
August baru saja sampai ke Indonesia. Saat tanpa sengaja dia melihat siluet Julia diantara rombongan wisata di bandara keberangkatan ke luar negeri. ‘Tumben yayah dan bubu mengijinkan Eneng pergi sendirian ke luar negeri. Andai saja aku yang jadi pilot pesawatnya, setidaknya di negara tujuan aku bisa ngobrol sebentar dengannya,’ pikir August sambil memandang punggung Julia yang makin menjauh. Dia perhatikan rombongan Julia dan dia tanyakan pada petugas di bandara rombongan itu akan menuju ke mana. Setelah mendapat jawaban, August bergegas kembali ke kantornya untuk menyerahkan laporan perjalanannya. Lalu dia akan lanjut pulang ke rumah orang tuanya. Minggu lalu sepulang dari Aussie dia juga langsung tidur di rumah orang tuanya. Sekarang sehabis dari Canada dia juga ingin tidur di rumah orang tuanya.
***
Bastian bukan CEO yang punya asisten merangkap sahabatnya seperti di novel-novel itu. Dia menjabat menjadi pemimpin sepulang dari Aussie. Dia sendirian dan mampu meng handle semuanya dengan bantuan tangan dingin kekasihnya. Sekarang tanpa Julia dia harus melakukan semuanya sendiri. Jadwal dua minggu kedepan memang sudah rapi tersusun oleh Julia. Dan tadi Fanny juga menyerahkan amplop kecil berisi password file komputer mejanya.
Hari ini untungnya tak ada meeting. Saat jam makan siang Bastian langsung pulang. Dia ingin makan di rumah dan bercerita dengan mamahnya. Bastian bisa memastikan, sehabis ini Julia akan menghilang dari pandangannya. Dia yakin Julia tak ingin lagi hubungan mereka berlanjut.
“Tumben De, makan siang pulang. Kenapa enggak ajak Yaya?” Tanya bu Achdiyat, dia tahu hubungan putra bungsunya dan Julia semakin baik dan bahkan minggu lalu Bastian minta agar orang tuanya segera melamar Julia. Bastian hanya diam, dia masuk kamarnya dan mengganti pakaian dengan kaos santai serta celana selutut pertanda tak ingin kembali ke kantor.
“Uncle …!” pekik kedua keponakannya hampir bersamaan.
“Halloooo kesayangan Uncle, kalian dari mana?” tanya Bastian sambil memeluk keduanya.
“Habis beli fu yung hay dan kwetiauw seafood,” balas Guntur.
“Mamah lagi malas masak. Kayak ada yang enggak enak aja di hati, sejak semalam ada rasa was-was,” sang ibu menerangkan mengapa makan siang ini mereka membeli lauk untuk makan siang. Ternyata sang ayah tidak hanya membeli lauk makan siang, tapi juga lauk makan malam yang nanti tinggal dihangatkan saja.
‘Apa mamah punya feeling kalau AYA ngambeg dan meninggalkanku? Bagaimana aku menceritakan semua ke mamah dan apa’? Bastian makin galau memikirkan bila sang mamah punya felling yang teramat dekat dengan Julia.
Pak Achdiyat melihat putra bungsunya pulang makan siang sendirian dan langsung berganti baju rumah sudah mencurigai ada sesuatu yang salah dengan putra bungsunya itu. Namun dia sengaja tak akan bertanya. Dia ingin sang putra mengeluarkan keluh kesah atas kesadaran sendiri. Bukan karena desakannya.
Saat mereka duduk bertiga karena si kembar tidur siang, Bastian tak tahan tidak menceritakan kesedihannya pada kedua orang tuanya. “Mah, Pa’ andai AYA tak bisa jadi menantu kalian, Ade minta maaf,” lirih Bastian minta maaf pada kedua orang tuanya.
‘Dugaanku tidak salah,’ Adi membatin sambil memindah pandangan matanya dari koran yang sedang dibacanya ke wajah anaknya yang sedang menunduk.
