TELL LAURA I LOVE HER

TELL LAURA I LOVE HER
RENCANA KEJUTAN NENDEN ~ WULAN



HAI HAI HAI


SEMOGA SEMUA SELALU SEHAT DAN BAHAGIA KETIKA MEMBACA BAB KEDUA  MALAM INI


SELAMAT MEMBACA



Pagi ini di panti asuhan ada sedikit kehebohan. Ada yang mengantarkan bayi yang dia temukan dalam kardus dibelakang rumahnya. Seperti biasa Karni langsung menghubungi dokter yang hari ini bisa segera datang.


Dokter Angka, dokter anak yang masih cantik di usia 50 tahun datang ke panti asuhan sebelum dia berangka kerumah sakit tempatnya berdinas.


Sukma juga berinisiatif membuat laporan polisi agar panti asuhan tidak kesalahan menampung bayi itu. Seperti biasa Sukma mendata orang yang membawa. Dia membuat foto copy identitasnya. Dan Karni menemani dokter Angka.


Pegawai panti asuhan terbiasa gerak cepat tanpa komando. Terlebih saat ini pemimpin mereka sedang tak bisa memberi perhatian penuh pada panti asuhan karena harus mengurus dokter Syahrul di rumah sakit.


Menurut perkiraan dokter bayi itu belum genap satu hari karena ari-ari masih basah dan belum busuk. Dokter Angka langsung menggunting tali pusat dan membersihkan bayi lalu meminta Karni susuu agar si bayi tak sampai sakit karena terlalu lama diruang terbuka tanpa pakaian.


“Beri saya laporan tiap jam ya?” pesan dokter Angka sebelum meninggalkan panti asuhan. Dia tak bisa tinggal lebih lama karena sudah mendapat beberapa kali panggilan dari rumah sakit.


“Iya Dok,” jawab Karni cepat.


“Sudah ada khabar terbaru dari dokter Syahrul?” tanya dokter Angka sambil memasukkan peralatannya kedalam tas.


“Kemarin subuh sudah sadar. Dan sorenya sudah pindah ke ruang rawat Dok,” sahut Karni.


“Saya kemarin kesana, hanya bisa bertemu bu Laura saja. Saya baru tahu ternyata sekarang Laura dengan Syahrul,” dokter Angka bersiap meninggalkan panti asuhan. Saat itu sudah ada dua orang polisi yang datang.


***


Pagi ini Namira melihat toko yang Ilyas beli untuknya. Dia juga sudah bersama seorang tukang yang akan dia pekerjakan untuk mempercantik toko yang akan dia gunakan.


“Yang pertama buat pintu pendek untuk mencegah anak saya keluar kamar ya Mang. Lalu kamar di cat hijau yang sudah disiapkan,” Namira mulai memberi perintah apa yang akan dikerjakan di toko itu. Dia ingin Ilyas aman bila dia bawa ke toko. Tak bisa keluar kamar karena ada pintu penjaga.


“Nah bagian ini, kita cat ini, abu-abu muda. Nanti disini akan digunakan sebagai area produksi,” lanjuta Namira.


“Dan bagian sini cat cream dikombinasi pink dan biru dengan salur yang saya buat tadi,” Namira memberitahu desain untuk ruang pamer kue nya.


“Cat luar semua pakai warna kuning kombinasi hijau ini,” lanjut Namira lagi.


“Ah lupa, nanti dibelakang ditambah naungan. Agar bila hujan tak tampias kedalam,” dengan detil Namira mengatur semua yang ingin dia ubah. Dia ke toko sehabis mengantar Nindi sekolah.


Selesai memberi penjelasan pada tukang, Namira langsung pulang karena dia harus belanja bahan kue dan juga kemasan.


***


Wulan masih dikampus ketika ponselnya bergetar. Paanggilan dari mami Nenden mertuanya. “Assalamu’alaykum Mam,” sapa Wulan sopan.


“Kamu sibuk?” tanya Nenden. Dia mendengar suara diujung telepon sangat berisik.


“Baru selesai kelas Mam,” sahut Wulan.


“Ah Mami lupa, kamu tu masih kuliah. Apa Mami ganggu?” Nenden baru ingat menantunya seorang mahasiswi.


