Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 177



Sepertinya dia sudah tahu apa yang Devan lakukan di depan lemari Cia. Ditambah lagi dengan kepergian mereka membuat ia yakin jika Ceo berniat untuk kabur bersama dengan Cia. Ini bisa menjadikan masalah bagi panti jika mereka berdua kabur terlebih lagi Cia kini telah diadopsi oleh kedua orang tua yang kaya raya itu.


"Ceoooo!!!" teriak  wanita itu lagi.


Devan tak menoleh walau suara teriakan itu menyorakinya. Larinya semakin kencang sambil terus menggendong Cia yang kini sedang tertawa, ini lumayan mengasikkan bagi bocah kecil berumur 3 tahun itu.


Cucuran keringat kini membasahi tubuh Devan yang kini telah kualahan untuk berlari dari kejaran wanita penjaga panti itu yang tak pantang menyerah mengejarnya. Devan heran dengan penjaga panti itu, tubuhnya lumayan gendut tapi larinya juga cukup kencang hingga Devan mampu melihatnya ketika sesekali ia menoleh ke belakang.


Devan berlari di siring jalan yang begitu ramai dengan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan beraspal. Tak lama Devan yang masih ngos-ngosan itu berlari ke tengah jalan berniat untuk menyebrang lalu..


Bruk


Tubuh Devan dan Cia terhempas cukup keras ke aspal ketika sebuah mobil berwarna putih menabrak tubuh Devan dan Cia.


Devan meringis kesakitan pada lututnya yang nampak berdarah sementara Cia yang ikut terhempas itupun terlihat sangat syok sambil menatap sikunya yang nampak berdarah. Devan menatap ke arah mobil putih yang kini pintunya di buka oleh seorang pria berjas putih, dari penampilannya dia terlihat seperti seorang dokter.


Wajahnya nampak cemas sambil berlari ke arah Devan dan Cia setelah ia menutup pintu mobilnya dengan cepat.


Orang-orang yang berada disekitar kejadian itu dengan tergesa-gesa berlari dan mengerumuni Devan dan Cia.


"Kamu nggak apa-apa ?" tanya pria itu dengan wajah yang terlihat agak panik.


Devan tak menjawab ia hanya sibuk menatap luka di lututnya sementara Cia kini menangis dan berlari ke arah Devan lalu memeluknya.


"Ceooooo!!!" Suara teriakan wanita penjaga pantai itu terdengar sambil berlari ke arah kerumunan.


Devan terbelalak lalu segera memeluk tubuh pria berjas putih itu dengan tubuh yang gemetar. Devan sangat takut.


"Pak tolongin saya! Saya dikejar oleh orang jahat," aduh Devan dengan tatapan memohon nya menatap Pria berpakaian putih itu.


...____***____...


Suara rintihan Devan terdengar ketika lututnya diberi obat oleh pria yang telah menolongnya. Pria itu tersenyum simpul lalu bangkit dari sebuah sofa yang ia duduki.  


Devan menatap ke seluruh ruangan rumah yang begitu bersih dan rapi. Sepertinya pria yang nampak berumur 45 tahun ini merupakan seorang dokter semuanya bisa Devan lihat dari meja berisi sebuah buku kedokteran yang tak jauh darinya. Devan yang sibuk memperhatikan seisi rumah kini beralih menatap Cia yang nampak begitu bahagia di bagian taman rumah. Cia berlari sambil mengejar seekor kucing yang berbulu putih lebat dan indah itu ke sana kemari sambil tertawa.


Pria yang telah menolongnya itu nampak melangkah lalu duduk kembali di sofa sambil membawa sebuah piring berisi makanan dan segelas air minum. Devan menelan ludah, jujur ia cukup lapar ditambah lagi setelah bau ayam goreng itu menyengat hidungnya membuat perut Devan kelaparan.


"Kamu pasti lapar, ini makan dulu!" ujar pria itu sambil meletakkan sepiring nasi dengan lauk ayam goreng dan tumisan kangkung yang begitu wangi, Ini cukup nikmat.


Devan tersenyum simpul, lalu segera meraih piring itu dan memangkunya.


"Nama kamu siapa?" tanya pria itu.


"Ceo," jawab Devan singkat sambil mengunyah Nasi yang kini tengah ia kunyah.


Pria itu mengangguk paham dan ia menoleh menatap Cia yang masih berlari di sana.


"Kalau bapak?" tanya Devan.


