
"Kalian mau apa?" teriak Yuna syok, baru kali ini kelas di bawah pimpinannya itu diserbu oleh puluhan gadis yang nampak begitu agresif.
"Minggir Yuna!!!"
"Iya minggir!!!"
"Kita mau ketemu sama Cia!!!"
"Minggir!!!"
"Minggir!!!"
"Cia!!!"
"Cia!!!
Suara teriak mereka terdengar menyerbu Yuna yang nampak merentangkan kedua tangannya di pintu masuk. Faririn yang sedari tadi hanya sibuk melihat kini ikut berdiri di pintu sambil merentangkan tangannya, memperkuat pondasi pertahanan yang nampaknya akan siap untuk runtuh.
Semua yang ada di kelas nampak melongo menatap keributan ini terlebih lagi dengan Cia yang kini terbelalak.
Bruk
Yuna dan Faririn terhempas ke lantai diiringi jeritan kecil di sana. Gerombolan gadis-gadis itu kini berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Cia.
Cia melangkahkan kakinya mundur ketika para gadis-gadis itu mendekat. Rasanya tatapan mereka itu terlalu menyeramkan ditambah lagi diantara mereka seperti terjadi persaingan.
"Cia, ini buat pacar lo, yah!"
"Cia, gue bawa coklat buat pacar lo."
"Ini dari aku, Cia!"
"Kak Cia ini untuk pacar Kakak."
"Semoga cepat putus, yah, Kak!!!"
ucapan mereka begitu terdengar jelas di telinga Cia sambil meletakkan berbagai jenis titipan untuk Ayahnya itu. Rasanya Cia sangat lelah menghadapi semua ini.
Cia tak tau mengapa ini semua terjadi. Niat Cia hanya untuk menjadikan Ayahnya itu sebagai pacar di acara ulang tahun Loli tapi kini sepertinya masalah muncul.
"Ciaa!!!" teriak mereka kompak.
Cia terbangung dari lamunannya menatap gadis-gadis yang masih menaruh harap.
"Ini apa sih?!!!"
"Kenapa harus pacar gue?"
"Cari yang lain dong!!!"
"Masa pacar gue sih!!!" teriak Cia menatap serius ke arah gadis-gadis ini.
"Nggak!!!"
"Iya, aku nggak mau!!!"
"Iya, Cia kita ngga kamu!!!"
Bantahan itu lagi-lagi Cia dengar dari gadis-gadis ini. Cia duduk kembali ke kursinya sambil meletakkan kepalanya di pinggir meja yang kini sudah di penuhi dengan berbagai jenis makanan itu.
"Minggir!!!" Suara gadis terdengar sambil berhimpit membelah kerumunan.
Cia mengangkat pandangannya. Cia kenal dengan suara itu, suara yang telah merebut idolanya itu tapi kini rasanya Cia tak suka lagi dengan si Ogi. Setelah kejadian diacara ulang tahun LOLI dan ucapkan menjijikan itu rasanya rasa suka cia menghilang.
Loli, Marisa dan Medika nampak berdiri di samping meja Cia yang kini menatap Loli dengan tatapan sinis. Entah apa yang akan di lakukan Loli lagi kepadanya. Cia rasanya sangat malas meladeni gadis-gadis sok ini.
"Hay Cia," sapa Loli terseyum semanis mungkin.
Cia bingung mendengar sapaan yang terdengar berbeda. Biasanya Loli memang sering menyapa Cia tapi kali ini begitu sangat berbeda. Cia mengigit bibirnya menatap Loli degan ragu. Loli tak boleh dipercaya.
"Maaf," ujar Loli.
Cia mengkerutkan alisnya setelah mendengar ucapan maaf yang Baru saja dilontarkan Loli untuknya tapi apa ini serius. Bagaimana bisa gadis sejahat Loli itu minta maaf dan apa alasan Loli. Rasanya Cia semakin curiga degan sikap Loli yang kini berubah drastis.
"Gue mau minta maaf sama lo."
"Yah yang gue lakuin sama lo diacara ulang tahun gue kayaknya agak nyakitin hati lo jadi, gue minta maaf."
Cia melirik loli bingung, tak mengerakkan kepalanya.
"Yah, gue minta maaf dan pasti lo bisa kan maafin gue?"
"Gue sadar sih yang gue lakuin selama ini sama lo itu pasti banyak banget, yah, dan gue harap lo mau maafin gue."
"Gue tau lo itu baik terus-"
"Mau lo apa?" potong Cia tanpa basah-basih berhasil membuat Loli menghentikan ucapannya.
Loli yang terdiam itu kini berusaha untuk tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
"Yah, gue cuman mau minta maaf, udah itu aja."
"Lo nggak lagi ngerencanain sesuatu kan?"
Senyum Loli menghilang dengan seketika ternyata Cia tak yakin dengan ucapan maafnya itu.
"Yah, nggak lah, hahaha," bantah Loli sambil tertawa di tengah-tengah keheningan membuat semuanya menatap Loli degan tatapan heran.
Loli yang masih tertawa itu kini menatap ke sekelilingya yang nampak menatapnya dengan wajah yang datar. Tawa Loli memudar dan kini terdiam.
"Oh, iya si Ceo beneran pacar lo? Yang datang diacara ulang tahun gue yang berantakan itu kan? Dia beneran pacar lo?"
"Ya iya lah!" jawab Cia nyolot.
"Oh jadi ini alasan Loli berubah."
"Karena Devan!"
"Hah, taik!!!"
"Jadi dia itu minta maaf cuman mau tau tentang Devan."
"Enak aja."
Loli mengangguk, masih tak yakin dengan jawaban Cia. Bagaimana bisa pria setampan itu mau berpacaran dengan Cia, si gadis berandal itu.
"Oh ya?" Tatap Loli tak percaya.
"Emm pasti lo yang kejar-kejar cowok lo itu, siapa lagi namanya?" tanya Loli mengerakan tubuhnya menatap Medika yang nampaknya masih tak suka dengan niat loli.
"Ceo!!!" ujar Medika tak ikhlas.
Cia yang sedari tadi memikirkan tentang perubahan sikap Loli kini menatap bingung kepada Medika, Baru kali ini Medika itu bicara. Gadis pendiam yang sama sekali tak pernah bicara yang nyaris Cia sangka bisu itu kini Cia dengar bicara.
"Yap, Ceo." Loli tersenyum membunyikan jarinya.
"Yah nggak, masa gue yang ngejer-ngejer! Enak Aja," bantah Cia cepat.
"Oh atau lo santet yah?" Tunjuk Loli.
"Hah!!!" Semua orang terkejut setelah mendengar ucapan Loli yang terlontar begitu saja.
"Nggak!!!" bantah Cia cepat.
Medika mendekat sambil membawa sebuah buket dengan bunga mawar yang begitu indah. Apa itu untuk Ayahnya juga? Bunga itu asli dan pasti mahal, kini otak Cia berfikir licik lagi.
"Ci, ini buat pacar lo, yah!" ujar Medika menjulurkan bunga itu.
Cia meraih bunga itu degan tatapan berbinar, baru kali ini Cia melihat dan memegang bunga mawar asli. Biasanya Cia hanya melihat bunga mawar di tv.
"Oh iya, di bunga itu ada surat buat pacar lo. Lo cepet putus, yah!" ujar Medika lagi dengan pipi yang nampak memerah lalu segera beranjak pergi dari kerumunan.
Betul saja ada surat berwarna pink dengan pola hati berwarna merah diatas surat itu yang terselip di bunga mawar. Sebuah surat huh ini mungkin surat cinta atau semacamnya.
"Oh iya Ci, boneka yang mahal itu dari gue loh." Loli tersipu malu sambil menggoyang-goyangkan pundaknya.
"Jadi boneka ini punyanya si Loli. Wahh, pantes aja bonekanya gede banget, ternyata si Loli yang ngasih."
"Kalau kayak gini gue semangat banget pengen jual boneka ini."
"Ah meresahkan tau nggak!"
"Cia!" panggil Loli.
"Emm," sahut Cia malas.
"Lo kasi ke pacar lo, yah, terus bilang titip salam dari Loli yang paling cantik!"
"Heh Heh Heh!!!" teriak Yuna menerobos sambil membawa sapu ke arah gadis-gadis itu.
"Keluar nggak lo semua!!!"
"Jangan gitu dong, Na!"
"Iya nih si Yuna."
"Eh ngelawan lagi, keluar nggak?" ancam Yuna mengangkat tinggi sapu itu.
Gadis-gadis itu menjerit lalu segera berlari keluar dari ruangan kelas mengindari ancaman Yuna.
"Lo juga!" Tunjuk Yuna memajukan sapu itu ke arah Loli.
"What?" Kejut Loli.
"Eh Yuna, kita ini satu kelas, gila kali mau nyuruh kita juga keluar" gerutuh Marisa kesal.
"Nggak pokoknya lo juga keluar!" Tarik Yuna pelan di pergelangan tangan Loli.
"Ih apa sih?" Hempas loli kuat.
Kini ketiganya itu saling tarik menarik antara Medika dan Yuna yang menarik Loli. Keributan seperti apa ini?