“Enggak Mi. Baru keluar kelas. Dan masuk kelas lain dua puluh menit lagi koq,” jawab Wulan sambil mengambil ya-kult dari tasnya dan dia langsung buka tutup kemasannya untuk dia segera minum.


“Apa kamu akan bikin acara ulang tahun August lusa?” tanya Nenden.


“Mami mau datang?” tanya Wulan. Niatnya dia hanya akan beli tart super kecil sebesar telapak tangan saja bila dia hanya sendirian mengucapkan ulang tahun bagi suaminya.


“Mami hanya dengan papi atau dengan oma dan yang lain? Mau tidur dimana?” tanya Wulan. Karena kamar dirumahnya belum siap menerima tamu.


“Kami rombongan. Mami, papi, oma, Bagas dan istri serta mama Bagas aja. Tambah driver.  Dan kami nginap dihotel kemarin aja. Hanya inginnya acara dirumahmu. Bagaimana?” tanya Nenden.


“Makan siang ya Mam?” jawab Wulan memastikan.


“Iya. Kita makan siang aja.”


“Baik Mi. Biar aku pesankan makan siangnya. Kalau aku masak walau sedikit pasti mas August akan curiga,” sahut Wulan. Dia juga akan memberitahu paklek untuk datang berdua dengan Riesty.


Selesai berbicara dengan mami mertuanya Wulan berpikir keras. Bagaimana dia bisa memesan makanan untuk makan siang kejutan bila dia selalu diantar jemput suaminya? August baru akan kembali dinas sepuluh hari lagi.


***


“Mas. Besok aku ada diskusi kelompok. Jadi jemputnya enggak seperti biasa. Dua jam setelah bubar kelas ya,” Wulan memberitahu kalau dia besok minta diundur jam jemputnya. August sudah hapal jadwal kuliah istrinya.


“Iya sayank. Jangan lupa sebelum diskusi makan dulu ya. Ayah enggak mau kalau dedenya Ayah lapor dia kelaperan,” sahut August sambil membelai perut Wulan lembut.


“Iya. Tapi sekarang kita bisa makan di cobek ambu enggak Yah?” tanya Wulan.


“Kenapa? Ada yang dikepenginin disana?” tanya August.


“Iya. Kepengen sambal mentah kacang panjang dan taugenya,” jawab Wulan.


“Oke sayank, kita kesana yaaaa,” jawab August. Dia pun mengarahkan mobilnya kerumah makan yang sangat ramai dijam makan siang atau makan malam itu.


***


Pagi pertama setelah kemarin siuman. Syahrul merasakan benar bagaimana cekatannya Laura mengurus dirinya. Tanpa melepas senyum dari bibirnya, perempuan muda itu memulai pagi dengan membasuh dirinya dengan air hangat.


“Ini, kita pakai baju ini ya. Karena sekarang Abang kan sudah enggak pakai baju rumah sakit lagi.” Laura mengenakan kemeja. Tadi yang mengganti diapers sudah mengenakan celana kaos longgar.


“Sisiran biar makin ganteng ya?” lanjut Laura sambil mencuri ciuman dibibir Syahrul selintas.


“Jangan diem aja dong. Mana senyum manisnya?” goda Laura. Syahrul tersenyum dan menarik Laura untuk jatuh dalam dekapannya.


“Kita sarapan dulu ya? Habis itu kita minum obaat. Karena jam sembilan rencananya Abang akan di CT scan ‘kan?” Laura membuka plastik dipiring makan pasien. Dia mulai menyuapi Syahrul dengan penuh kelembutan.


“Ga … e … nak,” Syahrul protes akan menu sarapannya.


“Mau bubur sumsum seperti kemarin?” tanya Laura. Tadi dari rumah dibawakan banyak bubur sumsum untuk sarapan Laura. Laura berpikir mungin apa yang dirasa lidah Syahrul masi pahit sehingga bubur sumsum dengan kuah gula lebih dia sukai.


“I … ya,” jawab Syahrul. Pagi ini sarapan yang dia terima dari rumah sakit adalah bubur ayam. Untuk orang sehat tentu saja bubur ini enak. Tapi lidah orang sakit kan beda.


Laura menaruh bubur ayam yang baru satu suap dimakan Syahrul. Dia tukar dengan bubur sumsum dari rumah yang dikemas dengan gelas plastik. Dia mulai menyuapi kekasih hatinya dengan sabar.


=================================================================== 


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta