
Gadis yang telah ia hancurkan masa depannya kini telah berada di depannya dan hanya berjarak beberapa belasan langkah darinya. Devan tak menyangka jika gadis yang sangat ia cintai itu kini hadir dengan kondisi seperti ini. Penampilannya yang cukup memprihatinkan berhasil membuat kedua bahu Devan terguncang dikerena-kan tangisan. Rasanya sungguh sakit melihat keadaan Kasya. Devan mengira jika Kasya telah tiada dan telah menjadi bintang seperti apa yang selalu ia pikirkan. Tapi ini semua salah, kebenarannya adalah Kasya masih hidup di dunia ini.
Devan melangkah mendekati wanita yang ikut melangkah mendekatinya sementara Cia yang melihat Devan dan bidadari-nya itu kini hanya terdiam heran. Apa mereka saling mengenal? Perlahan tangan Cia dan Devan kini terlihat membentang dikala Cia masih memegang erat pergelangan tangan Devan. Dengan perlahan Cia melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan Devan melangkah memberikan jarak antara ia dan Devan.
Di satu sisi lain kini Kasya melangkah kan kakinya yang pincang itu dengan pelan dengan wajah yang terlihat lesuh, sedih, meringis, dan bahagia terlihat tidak menentu. Pergelangan kakinya yang terlihat terluka karena telah dipasung dengan keras beberapa hari yang lalu oleh tuan Abraham.
Walaupun banyak yang berubah dari Kasya tapi yang Devan sangat kenal bahkan sangat ingat adalah dengan iris bola mata Kasya yang begitu indah, itu yang tak berubah dari Kasya.
Langkah Devan terhenti ketika ia sudah berada di depan Kasya yang kini masih melangkahkan kaki pincangnya yang terluka. Hampir Kasya sampai di depan Devan namun belum sempat ia melangkah kakinya tersandung hingga nyaris membuatnya terjatuh ke lantai namun dengan cepat ditangkap oleh Devan yang kini tanpa sadar membuatnya tertawa dan digantikan menjadi tangisan.
Devan gemetar saat pertama menyentuh lengan Kasya yang teraba sangat kurus. Kasya mendongak menatap setiap inci wajah Devan yang membuatnya kembali mengingat kejadian 18 tahun yang lalu. Kasya memejamkan matanya lalu kedua tangannya menyentuh setiap inci wajah Devan. Kenangan dan kisah itu kini bermunculan memenuhi pikirannya.
Devan tersenyum dengan air mata yang kini sudah mengalir membasahi pipinya merasakan hangatnya tangan kurus Kasya yang menyentuh wajahnya.
"Ha...ha...Hay Kakak Ka...Kasya," ujar Devan terbata-bata.
Kedua mata Kasya terbuka dengan cepat dan senyum indah itu kini muncul dari sudut bibir Kasya saat mendengar suara itu dan cara Devan memanggilnya.
"De...De...Devan," ujar Kasya yang kini meledakkan tangisannya lalu tanpa pikir panjang ia segera memeluk tubuh Devan yang ikut menangis.
Kini mereka benar-benar bertemu setelah 17 tahun mereka dipisahkan dan tak pernah bertemu.
Cia hanya mampu menagis di belangkang sana setelah melihat Ayahnya dan wanita yang ia panggil bidadari itu saling berpelukan membuatnya sadar jika wanita yang ia temui dulu ternyata memiliki hubungan darinya. Jadi bidadarinya yang Cia duga adalah saudara dari wanita yang melahirkan nya merupakan dugaan yang salah. Bidadarinya itu bukan lah saudara ataupun keluarga dari wanita yang telah melahirkannya tapi, kebenaran-nya adalah bidadarinya adalah wanita yang telah melahirkannya, bidadari adalah ibunya yang sebenarnya, dia Kasya wanita yang telah Devan ceritakan kepadanya.
Firdha mengusap pipinya yang basah itu lalu melangkah mendekati Cia. Firdha menyentuh bahu Cia membuat Cia menoleh.
"Kamu cucu saya," ujar Firdha lalu segera memeluk Cia yang kini tersenyum bahagia dalam dekapan Firdha.
Disatu sisi kini Abraham yang masih terbaring di lantai kini ikut tersenyum menatap Putri kesayangannya dan Devan kini bersatu. Hanya ada rasa penyesalan di hati dan pikiran tuan Abraham. Andai saja ia tak mementingkan kehormatannya karena takut jika orang lain tahu bahwa putrinya hamil di luar nikah dan dihamili oleh pria miskin hingga membawanya memisahkan kedua anak yang saling mencintai mungkin Putrinya tidak akan mengalami tekanan dan mengalami gangguan jiwa seperti apa yang telah ia lihat selama ini. Ini kesalahannya. Rasanya ia ingin mengulang semua ini dan memperbaiki semuanya namun apa yang akan terjadi kepadanya saat ini, mungkin ia akan membusuk di dalam penjara setelah apa yang ia lakukan.
Semuanya sudah terjadi dan biarlah semuanya berlalu. Ia ikhlas jika harus masuk ke dalam penjara karena ini semua juga karena kesalahannya.
Abraham menoleh menatap Jef membuat kedua mata Abraham terbalalak kaget ketika Jet mengarahkan pistol ke arah Devan.
"Jangan Jef!!!" teriak Abraham membuat semua orang menoleh.
DOR
Suara tembakan terdengar cukup keras hingga menggema di dalam ruangan membuat semuanya terkejut kaget.
Bersamaan dengan suara tembakan itu, tubuh Devan tumbang ke lantai dengan bagian perutnya yang mengeluarkan cukup banyak darah. Yah Devan tertembak.
"Devaaaaan!!!" teriak Kasya lalu segera berlutut ke lantai menatap Devan yang kini sudah terbaring sambil meringis dengan perutnya yang mengeluarkan cukup banyak darah.
"Aku tidak menyuruh mu untuk menembaknya Jef!!!" teriak Abraham yang kini dituntung oleh beberapa polisi keluar dari rumah.
Tangan Jef gemetar lalu menjatuhkan pistol yang telah ia gunakan untuk menembak Devan. Beberapa polisi yang telah lalai itu segera memborgol kedua tangan Jef dan membawanya keluar dari rumah.
"Ayaaaaah!!!" teriak Cia begitu histeris sembari berusaha menyentuh perut Devan yang sudah mengeluarkan cukup banyak darah.
"Toloooong!!!" teriak Cia menatap ke segala arah.
"Ayaah!!!"
"Ayaaah jangan buat Cia takut!!!"
Cia tertunduk menatap wajah Devan yang masih meringis kesakitan dengan darah segar yang terus mengalir tanpa henti. Kaus hitam yang devan gunakan kini terlihat basah kuyup dengan darah yang nampak mengotori lantai .
"Devaaaan," panggil Kasya yang kini memeluk kepala Devan sambil menangis.
Cia yang masih menangis itu kini menatap kasya setelah kalimat itu terlontar dari mulut Kasya. Cia mengira jika kasya adalah wanita yang bisu tapi, ternyata perkiraannya itu salah.
"Devaaaan!!!" guncang Kasya ke tubuh lemas Devan.
Tatapan Devan yang menatap ke segala arah itu seakan meraba mencari sumber suara yang memanggilnya. Sorotan mata Devan kini terlihat memburam, membuat tubuhnya terasa lemas. Kedua mata Devan perlahan tertutup membuat Cia, kasya dan Firdha yang berada di sekitar Devan langsung berteriak histeris.
"Ayaaah!!! Jangan tutup mata!!! Cia takut!!! Toloooong!!!"
"Ayah jangan tinggalin Cia!!!!" teriak Cia lagi begitu sangat histeris.
Cia sangat tak mau jika sesuatu terjadi pada Ayahnya.
"Bu, tolong panggil seseorang!!!" teriak Cia menatap penuh harap ke arah Firdha.
Firdha mengangguk lalu berlari ke luar rumah dan memanggil pak Madi dan beberapa penjaga keamanan yang tengah asik bermain catur.
"Ayah!!! Buka mata Yah!!!" Guncang Cia cukup keras ke tubuh lemas Devan. Devan yang mendengar ucapan Cia itu langsung membuka kedua matanya, walau ini cukup berat baginya.
"Ayaaaaaaaah!!!" teriak Cia lagi.
"Cepat! Cepat! Cepat!" teriak Firdha sambil berlari masuk ke dalam rumah bersama dengan pak Madi dan beberapa penjaga keamanan yang siap untuk mengangkat tubuh Devan agar dapat dengan cepat ditangani.