulandari menceritakan deritanya.


“Saya bukan tak mau menolong kamu. Tapi apa alasanmu untuk keluar dari rumah bibi mu? Tentu saya tidak ingin ikut terlibat masalah dengan bibimu. Kalau kamu bisa keluar dengan baik, keluar karena bibi dan paklekmu mengetahui, bukan kabur, tentu saya bisa menerima kamu kerja paruh waktu di sini di luar jam sekolahmu.” Laura kasihan terhadap nasib gadis di depannya. Tapi tentu tak mau ikut berpolemik dengan pihak mana pun. Kalau memang gadis itu bisa keluar dari rumah bibinya dengan jelas, bukan kabur tentu dia sangat mau menolong. Terlebih dia kagum selama ini gadis itu sudah menghidupi dirinya sendiri.


\==============================================


YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta