
Haikal terdiam lalu mengerakkan bola matanya menatap ke arah setiap sisi, gerakan bola matanya terhenti menatap sebuah panggung di sana.
"Tuh loh liat!" Tunjuk Haikal membuat Adam menoleh.
"Kita pulang ajah yuk, Kal! kita balik ke bengkel, yah!"
"Enak aja, nggak!"
"Tapi, Kal-"
"Heh, ngapain kamu di situ?" teriak pelayan yang berada di belakang Haikal dan Adam.
Keduanya menoleh menatap pria gemuk dengan seragam pink yang sama mereka gunakan.
"Layananin orang-orang!" pintah pria itu.
Haikal mengangguk lalu dengan cepat meraih nampan yang ia letakkan tadi di atas meja.
"Ikut gue, Dam!" bisik Haikal lalu melangkah pergi.
"Kaaaal!" jerit Adam lalu berlari mengejar Haikal sambil menutup kedua matanya.
Gaun berwarna putih terusan dengan tali pinggang berwarna hitam yang melingkar di pinggangnya nampak terpasang indah di tubuh gemoy Fika.
Fika terdiam sambil celingak-celinguk menatap ke arah seluruh para tamu undangan yang berdatangan mencari sosok pria idamannya itu, Adelio Dzaky Aruf.
Fika tak tahu pria tampan yang selalu terbayang-bayang disetiap malamnya itu di mana. Fika ingin bertemu dengannya.
"Itu siapa?"
"Waaaaah!"
"Itu Adelio kan?"
"Ganteng banget."
"Gantengan si Ogi sih kalau menurut gue."
"Nggak ah, menurut gue dia lebih ganteng."
Suara bisikan gadis-gadis terdengar dari belakang Fika membuatnya dengan cepat menoleh.
Fika terdiam ketika seorang pria dengan jas putih melangkah ke arahnya melewati gerombolan gadis-gadis yang nampak memasang wajah terpesona, Itu Adelio.
Wajahnya nampak begitu tampan, ujung rambut hitamnya nampak bergoyang ketika Adelio melangkah. Tubuhnya nampak terlihat macho dan berwibawa menggunakan jas putih yang begitu pas di tubuhnya.
Fika menganga saat melihat Adelio yang kini masih melangkah. Di mata Fika, rasanya Adelio seperti seorang penganting pria berjas putih yang melangkah menjemput calon penganting wanitanya yang tak lain adalah Fika.
"Fika," ujar Adelio sembari melambai di hadapan wajah Fika.
"Aa?!!" Sadar Fika, tersentak lalu tertawa tipis.
Ini agak memalukan.
"Eh, iya a...aku...eh-"
"Kenapa?" tanya Adelio lagi.
Fika begitu sangat-sangat bahagia malam ini, menatap wajah tampan Adelio dengan jarak yang dekat ditambah lagi Fika mampu merasakan bau wangi parfum tubuh Adelio. Ini semua rasanya sebuah mimpi yang benar-benar membuat Fika bahagia.
"Fika," panggil Adelio lagi.
"Eh, iya," jawab Fika cepat.
"Kamu-" ucapan Adelio terhenti lalu menatap keseluruh tamu yang masih menatapnya.
"Jadi Fika pacaran sama Adelio?"
"Ah, masa sih?"
"Si Adelio nggak buta kan? Masa sih dia mau sama si Fika."
"Mana cocok."
Bisikan-bisikan dari gadis-gadis yang berkumpul disebuah meja bundar nampak menatap serius ke arah mereka.
"Adelio!" panggil Fika.
Adelio menoleh menatap Fika yang nampak menatanya dengan tatapan terpesona sedari tadi, yah, Adelio mampu melihat hal itu.
"Em," jawab Adelio.
"Eh, kita duduk di situ, yuk!" ajak Fika ke arah meja yang terlihat kosong.
Adelio dengan sikap dinginnya itu kini langsung mengangguk dan melangkah ke arah meja yang Fika tunjuk tadi.
"Emm, Adelio mau minum apa?" tanya Fika di tengah keheningan ketika keduanya telah berada di meja.
Adelio menggeleng menolak tawaran Fika sambil memaingkan handphone di tangannya.
"Adelio mau makan cup cake? Fika ambilin, yah?" tanya Fika.
Adelio kembali menggeleng tanpa menatap Fika yang masih menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Seketika senyum Fika sirna mendapati respon dingin dari Adelio. Fika sama sekali tak mengerti dengan Adelio yang tak menatapnya sama sekali.
Kini Fika terdiam lalu mulai menopang dagunya menatap wajah Adelio dengan serius. Adelio sama sekali tak ada bedanya, sekarang dan di kelas. Semuanya sama saja, Adelio tetap menjadi pria pendiam.
Marisa menyipitkan kedua matanya menatap ke arah Adelio dan Fika yang nampak duduk berhadapan di sebuah meja. Marisa tak mengerti, bagaimana bisa Fika dan Adelio duduk berdua. Apa mereka datang ke acara ulang tahun Loli sebagai pacar.
"Lol." Sikut Marisa cepat.
Loli menghentikan tawanya lalu menatap Marisa dengan tatapan serius.
"Apa sih?" bisik Loli kesal.
"Itu." Tunjuk Marisa.
Loli dengan cepat menatap ke arah tunjuk Marisa yang mengarah ke Fika dan Adelio yang nampak duduk berduaan.
"Itu Adelio kan? Kok bisa sih sama si Fika?" bisik Marisa lagi.
Loli terbelalak, kaget. Bagaimana bisa Fika duduk disebuah meja bersama Adelio, pria yang sangat diincar oleh Loli.
Darah Loli seakan mendidih terbakar api amarah yang tak tertahankan lagi.
"Kok bisa, yah Adelio pacaran sama si Fika?"
"Iya, yah."
"Aku nggak nyangka banget."
Suara bisikan gadis-gadis yang memegang gelas melintas di samping Loli sangat terdengar jelas di telinga Loli membuat darah Loli seakan mendidih.
"Heh!!!" teriak Loli sembari memutar tubuhnya menatap gadis-gadis yang baru saja ia dengar berbisik itu.
Gadis-gadis itu menoleh lalu menghentikan langkahnya.
"Lo bilang apa tadi?" tanya Loli sambil menunjuk.
"Apa Li? Kita nggak bilang apa-apa," jawab salah satu dari gadis itu.
"Kita semua denger tadi lo bilang, kalau Adelio pacaran sama Fika, si kutu buku itu, iya kan Medika?" jelas Marisa lalu menatap Medika yang berdiri di samping Loli.
Medika terdiam dengan tatapan bodoh seakan tak tahu apa-apa.
Marisa dan loli langsung meghembuskan nafas secara bersamaan ketika medika hanya terdiam. Medika memang susah diajak bicara, selain ia yang jarang ngomong ia juga adalah gadis yang pemalu.
"Lo tau dari mana?" tanya Loli.
"Tadi aku sempet denger waktu Adelio ngasih undang ke penjaga depan dia bilang kalau dia itu pacarnya Fika."
"Lo nggak salah denger kan?"
"Nggak kok, aku beneran denger Adelio bilang gitu," jelas gadis itu.
Loli memutar tubuhnya membelakangi gadis itu. Tubuh Loli seakan gemetar menahan amarah yang mengguncang tubuhnya saat ini.
Loli sama sekali tak menyangka jika Fika berpacaran dengan Adelio. Selama ini Loli selalu berpikir jika Cia lah yang berusaha mendekati Adelio tapi, melihat ini semua rasanya tak mungkin.
"Ikut gue!" ajak Loli dengan nada penuh tekanan laku melangkah membuat Medika dan Marisa mengikut.
"Hay Adelio," sapa Loli sesampainya di sana.
Adelio melirik cepat menatap Loli yang nampak terseyum di sana. Adelio mengangguk diiringi senyum tipis lalu kembali menunduk.
Senyum Loli sirna dari bibirnya. Lagi-lagi Adelio hanya mengangguk menanggapi sapaannya. Pria ini memang dingin.
...____***____...
Cia tersenyum menatap ke arah kerumunan gadis-gadis dan kerumunan pria yang nampak menatapnya dengan penuh serius. Cia tak tahu mengapa orang-orang menatapnya degan tatapan seperti itu, entah apa yang salah dari wajah Cia.
Dengan pelan Cia melangkahkan kakinya melintasi kerumunan yang masih nampak menatapnya dengan tatapan serius.
"Itu siapa?"
"Gue kayaknya nggak pernah liat dia deh."
"Itu siapa, yah?"
Bisik gerombolan gadis-gadis itu ketika Cia melintas tepat di depannya.
"Cantik banget," ujar pria berjas hitam yang berdiri di samping kekasihnya.
"Ih ayang jahat deh," kesal gadis itu menghentakkan kakinya berulang kali ke lantai.
"Maaf sayang, aku keceplosan."
"Mulai sekarang kita putus!!!" teriak gadis itu lalu melangkah pergi.
Cia menghentikan langkahnya lalu menatap ke sekeliling mencari sosok Fika di sana.
"Hay Loli, selamat ulang tahun, yah," ujar Fika setelah bangkit dari kursi lalu menjulurkan jari-jarinya.
Loli tersenyum sinis tak membalas uluran tangan Fika.
"Gue-" ucapan Loli terhenti ketika para tamu saling berbisik sambil menatap ke arah yang sama.
"Loli, itu siapa?" Tunjuk Marisa ke arah Cia dengan mata yang terbelalak.