"Apa?" tanya pria itu.


"Nama Bapak siapa?" tanya Devan.


Pria itu tersenyum, senyum yang terlihat sangat hangat.


"Yusuf," jawab pria itu.


Kini giliran Devan yang mengangguk tanpa berhenti mengunyah makanannya yang kini berangsur berkurang dari piring putihnya.


"Bapak ini dokter?" tanya Devan.


Pria itu tersenyum lagi lalu mengangguk.


"Saya dokter spesialis Anak yang bekerja di salah satu rumah sakit di Surabaya, oh iya yang tadi mengejar mu siapa?"


"Bunda," jawab Devan singkat.


"Ibumu?"


Devan menggeleng.


"Dia Bunda pengasuh di panti asuhan, dia memberikan izin kepada kedua orang tua baru Cia untuk mengadopsi Cia, saya tidak rela Dok-" Devan menghentikan ujarannya seakan bingung harus memanggil Yusuf dengan sebutan apa.


"Tidak Dokter. Ceo mungkin harus memanggil Dokter dengan sebutan Dokter Yusuf."


"Kenapa?"


"Karena Dokter Yusuf adalah seorang Dokter," jawab Devan membuat Yusuf tersenyum.


"Kalau Cia sampai diadopsi oleh orang tua kaya itu, itu sama saja saya tidak akan bertemu lagi dengan Cia," jelas Devan menyambungkan penjelasannya yang sempat tertunda.


Suasana kini menjadi sunyi membuat Devan kembali menatap Yusuf yang sedang tersenyum menatap Cia.


"Dokter Yusuf tinggal sendiri di sini?"


Yusuf menoleh menatap Devan sejenak lalu ia menghembuskan nafas berat dan tak berselang lama ia segera tertunduk seakan berat untuk menjawab pertanyaan dari Devan.


"Saya tinggal di rumah ini sendiri."


"Sendiri?" Tatap Devan agak terkejut membuat Yusuf mengangguk.


"Dokter Yusuf tinggal di rumah ini sendirian?" tanya Devan.


"Iya," jawab Yusuf.


"Di rumah sebesar ini?"


Yusuf mengangguk.


"Istri saya meninggal sebulan yang lalu di Jakarta karena sakit."


"Kalau Anak Dokter?"


Dokter Yusuf menggeleng.


"Saya tidak punya Anak."


Devan mengangguk lalu segera meletakkan piring di meja dan meneguk habis air di dalam gelas.


"Terima kasih Dokter Yusuf, saya permisi pulang," ujar Devan lalu segera bangkit dari sofa dan memanggil Cia yang kini masih sibuk bermain dengan kucing milik Yusuf.


"Kamu mau kemana?" tanya Yusuf.


Devan terdiam, Jujur ia tak tahu harus kemana kali ini. Devan tak mungkin kembali ke panti asuhan, Devan takut jika Cia akan diadopsi lagi oleh Bunda si penjaga pantai asuhan itu, Devan takut kehilangan Cia. 


"Ceooo!!!" teriak Cia lalu berlari dan memeluk Devan.


"Ceo, ucing itu antik, Cia cuka," ujar Cia membuat Yusuf tersenyum mendengar suara gemas Cia.


"Om, itu ucing Om?" tanya Cia sembari menatap Yusuf.


"Panggil dia Dokter Yusuf!" suruh Devan.


"Okter Ucup?" tanya Cia membuat Yusuf tertawa.


Yusuf kini melangkah ke arah Cia dan berlutut di hadapan Cia.


"Panggil aku Dokter Yusuf, katanya aku seorang Dokter jadi panggil aku dengan sebutan itu," ujar Yusuf lalu melirik Devan.


Yusuf bangkit lalu menyentuh bahu Devan.


"Kalau kamu tidak keberatan kamu boleh tinggal di sini, lagian saya tinggal sendiri di rumah ini. Kamu juga tidak tahu kan mau tinggal dimana?"


"Tapi Dok-"


"Yeeeeeeee!!!" teriak Cia kegirangan lalu segera melompat-lompat bahagia.


"Kita tinggal di sini Eo?" tanya Cia sembari memegang kedua tangan Devan.


Devan melirik Yusuf yang terlihat tersenyum dan perlahan Devan mengangguk membuat Cia kembali bersorak.


"Yeee!!! Kita tinggal i umah olang kaya!!!" teriak Cia lalu tertawa bahagia.