
Devan tersenyum sinis lalu menggeleng pelan setelah mengatakannya.
"Sekarang katakan! Apa benar Anda mau mengajak Cia tinggal di sini? Hm?" tanya Devan sambil terus menatap Abraham yang kini terasa kaku untuk bicara sedikitpun.
"Ayo katakan? Kenapa Anda diam? Bukan kah Anda dulu selalu bicara sampai bocah itu selalu terdiam?"
"Ayo lah Tuan Abraham!"
Jef menggerutuh kesal dan dengan marahnya ia melangkah ke arah Devan.
"Jef!" tegur Abraham sambil memegang pergelangan Jef yang kini dengan cepat menoleh menatap Abrahan yang kini menggeleng seakan melarang Jef untuk mendekati Devan.
Abraham menghela nafas lalu menoleh menatap Devan yang kini masih tersenyum.
"Yah, aku ingin meminta Cia untuk tinggal di sini," ujar Abraham.
"Hahahaha, apa? Coba katakan lagi!" tawa Devan lalu melangkah mendekati Abraham dan Jef.
"Hm, ayo katakan!"
Abraham kini terdiam sambil sesekali melirik Jef yang kini menatap tajam ke arah Devan.
"Aku-"
"Hust!" potong Devan sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya membuat Abraham berhenti bicara.
"Anda ingin Cia, Anak saya tinggal di sini?"
"Heeeey Tuan Abraham!!! Anda dari mana saja?" teriak Devan sambil melambaikan tangannya di depan wajah Abraham yang kini kedua matanya mengikuti gerakan lambaian tangan Devan.
"Hm? Anda dari mana saja?"
Devan tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul lututnya seakan ia telah menonton Vidio lucu lalu ia melangkah ke arah Cia yang kini sudah mempias, jujur Cia sangat takut berada di rumah ini.
"Kamu dengar itu Cia? Dia mau kamu tinggal di sini."
"Dia." Tunjuk Devan ke arah Abraham dengan kedua matanya yang menatap tajam ke arah Abraham.
"Dia orang yang ingin membunuh mu dulu ingin kamu meminta kamu tinggal di rumahnya yang megah ini."
"Hahahaha, hah apakah kamu mau hm?" tanya Devan sambil mengelus rambut Cia yang kini terdiam.
"Tak apa, Nak. Dia itu Kakek mu." Tatap Devan tajam ke arah Abraham.
Devan menghembuskan nafas panjang lalu kembali melangkah ke arah Abraham.
"Saya bukan orang yang bodoh Tuan Abraham, saya bukan orang bodoh. Saya bukan orang yang bisa dibodohi yang dengan mudahnya mau memberikan putri saya begitu saja kepada Anda," ujar Devan dengan nada tertekan.
"Sebelum Anda menawarkan seseorang tinggal di dalam rumah Anda maka Anda harus cari tahu dulu siapa orang tua dari Anak itu."
"Saya Tuan, saya adalah Ayah dari Cia. Saya wahai Tuan Abraham yang terhormat," ujar Devan sambil memukul dadanya dengan keras.
"Saya yang telah membesarkannya."
"Apakah Anda lihat tangan ini?" tanya Devan sambil mengangkat kedua tangannya.
"Apakah Anda lihat?
"Hm?"
"Dengan tangan ini Tuan saya membesarkan buah hati saya dengan susah payah. Siang dan malam saya tidak bisa tidur karena suara tangisan bayi menggangu tidur saya."
"Bisa kah Anda membayangkan Anak kecil berusia 13 tahun harus merawat bayi kecil yang selalu menangis?"
"Bisa kah Anda membayangkan betapa pedih dan berat nasib bocah itu yang setiap harinya selalu diselimuti dengan rasa takut. Bahkan disetiap ia melihat mobil mewah yang melintas, bocah kecil itu selalu menangis dengan tubuh gemetarnya karena mengira itu Anda, yah dia mengira itu Anda Tuan Abraham sehingga dia ketakutan."
"Dan dengan mudahnya Anda meminta putri saya ini?" Tunjuk Devan ke arah Cia yang kini telah mempias.
"Putri saya bukan sebuah barang Tuan."
"Putri saya bukanlah sebuah barang yang bisa diambil begitu saja oleh siapa pun."
"Bahkan jika Anda memohon, mencium dan bahkan menjilat kaki saya sekalipun, Cia tak akan tinggal di sini."
"Saya heran dengan Anda Tuan. Bagaimana Anda bisa punya Anak lagi setelah Anda kehilangan Kasya?"
"Apakah Anda tak punya hati? Hm? Anda tak punya hati?"
Devan menghembuskan nafas berat lalu ia melangkah mendekati Cia dan memegang pergelangan tangannya dengan erat membuat Cia menoleh menatap sorot mata Devan yang kini dengan perlahan melemah. Cia mampu merasakan jika tangan Devan gemetar.
"Cukup sampai di sini Tuan Abraham!"
"Putri saya, Ashia Akanksha Alwiyora tak akan bisa tinggal di sini. Saya masih bisa merawat putri saya dengan tenaga saya sendiri."
"Jika dulu Anda bisa menutup pintu untuk bayi kecil itu maka jangan membuka kan pintu itu bayi kecil yang kini telah besar."
"Permisi wahai Tuan yang terhormat," ujar Devan lalu segera melangkah pergi sambil menarik pergelangan tangan Cia.
Air mata Devan tumpah ketika ia berhasil membelakangi Abraham dan Jef yang masih menatapnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah ruah membasahi pipinya yang kini memerah. Devan masih takut dengan orang-orang jahat itu tapi ia harus bisa terlihat kuat di hadapan mereka. Bahkan sampai sekarang tubuhnya masih gemetar karena takut.
Cia hanya mampu menangis. Tenyata tanpa ia duga pria yang ia anggap orang baik itu merupakan orang jahat dan merekalah yang telah membuatnya harus berpisah dengan dokter Yusuf.
Satu hal yang membuat Cia bingung adalah bidadari merupakan saudara dari Ibunya atau memang Kasya lah yang merupakan bidadarinya? Kini pikiran itu yang memenuhi otaknya.
Cia menoleh menatap Abraham dan Jef, tetap tangannya yang masih ditarik oleh Devan keluar dari rumah yang megah itu. Jadi ternyata Tuan Abraham adalah Kakeknya dan Firdha adalah Nenek kandungnya. Ini semua mustahil.
Disatu sisi lain kini Abraham menghempaskan tubuhnya ke kursi sofa seakan tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya yang berangsur melemah. Abraham tak menyangka dengan apa yang ia lihat dan dengar kali ini.
Rasanya penyesalan ini muncul setelah mengetahui jika Cia adalah cucunya, dia adalah Anak dari putrinya.
"Apakah kita perlu mengejanya?" tanya Jef cepat.
Jef menoleh menatap Devan dan Cia yang kini masih tak terlalu jauh darinya.
"Tuan, isikan saya untuk menembaknya! Isinkan saya Tuan! Saya masih punya banyak peluru Tuan, tolong isinkan saya!"
"Lihat Tuan dia masih ada di sana! Perintahkan saya untuk menembaknya! Saya mohon!"
"Tak perlu!" ujar Abraham dengan sorot matanya yang terlihat kosong.
"Tak perlu!" ujar Abraham lagi membuat kedua mata Jef terbelalak kaget.
"Kenapa Tuan? Kenapa? Jelas-jelas dia telah menghina Anda."
"Diam!!!" teriak Abraham membuat Devan Jef tersentak kaget.
"Kalau kamu menembaknya itu saja saja kamu membunuh cucu saya!!!" teriak Abraham yang kini telah bangkit dari sofa.
"Cia adalah cucu saya."
"Saya bukan mau menembak Cia tapi Devan."
"Sama saja!!!" teriak Abraham.
"Jika kamu membunuh Devan itu berarti kamu melukai hati cucu ku!!!" teriak Abraham.
Jef menghela nafas setelah mendegarnya sepertinya hati Abraham telah diketuk oleh Cia.