
DARI SEDAYU JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA
\~\~\~\~\~
Di rumah sakit yang sama tapi beda ruangan.
“Pengen pulang Mi,” rengek Wulan pagi ini pada Nenden.
“Mami enggak bisa nentuin. Tunggu dokter ya,” bujuk Nenden. Dia tahu secara medis janin dan tubuh Wulan sudah kuat. Dokter hanya masih memantau luka kejiwaannya. Semalam Wulan mengatakan dia sangat terluka dan tak suka hanya dijadikan keset oleh suaminya.
Setelah diberi afirmasi oleh dokter Krisna, akhirnya Wulan tahu dia salah tangkap dengan kata-kata August yang malah bertujuan melindungi janinnya agar dia tidak meladeni perempuan seperti Vallen.
Tadi dini hari Wulan sudah memanggil August untuk memeluknya sehabis lelaki itu pulang dari salat di mushola berdua dengan Prabu.
“Yaaaah,” panggil Wulan pada August agak keras.
“Yaaaa,” August tergopoh masuk ruangan. Dia memang selalu stand by di teras kamar rawat istrinya.
“Dede minta bobo dirumah,” bisik Wulan. Dia meminta August memeluknya dengan merentangkan kedua tangannya pada August.
August mengusap perut istrinya lembut. “Sabar ya De, tunggu dokter datang sebentar lagi. Ayah tahu Dedenya pintar enggak akan rewel. Tunggu Dokter dulu ya sayanknya Ayah,” jawab August lembut seakan bicara dengan putranya.
August pun berbaring disisi Wulan dan erat memeluk istrinya. Berulang kali dia kecup kening dan pelipis istrinya yang sudah mau memaafkan dirinya. Walau dia tahu dia tak salah saat kejadian kemarin. Sekarang yang penting bukan memikirkan siapa yang salah. Tapi hubungan baik dengan istrinya.
“Kalau kita boleh pulang hari ini. Ibu dan Dede mau enggak satu minggu ini tinggal di rumah Mami di Jakarta? Ayah enggak mau ninggalin Ibu sendirian saat baru sembuh. Atau paklek dan Riesty tinggal di rumah kita nemani Ibu dengan catatan Ibu enggak boleh sibuk masak atau beres-beres rumah,” August memberi dua alternative bagi Wulan. Karena lusa dia harus mulai masuk kerja di penerbangan. Dia belum resign dari maskapai. Tak mudah untuk resign karena dia masih usia produktiv. Tapi tugasnya sebagai CEO di perusahaan papinya tak bisa ditunda.
“Di rumah aja ya. Sama paklek dan Riesty. Tapi boleh terima teman datang?” tanya Wulan. Dia merasa tak enak di rumah mertuanya saat sakit. Kalau sehat tentu dia suka.
“Ya sudah di rumah. Nanti Ayah kasih tau paklek dan Riesty. Dan akan Ayah pesankan paklek ngawasin kamu. Setiap hari beli mateng aja makannya. Dede enggak boleh sakit. Kemarin detak jantung dia melemah,” sahut August kembali mengusap perut Wulan seakan sedang mengusap kepala bayi mereka.
“Maafin aku ya Mas,” bisik Wulan lirih. Dia merasa bersalah mempunyai pikiran buruk terhadap August. Dia melihat ketulusan August dan kedua orang tuanya menerima dia dan bayi dalam kandungannya.
“Enggak ada yang salah. Ibu seperti itu karena pengaruh hormonal. Dan kita emang belum terlalu dalam mengenal pasangan kita. Satu yang Ibu harus ingat. Ayah sudah tak ingin bermain-main. Ayah ingin menjadi imam yang baik buat Ibu dan anak-anak kita kelak. Masa lalu Ayah memang kelam. Tapi kedepannya Ayah ingin berbuat yang terbaik. Dan ingat, Ibu enggak boleh sedih biar Dede juga bahagia,” bisik August. Dia segera turun dari brankar karena mendengar pintu ruang rawat dibuka.
“Selamat pagi bu Wulan. Bagaimana tidur semalam?” tanya dokter yang pagi ini masuk keruangan. Dia adalah dokter kandungannya Wulan.
“Lelap Dok,” sahut Wulan jujur. Semalam setelah dia tahu kalau August tak bermaksud berpaling setelah diberi pengertian oleh dokter Krisna, dia menjadi tenang. Sehingga bsa tidur dengan tenang.
“Saya lihat data anda tadi malam hingga pagi ini, kondisi Ibu sangat baik. Kita tunggu sampai catatan nanti malam ya. Kalau terus membaik. Besok pagi anda bisa pulang. Dan ini resep terakhir ya Pak August. Kalau semakin baik tak akan saya beri resep tambahan,” dokter mencoret-coret nama obat di buku resep yang dia bawa.
“Ibu saya beri izin pulang. Tapi bed rest satu minggu. Atau Ibu tinggal disini satu minggu lagi biar tidak nakal di rumah,” sahut dokter manis itu sambil senyum menggoda.
Jelas sudah. Wulan boleh pulang tapi bed rest. Sedikit menyulitkan karena dia akan sendirian di rumah bila siang. Paklek dan Riesty hanya ada sore hingga pagi saja. Tapi baagi Wulan dan August itu lebih baik karena pikiran Wulan lebih bebas.
‘Aku akan berpesan pada Kemuning, bila dia datang ke rumah, untuk mengingatkan Wulan tak banyak bergerak karena kesehatannya lebih penting daripada menjamu tamu.’ pikir August.
Usul agar Wulan di Jakarta sebenarnya dari Nenden. Dia tak tega meninggalkan menantunya sendirian di rumah. Tapi dia besok ada kegiatan penting yang tak bisa diwakilkan. Jadi sore ini dia harus pulang ke Jakarta. Dia meminta August untuk mencari tenaga pembantu sementara dari yayasan untuk satu minggu kedepan. Kalau bisa jangan yang anak muda tapi yang biasa merawat orang tua.
August sudah menghubungi Paklek apa dia ada pandangan orang yang bisa membantunya selama satu minggu sebelum dia mencari random di yayasan.
“Paklek bilang ada uwak Jum, Mi. Dia bersedia menginap satu minggu. Dia tadinya tukang sayur matang. Sekarang tidak bekerja karena kehabisan modal. Dagangannya habis berantakan saat dikejar satpol PP padahal dia belum dapat uang. Jadi dia sekarang menganggur,” jawab August ketika maminya menyuruh segera mencari teman bagi istrinya.
“Bagus itu. Kalau memang dia jujur dan bisa diterima Wulan, biar saja dia bekerja terus dengan kalian. Sementara ini tiap kamu ada di rumah dan Wulan masih ingin berdua, biar uwak tak perlu datang saat kamu libur. Tapi tetap digaji,” Prabu malah senang karena menantunya akan ada yang menemani.
***
Kemarin Almi ditemani Misah sudah memutuskan mengontrak sebuah toko dekat pemukiman dan pasar yang akan dijadikan tempat usaha milik Almi. Lalu hari ini Almi mulai merapikan dan memerintah tukang merombak layout toko menjadi dua bagian terpisah. Dia juga sudah memberitahu tukang tentang cat yang dia inginkan sesuai dengan jenis usahanya itu.
“Besok jadi kamu ke Bandung?” tanya Misah pada Almira.
“Iya jadi. Bibi jadi kan menemaniku?” tanya Almi.
“Iya. Izinku sudah disetujui. Aku selama ini memang tak pernah mengajukan cuti. Jadi mudah aja cutiku turun,” sahut Misah. Dia sedang mengangkati jemuran dan memindahnya kedalam karena sudah malam dan besok rumah akan kosong.
“Kita naik travel aja ya. Biar enggak repot,” Almi berniat menggunakan travel saja ke Bandung.
\=================================================================
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta