TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
DIA KEKURANGAN, TAPI TETAP INGIN MEMBERI



YANKTIE ( eyang putri ) mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini.


Jangan lupa kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


***\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=   ***


Syahrul bahagia menatap kedua buah hatinya makan dengan lahap. Mereka makan hanya bertiga karena Laura tak mau ikut makan malam dengan keluarga kecil itu. Laura membiarkan mereka bertiga kembali merajut kasih yang kemarin sempat sedikit terkoyak.


Sesuai request anak-anak, kali ini mereka makan sate kelinci di rumah makan sate favorite mereka. “Mau tambah?” tanya Syahrul.


“Enough,” jawab Fahri. Sedang Nazwa hanya menjawab dengan gelengan kepala.


“Kakak besok mulai sekolah ya,” Syahrul mengingatkan Nazwa. Karena gadis kecilnya sejak sakit dan kemarin menginap di rumah Laura tidak berangkat ke sekolah.


“Iya,” jawab Nazwa pelan. Dia masih malas bicara.


***


Ilyas senyum-senyum mendengar cerita Nindi di meja makan kali ini. Makan malam sekarang menjadi lebih ramai. Biasanya dia hanya berdua dengan bik Iyah dan tak ada cerita menarik. “Tadi Kakak dapat pelajaran tambahan sebelum dan sesudah pulang sekolah. Kata bu guru biar Kakak bisa ngikutin pelajaran. Kata bu guru teh seminggu Kakak enggak boleh keluar sama-sama teman yang lain,” demikian Nindi bicara dengan bahagia.


“Bagus itu. Kakak enggak boleh sedih karena pulang tidak bareng teman-temannya. ‘Kan emang Kakak ketinggalan pelajaran waktu berhenti sekolah di Bogor!” Ilyas memberi semangat agar Nindi tidak minder.


“Ilham enggak rewel ‘kan Bik?” tanya Ilyas.


“Enggak Den, alhamdulillah,” jawab si bibik cepat. “Kan ditinggal juga enggak lama.”


“Kalau kamu mau ninggalin Ilham lama, mungkin kamu bisa siapkan ASI dalam botol. Selama masih bisa ASI, jangan beri su5u formula, karena itu yang terbaik untuk bayi,” Ilyas menasehati Namira.


“Iya Den,” dengan menunduk Namira menjawab. Sampai saat ini perempuan muda itu tak pernah berani memandang tuan penolongnya. Dia tak ingin dianggap mengharap perhatian lebih atau tanggapan lainnya. Bik Iyah sangat memperhatikan hal itu. Dia tahu Namira sama sekali tak berharap lebih. Bik Iyah tahu Namira tahu diri. Sehingga perempuan tua itu makin senang terhadap Namira. Terlebih tadi pagi perempuan muda itu bertanya, dia boleh tidak jualan kue untuk mendapatkan uang. Karena biar bagaimana pun Namira ingin punya income. Tidak ingin bergantung penuh pada dokter Ilyas. Sebagai perempuan tentu Namira butuh uang untuk beli pembalut, bedak, lipstick, shampoo, deodorant dan lain-lain. Semua itu tentu tak ingin dia minta uang dari sang penolong. Itu tadi alasan yang Namira kemukakan. Dan bik Iyah membolehkan asal tidak mengganggu waktu saja. Namira ingin membuat gorengan lalu akan dia titip di kantin sekolah dan warung sayur depan sekolah. Tiap pagi dia antar, lalu esoknya akan diambil sisanya sekalian ngedrop kue baru. Ternyata Namira sudah bertanya pada penjaga kantin dan pemilik warung. Mereka setuju dititipi, karena bukan beli putus, melainkan konsinyasi. Sehingga tidak memberatkan warung yang dititipi. Barang yang dibayarkan hanya sebesar yang laku terjual.


Besok  niatnya Namira ingin membeli peralatan untuk menitip kue dan bahan baku kue. Dia akan membuat mini donut kentang dan risoles ayam. Risoles akan dia buat sekalian lalu disimpan frozen sehingga setiap habis subuh Namira tinggal menggoreng. Sedang donat kentang pun demikian, bedanya untuk donat disimpan setengah matang lalu paginya digoreng matang. Jelas tidak setiap hari Namira mengadoni kue. Cukup seminggu sekali saja. Selebihnya tiap pagi hanya menggoreng saja. Tentu itu tak akan merepotkan.