“Apa yang terjadi De? Kenapa Yaya enggak mau sama kamu?” tentu bu Kusumastuti atau yang biasa di kenal dengan bu Tuti atau bu Adi itu bingung mengapa gadis yang disukai keluarga mereka memutuskan tak mau menerima Bastian.
“AYA sudah resmi mengundurkan diri tanpa bertemu Ade. Dan sekarang dia sedang pergi ke luar negeri,” jelas Bastian.
“Enggak mungkin Yaya keluar kalau hanya kesal satu kali. Dia pasti sudah memendam lama kekesalannya. Sehingga saat akumulasinya mencapai puncak, dia langsung memutuskan mengambil jalan itu,” bu Tuti memberi asumsi seperti itu. ‘Apa ini yang membuat sejak kemarin perasaanku tak tenang?’
“Aku enggak marahin Pa’, kemarin dia keluar makan bareng teman-temannya. Lalu dia kembali kantor bawa nasi ayam buat Ade. Dia tanya ke Ade sudah makan belum, tapi Ade enggak jawab. Lalu dia suapin Ade seperti biasa, tapi Ade masih kesal, jadi Ade enggak buka mulut. Habis itu AYA keluar ruangan. Sampe dia pulang Ade enggak bisa bujuk dan minta maaf, karena dia selalu bersama teman-temannya. Tadi pagi Ade sampai kantor sudah ada surat resign resmi yang sudah ditandatangani manager personalia. Ade telpon ke ponselnya enggak bisa. Kata bubu dan yayahnya, AYA pergi ke luar negeri. Dan emang teman-temannya juga bilang dia kasih foto-foto selama dia pergi sejak tadi pagi. Sekarang dia baru sampai Singapore Mah,” jelas Bastian panjang lebar.
“Lalu kenapa kamu berpendapat dia akan menolak kamu?” tanya bu Tuti.
“Kalau hanya marah, dia enggak akan resign Mah,” jawab pak Adi bijak. “Dia sudah sangat sakit hati terhadap anakmu!” pak Adi tidak menyebut anak kita. Artinya dia juga kecewa terhadap Bastian.
“Please bantu Ade Pa’ bantu agar AYA mau kembali padaku,” dengan menghiba Bastian memohon bantuan apa’ nya. Namun pak Adi bergeming. Dia tak mau mengurusi hal itu. Dia yakin mantan sekretarisnya sangat tertekan terhadap Bastian. Selama bekerja dengannya Julia tak pernah sekali pun mengecewakannya, gadis itu selalu manis dan penurut. Tak pernah sekali pun Julia berbuat curang atau membantah. Dan dia juga tahu Julia punya genk di kantornya.
“Apa’ enggak bisa bantu kalau soal maaf dari Yaya, dia sangat baik, lembut dan menurut. Kalau dia sampai memberontak seperti sekarang, artinya kesabarannya sudah diambang batas toleransi.” Achdiyat mengatakan pendapatnya dengan perih. Dia memang sangat menyukai Julia dan saat pertama dia melihatnya dia punya rasa ingin memiliki Julia sebagai pengganti anak perempuannya yang sudah meninggal. Awalnya Achdiyat ingin menganggap Julia sebagai anaknya saja, tak perlu menjadi menantunya.
“Mah?” ajuk Bastian pada sang ibu.
“Mamah enggak bisa menjanjikan. Tapi akan Mamah usahakan bicara padanya setelah dia pulang nanti. Tapi kalau kondisinya seperti yang Apa’ bilang tadi, kamu tak bisa berharap banyak!” balas bu Tuti. Tuti makin sedih mengetahui Julia akan menjauh darinya.
Bastian sadar akan kondisi yang dihadapinya saat ini setelah mencerna omongan ayahnya ‘kalau hanya marah, dia enggak akan resign Mah. Dia sudah sangat sakit hati terhadap anakmu!’
\======================================
YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.
Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta