
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
***Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta ***
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Mommy ….” teriak Fahri. Laki-laki kecil itu langsung berlari ke ruang tengah saat dipersilakan masuk oleh Bik Sanah.
“Hai Jalunya Mommy,” Laura memeluk dan mengecup kening Fahri. Claudia dan Anjas hanya tersenyum melihat putri mereka bahagia.
“Asslamu’alaykum Mom,” sapa Nazwa yang baru masuk ruang tengah.
“Wa’alaykum salam cantiq,” seperti tadi, Laura pun mendekap Nazwa dan mengecup kening gadis kecil nan manis itu.
“Itu salim oma dan opa ya sayang,” Laura mengajak kedua anak Syahrul untuk berkenalan dengan kedua orang tuanya. Dia sendiri belum bercerita status Syahrul pada kedua orang tuanya itu.
“Siapa mereka sayang?” tanya Claudia, pura-pura tidak tahu kalau Syahrul adalah duda anak dua.
“Ini anak-anak Kakak Ma,” sahut Laura tanpa ragu. Claudia dan Anjas tersenyum manis tanpa penolakan.
“Sini Jalu sama opa,” Anjas langsung memanggil Fahri. “Siapa namamu jagoannya Opa?” suatu kalimat yang langsung membuat semua yang mendengarnya bahagia. Anjas jelas mengatakan Fahri adalah jagoannya. Itu artinya dia mengakui Fahri adalah cucunya.
“Fahri Opa, Oma,” sahut siganteng sambil menyalami kedua orang tua Laura.
“Kalau yang cantik ini siapa namanya?” tanya Claudia.
“Nazwa Oma,” sahut Nazwa yang sudah meneteskan air mata bahagia. Dia tak menyangka Laura menyebutnya sebagai anaknya pada kedua orang tuanya.
Syahrul yang berdiri agak jauh hanya bisa berucap alhamdulillah dalam hatinya. ‘Mereka tak keberatan dengan status duda yang aku sandang. Apa Laura sudah menceritakannya? Tapi sampai tadi sebelum aku berangkat kesini Laura bilang dia tidak cerita apa pun tentang anak-anak pada mama dan papanya.’
‘Aku yakin, mama dan papa sudah tahu soal abang dan kedua anak-anaknya dari uwak. Aku tak perlu cerita lagi. Aku hanya ingin tahu, mereka menolak atau menerima keberadaan Syahrul yang duda beranak dua,’ demikian tadi siang pikiran Laura saat meminta Syahrul datang bersama kedua anaknya malam ini.
“Sini Bang,” Anjas memanggil Syahrul untuk ikut duduk dengannya. Dia memanggil Syahrul dengan sebutan Abang seperti yang Laura gunakan. Itu artinya Anjas menerima Syahrul sebagai pria pilihan putrinya.
Selanjutnya pembicaraan diruang itu hanya tanya jawab opa dan oma baru terhadap dua cucu mereka. Cucu dadakan.
“Neng, makan malam sudah siap,” bik Sanah memberi tahu Laura makan malam sudah bisa dilakukan.
Dimeja makan seperti biasa Laura mengambilkan nasi, sayur dan lauk untuk wak Ganis terlebih dahulu. Baru dia mengambilkan makan untuk Fahri dan Nazwa. Claudia memperhatikan perilaku putrinya. Dia bangga sang putri tetap memberi penghormatan untuk kakak iparnya.
“Kakak enggak ambilin Mama Papa ya,” Laura memang hafal kebiasaan kdua orang tuanya. Mereka tidak makan nasi saat makan malam. Hanya sayur dan lauk tapi dalam jumlah banyak.
“Kenapa Mom?” tanya Nazwa yang bingung mengapa mommynya tidak mengambilkan oma dan opanya makan.
“Nanti kakak lihat sendiri aja,” sahut Laura sambil memberikan piring berisi nasi dan lauk untuk Syahrul.
“Sayurnya pakai apa?” bisik Laura, kebetulan Syahrul duduk disebelahnya. Saat ini ada sayur bening buncis dan labu siam serta tumis pare belut ( pare panjang tanpa duri sama sekali ).
“Tumis pare aja. Sayur beningnya nanti aja sesudah nasinya habis,” jawab Syahrul.
“Oma dan Opa lama disini?” tanya Fahri tanpa ragu.
“Kamis kami pulang ke Jakarta. Kenapa sayang?” tanya Claudia lembut.
“Pengen ajak Oma dan Opa kekebun Mommy. Kita bisa panen sayuran seperti hari Sabtu kemarin,” balas Fahri.
“Kebunmu sudah panen Kak?” tanya Anjas.
“Sudah Pa. Sudah bisa menghasilkan untuk tambahan kas panti asuhan,” jawab Laura.
“Sebenarnya papa ingin kita pelihara ikan. Kalau kamu tahu ada lahan yang dekat sehingga bisa mudah kita awasi, beritahu Papa ya. Biar nanti Jalu yang jadi pengawasnya,” Anjas menggulirkan wacana membuka kolam ikan untuk penambah uang dapur panti asuhan.
“Mau pelihara ikan apa Pa?” tanya Syahrul.
“Yang mudah dijual disini saja. Jangan sesuai kemauan kita tapi sepi peminat,” sahut Anjas.
“Kalau yang mudah laku disini ya hanya lele, patin dan nila Pa. Kalau ikan mas sulit pemeliharaannya karena dia harus diair mengalir. Sedang gurame hanya pengepul tertentu yang berani ambil,” ucap Syahrul. Dia hafal soal budidaya ikan dan bebek karena dulu papanya juragan ternak di kampungnya selain punya toko bahan bangunan.
“Kak, Abang ngerti banget soal pemeliharaan ikan, sudah kamu cari lahannya aja biar Papa yang bayar. Nanti modal beli ikannya dari Mama,” Claudia menyuruh Laura bergerak.
“Enggak ngerti banget Ma. Cuma kebetulan dulu ayah saya punya tambak. Jadi saya hanya sekedar tahu saja,” Syahrul merendah soal pengetahuannya tentang budi daya ikan.
“Udah lama banget enggak makan pare belut,” Claudia mengambil sayur lagi.
“Oma dan Opa enggak makan nasi?” tanya Nazwa setelah sejak tadi memperhatikan Anjas dan Claudia makan.
“Begitulah mereka,” sahut Laura. “Kakak sayur beningnya tambah ya?”
“Iya boleh Mom, sedikit aja ya,” Nazwa setuju dengan tawaran Laura.
“Kalian besok pulang sekolah jam berapa?” tanya Anjas. Dia paling suka dengan anak kecil.
“Kakak jam dua, ade jam satu Opa,” sahut Fahri.
“Besok Kakak jadwal les sampai jam berapa?” Laura bertanya cepat khawatir papanya mau mengajak anak-anak jalan-jalan.
“Besok les off Mom. Karena menjelang semesteran,” sahut Nazwa.
“Jam tiga besok kalian bersiap Opa jemput ya, kita pergi dengan Oma dan Opa saja,” benar seperti dugaan Laura. Anjas mengajak kedua anak itu untuk pergi dengannya.
“Kalian boleh ikut Opa dan Oma asal kalian sudah kerjakan tugas. Dan jangan banyak makan ice cream,” Laura langsung memberi batasan pada kedua anak itu. Dia tahu papa dan mamanya akan membiarkan apa pun yang diminta anak yang mereka ajak jalan. Itu selalu terjadi saat papa dan mamanya mengajak keponakan mereka.
“Eh … Papa ngajak anak-anak jalan, enggak izin ke daddynya dulu,” Laura baru ingat Anjas belum izin pada Syahrul.
“Buat apa izin ke Abang kalau Mommynya sudah kasih izin?” goda Claudia.
“Bener Ma,” sahut Syahrul cepat membuat dia dapat cubitan diperutnya dari Laura.
“Sakit Yank,” reflek Syahrul menyebut Laura dengan panggilan Yank. Nazwa sadar, daddy dan mommy nya sudah ‘jadian’.
‘Akhirnya penantianku memiliki mommy seutuhnya menjadi akan segera menjadi kenyataan,” batin Nazwa.
‘Bang maaf. Ini sudah malam. Anak-anak besok sekolah. Kalau ikutin mama dan papa, mereka bisa disuruh nginep,’ Laura mengirim pesan pada Syahrul lalu dia sengaja miss call agar Syahrul segera membaca pesannya. Bukan dia mengusir. Hanya dia tak enak kalau dia menyuruh anak-anak pulang.
“Sudah malam, besok kalian sekolah. Kita pamit dulu yok,” ajak Syahrul pada kedua anaknya. Dia tak membalas pesan Laura. Hanya langsung bertindak.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sambil nunggu Yanktie update bab berikut, coba mampir ke cerita milik teman baik yanktie ini ya.
Napennya : FEBYANTI
Judul cerita : GADIS BAYARAN TERJERAT CINTA TUAN MUDA
Cerita singkatnya seperti ini :
Sahara adalah gadis bayaran yang terjerat dengan seorang pemuda bernama Juan Ardinata. Sahara disuruh oleh ibu kandung Nadien, untuk menghancurkan hubungan mereka hanya karena kesalahpahaman.
Akibat ulahnya hubungan Juan dengan Nadine (sang kekasih) pun berakhir.
Lantas, akankah Juan memaafkan Sahara?
Lalu, bisakah Sahara terlepas dari jeratan Juan Ardinata karena ia telah merusak hubungan lelaki itu dengan kekasihnya?