Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 170



"Tapi Tuan-" ujar Naini cepat sejujurnya Naini tak pernah mengeluarkan bayi seumur hidupnya. Ia tak punya pengalaman bahkan pengetahuan untuk membantu persalinan lalu bagaimana ia bisa mengeluarkan bayi Kasya.


"Lakukan apa yang ku perintahkan Naini!!!" teriak Abraham.


...____***____...


"Aaaaaaaaah!!!" jerit Kasya ketika bayi itu menabrak mulut rahimnya memaksakan diri untuk keluar.


Kasya kini sudah terbaring di atas kasurnya dengan sebuah kain yang mengalas kasur agar darah yang keluar itu tak merembes ke permukaan sprei.


"Ayo Non mengedang!" pintah Naini sambil melihat ke bawah dengan kedua kaki Kasya yang nampak terbuka.


"Ayo mengedang Non!" pintah Naini lagi.


Kasya kini menggeliat, mengangkat pinggulnya ketika rasa sakit itu terasa membuat jalan lahirnya sobek hingga berdarah. Rasanya ini sangat sakit. Sekujur tubuhnya gemetar dan basah karena berkeringat menahan sakit yang begitu sangat luar biasa bahkan sampai-sampai jari-jari kaki Kasya kini terlihat meringkuk. Kasya meringis kesakitan sambil meremas sprei berusaha untuk mengumpulkan kekuatannya.  


"Jangan diangkat Non!" pintah Naini sambil memegang lutut Kasya.


"Bi!!! To...tolong aaaa!!! Pa...panggil De...De...Devan!!!" teriak Kasya yang kini menutup kedua matanya.


"Mengedang Non!!!" pintah Naini lagi yang kini mengabaikan ujaran Kasya.


Kasya menggeleng kuat, ia tak mau melakukannya.


"Ayo Non!"


"Devaaaaan!!!" teriak Kasya.


Abraham kini hanya mampu meremas jari-jarinya yang berkeringat sambil duduk di sebuah sofa bersama dengan Firdha yang tak jauh dari pintu kamar kasya. Keduanya dapat mendengar ucapan Kasya dan Naini dari sini.


"Mas, Apakah Kasya tidak boleh dibawa ke rumah sakit? Kasya sepertinya sangat kesakitan," ujar Firdha menatap wajah Abraham dengan tatapan memohon.


"Tidak!" bantah Abraham cepat.


"Tapi Mas-"


"Ini keputusan ku!" teriak Abraham membuat Firdha tersentak kaget.


"Sekali aku bilang tidak yah tidak!!! Jangan pernah kamu membantah!!!" sambung Abraham lagi begitu sangat tegas sambil menunjuk Firdha.


"Tapi-"


"Diam!!!" bentak Abraham.


Suara pintu kamar Kasya terdengar dibuka oleh Naini membuat Abraham dah Kasya bangkit dari sofa secara bersamaan dan segera menghampiri Naini dengan wajahnya yang terlihat khawatir.


"Tuan! Nyonya!" panggil Naini menatap kedua bosnya itu.


"Bi, apa bayinya sudah keluar?" tanya Firdha cepat.


"Maaf Nyonya. Kasya tidak mau mengedang," adu Naini memberitahu dengan wajahnya yang terlihat sangat gelisah.


Firdha menghela nafas panjang dan meremas jari-jari tangannya.


"Kenapa tidak mau menggedang?" tanya Abraham.


"Non Kasya tidak mau Tuan," jawab Naini.


"Non Kasya mau ditemani sama Devan," jawab Naini lalu tertunduk, jujur ia takut mengatakan hal ini.


Abraham menghembuskan nafas lelah setelah mendengar perkataan Naini. Bagaimana mungkin ia membiarkan bocah yang telah membuat Kasya hamil masuk ke rumahnya. Ini bodoh.


"Mas!" ujar Firdha segera menyentuh bahu suaminya, berharap Abraham mengambil keputusan yang sesuai dengan pikirannya. 


"Jef!!! Jef!!!" teriak Abraham cukup keras membuat pria berjas bernama Jef yang merupakan Anak buah Abraham itu melangkah masuk dan mendekati Abraham.


"Bawa Devan kemari!" pintah Abraham.


Firdha yang mendengar ujaran Abraham langsung menoleh menatap Abraham. Apakah mungkin Abraham telah menerima Devan. Kini Firdha tersenyum bahagia.


"Baik Tuan," ujar Jef.


"Dan siapkan peluruh untuknya! Kita siap untuk bertempur!" ujar Abraham membuat Jef mengangguk dan segera melangkah pergi.


Senyum dari bibir Firdha seketika lenyap. Apakah mungkin Abrahan akan membunuh Devan?


"Mas!" Tatap Firdha heran dengan kata peluruh itu.


Belum sempat Firdha menyelesaikan uacapannya kini Abraham mengerakkan tangannya agar Firdha tak berucap. Abraham benci sebuah pendapat. 


...___***____...


BRUK


Tubuh Devan terhempas ke dinding sangat keras hingga dinding rumah terasa bergetar hingga Fatima hanya mampu menangis mendengar suara tubuh Devan yang terhempas ke dinding. Fatima sangat tak menyangka jika putra kebanggaannya itu telah berani mengatakan sesuatu yang telah membuatnya sangat terkejut.


"Siapa yang telah kau buat hamil, Van?!!" Guncang Farhan.


BRUK


Pukulan itu kembali menghantam wajah Devan membuat Devan meringis dengan tubuh lelahnya. Setelah mengumpulkan keberaniannya akhirnya ia mengatakan hal yang sebenarnya kepada Bapak dan Mamanya itu. Ini berat tapi tak mungkin Devan sembunyikan.


"Maaf Pak," ujar Devan yang kini sudah terisak.


BRUK


Pukul Farhan lagi, namun kini ke arah mulut Devan membuat bibirnya pecah hingga darah mengalir dan menetes di bajunya.


"Bapak tidak pernah megajarkan kamu untuk melakukan hal kotor seperti itu!!!"


"Kamu ini hanya mempermalukan keluarga!!!"


"Mau ditaruh dimana muka Bapak kalau mereka semua tahu kalau anak Farhan telah menghamili seorang gadis!!!"


"Bapak selalu mengajarkan kamu nilai agama yang baik agar kamu tidak salah jalan tapi kenapa kamu lakukan ini?!!"


"Kurang ajar kamu!!!" teriak Farhan sambil terus memukul wajah putranya itu tanpa memperdulikan darah yang sudah mengalir di pelipis Devan.


"Maaf Pak!!!" teriak Devan.


"Pak!!!" teriak Fatima.


Fatima yang merasa tak tega itu kini menggantung di kaki suaminya sambil menangis.


"Pak! Sudah Pak!!!" mohon Fatima yang sudah tak tahan dengan hal ini.


"Minggir!!!" teriak Farhan lalu mendorong tubuh Istrinya begitu saja, membuat Fatima terhempas ke lantai.


Pukulan itu kembali Farhan lakukan membuat Fatima kembali bangkit dan  memeluk tubuh putranya yang kini wajahnya sudah bersimpah darah. Pukulan keras itu bahkan mengenai punggung Fatima membuat Fatima meringis kesakitan.


"Minyingkir Fatima!!!" teriak Farhan.


"Jangan Pak!!!" mohon Fatima sembari terus memeluk Devan yang kini telah menangis.


Farhan kini menghembuskan nafas lalu terdiam sejenak dan menghentikan pukulan itu lalu segera melangkah masuk ke arah dapur. Entah apa yang dipikirkan oleh Farhan namun langkahnya begitu terburu-buru.


Fatima kini melepas pelukannya dan menatap wajah Devan yang sudah bersimpah darah. Fatima tak pernah melihat wajah anaknya itu luka seperti ini.


"Siapa yang sudah kamu hamili, Nak?" tanya Fatima terisak sambil mengelus rambut putranya.


"Maafkan Devan, Bu," ujar Devan.


Fatima terisak menatap mulut putranya yang penuh dengan darah.


"Devan!!!" teriak Farhan sambil memegang sebuah parang dan melangkah ke arah Devan.


Devan dan Fatima kini dengan kompak menoleh menatap Farhan yang kini masih melangkah. Tatapan Devan kini terbelalak dengan matanya yang memerah menatap senjata tajam itu. Parang yang nampak panjang dan berkilau itu kini semakin mendekat seiring waktu berjalan. Devan kenal dengan parang itu, Parang yang selalu bapaknya gunakan untuk membelah kelapa.


Tubuh Devan gemetar dan membuatnya mengigil. Apakah Bapaknya akan membunuhnya dengan parang itu?


"Maaaaaa!!!" jerit Devan lalu segera memeluk tubuh Fatima.


"Mamaaaaaa!!!" teriak Devan lagi.


"Astagfirullah Bapak!!!" teriak Fatima yang kini semakin memeluk tubuh Devan yang gemetar.


"Lebih baik kamu mati!!!" teriak Farhan lalu segera menggerakkan parang itu ke arah kepala Devan namun, dengan cepat Fatima mendorong tubuh Farhan hingga Farhan terhempas ke lantai.


Parang besar itu kini terhempas dan tertancap ke kursi sofa membuat Devan terbelalak. Parang itu begitu tajam, jika saja Fatima tak mendorong Farhan mungkin kepala Devan telah terbelah.


"Istighfar Pak!!!" teriak Fatima dengan tubuh gemetarnya.


Farhan kini menarik nafasnya yang sesak itu. Rasanya amarah itu tak tertahankan lagi, hampir saja Farhan membunuh darah dagingnya sendiri. Farhan bertelunkup dan segera menangis.


Bruk Bruk Bruk


Suara pintu yang dipukul dari luar berhasil membuat mereka terdiam dari tangisannya dan segera menatap ke arah pintu secara bersamaan.


Fatima kini mengusap pipinya yang basah itu lalu segera menghampiri Devan dan membantunya bangkit dari lantai lalu memeluknya dengan erat. Fatima tak mau meniggalkan Devan bersama dengan suaminya ketika ia akan keluar untuk membuka pintu, Fatima tak mau jika Farhan melakukan hal nekat seperti tadi.


Fatima kini membuka pintu dan menatap pria berjas hitam dengan kepala plontos sedang berdiri di depan pintu.


"Selamat siang," ujar Jef tegas.


"I...i...iya," jawab Fatima gugup.


Jef kini melirik Devan yang wajahnya sudah babak belur dengan darah yang menghiasi wajahnya. Devan yang merasa di perhatikan oleh Jef kini menggerakkan tubuhnya dan bersembunyi di balik tubuh Fatima.


"Dia Devan?" Tunjuk Jef ke arah Devan yang masih bersembunyi di balik tubuh Fatima.