Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 55



"Bidadari, Van."


Devan menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan setelah mendengar hal tersebut.


"Ci, lo serius?"


Cia mengangguk dengan wajah kebingungan. Apa ini salah?


"Emang kenapa?"


"Ci, yang lo jelasin tadi ke gue kayak lo ngejelasin tentang kuntilanak tau nggak, hahaha." Devan sedikit tertawa namun, tertahan dengan tatap tajam Cia yang seakan menikam Devan dengan begitu sadis.


"Ci, sekarang gue mau nanya, lo liat apa?"


"Bidadari, Van" ujar Cia lagi dengan wajah yang serius.


Devan mendecapkan bibirnya sembari mengusap rambutnya berusaha untuk bersabar.


"Ci, lo dengerin gue! Rambut panjang, kuku panjang dan baju putih," sebutnya sambil menghitung jari tangannya, "Ci itu bidadari?"


"Van yang gue liat, yah emang kayak gitu."


Devan tersenyum setelah memukul lututnya, melampiaskan kekesalannya pada Cia.


"Ok," ujarnya mengangguk sembari tersenyum pasrah.


"Lo liat di mana?"


"Di ruang bawah tanah."


"Tuh kan emang beneran kuntilanak yang lo liat, Ci."


"Nggak, Van!"


"Kuntilanak!"


"Bukan!!!" teriak Cia.


"Kuntilanak!!!" teriak Devan.


"Ih, nyebelin, yah lo."


Cia menghembuskan nafas berat lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Devan mungkin tak mengerti bagaimana sosok bidadari yang Cia maksud. Ini bukan kuntilanak seperti apa yang Devan pikirkan. 


Devan mengkerutkan alisnya. Devan baru sadar jika, Cia baru saja menyebutkan ruang bawah tanah.


"Ci!"


"Em," sahutnya dingin.


"Lo liat kuntilanak itu di mana?"


"Bidadari!!!"


"Iya, iya, bidadari, lo liat di mana tadi?" Tatap Devan serius.


"Di ruang bawa tanah."


"Hah? Lo ngapain di sana, Ci?"


Cia terbelalak kaget lalu mengigit bibirnya pelan. Cia betul-betul bodoh dan mengatakan hal itu kepada Devan yang kini masih menatapnya dengan sangat serius menanti jawaban darinya. Sekarang Cia tak tau harus berkata apa. Jika, Cia jujur mengenai hal ini pasti Devan marah tapi, jika Cia berbohong, Cia harus bilang apa kepada Devan.


"Ci!"


"Hah?" Cia tersentak kaget, tersadar dari lamunannya.


"Lo dari mana tadi?"


"Gue-"


Devan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa lalu menekan tombol off di remote. Suasana kini menjadi sunyi tak ada diantara mereka yang bicara.


"Dagu lo kenapa?" Tunjuknya membuat Cia terbelalak mendengar pertanyaan Devan.


Rasanya tubuh Cia lemas dengan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya hingga detak jantungnya sulit untuk dikontrol membuat Cia gelisah.


"Ci!" panggil Devan membuat Cia menoleh.


"Dagu lo kenapa?"


Plak


Pukulan keras mendarat di lengan Devan membuat Devan tersentak kaget dengan tatapan bingungnya.


"Lo kenapa sih, Ci?" ujarnya kesal sembari mengusap lengannya yang telah dipukul oleh Cia.


"Lo jahat!!!" teriaknya.


"Jahat gimana sih, Ci?"


"Lo buat gue deg-degan bego!!!" teriaknya.


"Husst!!!" Devan meletakkan jari telunjuknya di depan hidungnya sembari menatap keseluruh ruangan dan berpusat pada pintu kamar Fatima.


"Apa?" tatap Cia kebingungan.


"Nggak usah teriak! Nanti Mama Bagun, lagian lo dari mana sih? Terus dagu lo kenapa bisa biru kayak gitu?" tanya Devan sembari menatap Cia yang kini hanya mampu tertunduk.


Cia kini mengigit bibir, mungkin Cia harus mengatakan semuanya pada Devan lagi pula Devan pasti akan terus menyerbunya dengan berbagai pertanyaan jika, ia tidak menjawab.


"Ci! Jawab sekarang!"


Cia menghembuskan nafas panjang dan begitu berat seakan sulit untuk menjelaskannya.


"Ci, jawab sekarang!"


"Em, ta..ta...tadi gue di di...disuruh foto copy sama pak Yanto-" ujaran Cia terhenti sejenak berusaha untuk mengatur nafasnya.


"Terus?"


"Ehem, Van, lo tau nggak?" sambung Cia yabg nada suaranya tiba-tiba menjadi bersemangat membuat Devan menoleh menatap Cia yang kini menatapnya dengan senyum yang lebar seakan melupakan kegugupannya menjelaskan hal itu.


"Lo tau nggak gue ketemu sama siapa?"


"Yah, mana gue tau, gue kan nggak ada di situ."


"Ya, lo tinggal bilang ajah siapa! Emang susah?" tatap tajam Cia.


"Iya, iya, siapa?" ujarnya pasrah.


Cia tersenyum lalu menggerakkan tubuhnya berusaha mendekatkan jaraknya antara ia dan Devan.


"Gue ketemu pemilik mall Brahmanaaaa!!!" teriak Cia begitu histeris.


"Aa?" tatap Devan heran.


"Ya, ampun, Van! Itu loh yang kita beli tas di mall besar itu."


Devan terdiam berusaha mengingat tentang hal yang dijelaskan Cia.


"Ingat nggak? Yang kita beli obat, gaun cantik."


Devan melebarkan matanya dan mulutnya terbuka cepat ketika ia berhasil mengingat hal itu.


"Oh yang itu, terus?"


"Ban mobilnya kempes jadi, Cia bantu eh malah diajak ke rumahnya."


"Terus lo mau?"


"Ya, iyalah mau, masa gue nolak."


"Ci! Lain kali kali kalau ada yang ngajak jangan mau!"


"Emang kenapa? Tapi tau nggak, Van? rumahnya gedeeeeee banget!!!" Cia merenggangkan tangannya membuat Devan mengerakkan tubuhnya ke belakang ketika jari-jari Cia mendorong wajah Devan dengan kuat.


"Santai ajah, Ci!" Hempas Devan menjauhkan tangan Cia.


"Terus waktu Cia mau ke toilet eh malah jatuh, nih!" tunjuk Cia ke arah dagunya yang terlihat membiru.


"Sampe biru gitu?"


Cia mengangguk.


"Terus Cia denger, yah, Van ada yang nangis kenceng banget, yah udah Cia turung di tangga dan itu gelaaaaap banget, Van. Sumpah!" Bisik Cia membuat Devan merinding.


"Dan masa nih, yah tuh bidadarinya dicambuk sampai berdarah, beh," ringis Cia di akhir ujarannya sementara Devan melongo.


"Kasian banget kan, Van?"


"Nggak!" ujar Devan singkat lalu kembali menyalakan TV.


"Ih, kok gitu sih? Harusnya lo itu kasian!"


"Kasian kenapa? Kalau lo yang dicambuk baru gue kasian. Emang kenapa dia di cambuk?"


"Yang Cia tau bidadarinya itu ngeludahin orang yang ngecambuk dia, Van."


"Gila dong."


"Betul!"


Devan mengkerutkan alisnya tak mengerti dengan Cia yang membetulkan jawaban asal-asalannya itu.


"Betul?"


Cia mengangguk.


Devan semakin mengekerutkan alisnya tak mengerti lalu mendekatkan posisi duduknya berhadapan dengan Cia.


"Betul?"


"Iya, Van. Dia itu suka teriak-teriak nggak jelas."


"Emang kuntilanak kali, Ci yang lo liat."


"Bidadari, Van." Tatap Cia tajam.


"Nggak! Nggak! Nggak! Pokoknya kuntilanak!"


"Bidadari!"


"Kuntilanak!" Tegasnya tak mau kalah sembari mendekatkan wajahnya ke arah Cia yang ikut melotot.


"Bidadari, Van!!!" teriak Cia.


"Kuntilanak, Cia!"


Tak ada lagi di antara mereka yang angkat bicara, mereka kini saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat.


"Huh!" Kesal Cia bangkit dari sofa.


Devan tersenyum sinis lalu kembali menekan tombol remote memunculkan gambar di layar TV.


"Ci!!! Yang lo liat tadi itu kuntilanak!!!" teriak Devan.


Devan tersenyum sambil menatap layar TV diiringi suasana yang sunyi, tak ada lagi teriakan Cia di sana setelah hempasan pintu kamar cia berbunyi.


Plak


Bantal sofa terhempas menghantam kepala Devan disusul suara pintu yang terhempas setelah Cia melempar kepala Devan dengan bantal membuat Devan meringis.


"Ci!" Devan menoleh sembari memegang kepalnya menatap pintu kamar Cia yang telah tertutup rapat-rapat.


"Gila lo, Ci!!!" teriak Devan.