“Apa perlu saya minta izin pada den Ilyas terlebih dahulu Bik?” tanya Namira. Dia tentu takut salah.


“Bibik yakin, den Ilyas tak akan marah. Tapi ada baiknya kamu beritahu saja. Karena tujuanmu baik,” bi Iyah yakin Ilyas tak marah atau malu.


***


“Maaf Den, saya ingin bicara,” Namira duduk bersimpuh di lantai. Dia mendekati Ilyas yang sedang menonton berita di televisi sehabis makan malam.


“Sejak kapan saya membolehkan orang bicara dengan saya sambil duduk di lantai?” Ilyas menegur Namira.


“Duduk di kursi,” perintah Ilyas lagi.


“Maaf,” Namira akhirnya memilih duduk di kursi yang agak jauh dengan Ilyas. “Den, maaf. Niatnya saya ingin jual gorengan yang saya titip di kantin sekolah dan warung sayur. Saya mohon di izinkan, karena saya ingin ada income sendiri.” Terbata Namira mengatakan niatnya.


“Kenapa? Apa semua yang saya berikan kurang?” tanya Ilyas. Dia sesungguhnya tak keberatan niat Namira. Hanya ingin tahu alasan perempuan gigih ini.


“Semua yang tuan berikan sudah sangat berlebih. Namun saya tetap ingin mandiri walau hanya kecil. Setidaknya saya tidak hanya menadah tangan. Sehingga bila saya ingin memberi, saya punya uang pribadi.” Jawaban Namira ini menohok Ilyas. Dia tak percaya, walau kekurangan, perempuan ini juga ingin memberi.


“Saya tidak melarang. Bahkan saya mendukung niatmu. Asalkan tidak mengganggu tugasmu membimbing Nindi dan Ilham,” dengan senang hati Ilyas mendukung niat Namira. “Apa kamu butuh modal dariku?”


*‘Saat orang lain minta dibantu, kamu ditawari bantuan saja menolak!’ *ilyas memberi poin positive pada sikap Namira ini.


“Permisi Den, terima kasih atas izinnya,” Namira pun pamit dari hadapan Ilyas. Dia plong niatnya tak dilarang oleh dokter muda nan dermawan itu.


“Alhamdulillah tuan ngasih izin Bik,” Namira melaporkan ke bibik soal izin yang dia ajukan pada ilyas.


“Kalau begitu besok kamu bisa belanja alat dan bahannya. Sehingga lusa bisa mulai produksi dan hari berikutnya bisa mulai menitip dagangan,” bibik sudah menduga, Ilyas tak akan menghalangi orang untuk berusaha.


“Iya Bik, insya Allah besok saya mulai belanja bahan baku kering dan alat-alat untuk titip dan membuat kuenya. Sedang bahan basah seperti ayam lusa aja belinya saat akan diolah,” Namira tersenyum. Dia semangat akan memulai usahanya.


“Sekarang kita istirahat, daftar belanjaan sayuran besok pagi ya, Bibik malah lupa besok mau beli apa saja,” bibik segera keluar dari kamar Namira.


***


Laura tersenyum saat mendapat chat pagi ini. ‘Morning Mommyku sayang, pagi ini aku akan berangkat sekolah. Love U Mom.’


‘Love U too Babe,’ balas Laura. Kalau tidak langsung dibalas, putri kecilnya tidak akan sempat membaca, karena ponselnya akan dia tinggal di mobil. Sebab siswa tak diperkenankan membawa ponsel saat jam pelajaran.


Laura bergegas mengecek ke panti, sebelum hari ini berangkat ke butiknya di Bandung. “Sudah di data apa yang kosong?”


“Ini Mom,” Sukma memberikan data yang hampir habis.


“Sepertinya saya lama tidak beli susu dan diapers ya?” Laura membaca daftar yang dia baru terima.


“Itu karena pak August rutin membelikannya. Dia membawakan setiap datang,” jawab Sukma.


“Begitu ya, padahal sekarang tiap bulan dia juga rutin mengisi rekening panti atas nama pribadinya, bukan dari club motornya,” Laura berkata lirih, namun Sukma bisa jelas mendengar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sambil nungggu yanktie update bab baru, baca cerita milik teman yangktie ini yaaaaaa


judul cerita GADIS SCORPIO  penulis ADINDARA   pastinya hanya di NOVELTOON/MANGATOON ya


Cerita singkatnya seperti ini :


"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.


"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.


Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.


"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.


"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.


Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.