
"Cia, ini aku Adelio," ujar Adelio membuat suara tangisan Cia langsung terhenti.
"Ini aku Adelio," ujar Adelio lagi membuat Cia dengan perlahan menoleh menatap Adelio yang kini menatapnya dengan raut wajah sedih.
Cia terdiam sejenak menatap setiap inci wajah Adelio di dalam kegelapan hingga dengan penuh lembut Adelio menarik tubuh Cia dan membawanya ke dalam pelukan Adelio.
Cia memejamkan kedua matanya dan menyandarkan pipinya ke dada bidang Adelio yang terasa hangat. Suasana yang hening dan sunyi membuat Cia benar-benar merasa nyaman berada di pelukan Adelio. Jari-jari tangan Adelio juga dengan penuh lembut membelai rambut Cia dan menyisir lembut tiap helai rambut Cia yang berantakan.
Kali ini benar adanya jika pelukan merupakan hal yang membuat seseorang tenang dan ini yang Cia rasakan. Cia tak pernah merasakan pelukan yang membuat Cia senyaman ini setelah pelukan dari Fatima dan Devan.
"Cia, kamu kenapa?" tanya Adelio di sela-sela ia masih membelai lembut rambut Cia.
Cia tak menjawab membuat Adelio menunduk berusaha untuk memastikan jika Cia tak tidur di dalam pelukannya.
"Cia," panggil Adelio.
"Adelio, Gue mau tetap seperti ini," ujar Cia yang semakin mempererat pelukannya.
Adelio mengangguk dan perlahan ia menoleh menatap orang-orang yang kini sedang menatapnya.Yah Adelio tahu apa yang akan mereka pikirkan jika melihatnya memeluk Cia seperti ini bahkan ada dari mereka yang sedang berbisik seakan membicarakan hal buruk, Adelio tak bisa mendengarnya hanya saja Adelio berpikir seperti itu.
"Cia, sepertinya kita harus pergi dari sini," ujar Adelio.
...___****___...
Adelio menjulurkan uang ke arah kasir setelah ia mengambil sebotol minuman dingin dari lemari pendingin. Adelio melangkah, membuka pintu keluar setelah membayar minuman dingin yang kini telah berada di di dalam kantung keresek berwarna putih.
Adelio melangkah menghampiri Cia yang kini sedang duduk termenung di atas kursi plastik yang berada di depan minimarket. Cia nampak tertunduk dengan wajah lesu, kelopak mata yang terlihat membengkak, rambut yang agak kotor dan baju seragam sekolah yang terlihat kotor.
"Minum?" tawar Adelio yang kini berlutut di hadapan Cia yang kini kedua matanya dengan perlahan menoleh menatap Adelio yang terlihat sedang tersenyum dengan penuh kedamaian.
Cia ikut tersenyum walau terlihat tipis. Cia tak tahu bagaimana bisa ada senyum yang terlihat sangat setulus ini dan senyum itu hanya untuknya, hanya untuk Cia yang diberikan oleh Adelio.
"Mau minum?" tanya Adelio yang masih berlutut sambil menjulurkan minuman dingin itu.
Cia mengangguk lalu meraih botol itu dan menatap permukaan botol dengan tatapan kosong.
"Kenapa tidak minum?" tanya Adelio membuat Cia kini menoleh menatap Adelio yang masih setia tersenyum menatapnya dengan penuh kelembutan.
"Gue nggak haus," ujar Cia.
Adelio menghembuskan nafas panjang dan dengan perlahan ia meraih botol itu dari tangan Cia dan membukanya dengan mudah.
"Kamu harus tetap minum, ini bisa membuat kamu menjadi lebih nyaman dan kamu akan merasa lebih baik dari sebelumnya," jelas Adelio lalu menjulurkan botol yang telah terbuka itu ke arah Cia yang kini terdiam dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ayo!" ujar Adelio.
"Lebih baik?" tanya Adelio membuat Cia mengangguk.
Adelio terdiam sejenak menatap pipi, tangan dan rambut Cia yang terlihat kotor.
"Em, tunggu sebentar!" ujar Adelio lalu bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Cia yang kini mendongak menatap Adelio yang masih melangkah memberi jarak antara ia dan Adelio.
"Adelio! Lo mau kemana?" tanya Cia.
Adelio menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Cia.
"Tunggu sebentar! Ini tidak akan lama!" ujar Adelio dengan nada suara lembutnya lalu ia kembali melangkah meninggalkan Cia yang kini hanya terdiam dengan kedua matanya yang masih menatap Adelio.
Dari sini Cia bisa melihat Adelio yang kembali melangkah masuk ke dalam minimarket . Cia tertunduk menatap sepatu hitamnya yang terlihat sangat kotor. Cia menghembuskan nafas panjang dan menutup botol dan meletakanya di atas meja tepat di samping kursi yang ia duduki.
"Cia," ujar Adelio dengan tiba-tiba membuat Cia menoleh dengan cepat menatap Adelio yang kini sedang berlutut di hadapannya sambil membuka tisu basah yang baru saja ia beli dari minimarket.
"Boleh julur kan tangan mu?" tanya Adelio membuat Cia mengkerutkan alisnya tak mengerti.
"Untuk apa?" tanya Cia.
"Aku tahu kamu kotor karena telah berbaring di atas makam Mama kamu dan aku hanya ingin membersihkannya tapi kalau kamu merasa keberatan maka kamu bisa melakukannya sendiri," jelas Adelio yang kini menjulurkan tisu basah ke arah Cia yang kini tersenyum.
"Lakukan!" pintah Cia yang kini menjulurkan tangannya ke arah Adelio yang kini tersenyum.
Adelio meraih tangan Cia dan mengusap tangan dan jari-jari Cia kotor karena tanah membuat setiap usapan itu berhasil membuat Cia tersenyum. Cia tak mengerti bagaimana bisa ada pria seperti Adelio yang begitu sangat mencintainya. Cia tak tahu apakah sikap Adelio yang baik seperti ini punya niat buruk kepada nya atau tidak seperti hal nya Ogi, si pria yang berusaha untuk mendekati Cia hanya karena menginginkan sesuatu darinya. Pria yang sangat buruk dan kasar, pria seperti Ogi tak layak mendapatkan sebuah cinta.
Adelio sangat berbeda jauh dari Ogi. Adelio adalah pria lembut, baik hati dan sikap nya. Selama ini Adelio tak pernah membentaknya, bersikap kasar kepadanya atau bahkan memukulnya. Adelio seakan memperlakukan Cia seperti seorang ratu yang begitu sangat di sayangi. Pria yang pendiam dan jarang bicara ini membuat Cia yakin jika ia telah jatuh cinta dengan Adelio.
Adelio bangkit dan duduk di samping Cia membuat Cia menoleh menatap iris mata Adelio yang terlihat sangat indah. Adelio mengeluarkan tisu basah dan kembali mengarahkan tisu itu ke arah pipi Cia. Gerakan tangan Adelio yang mendekati pipi Cia kini tertahan saat menatap kedua mata Cia yang entah sejak kapan terus menatapnya. Adelio dengan cepat membuang pandangannya menatap pipi Cia yang kotor itu dan mengusapnya sementara Cia terus menatap setiap inci wajah Adelio yang begitu sangat sempurna.
Adelio menghembuskan nafas sesaknya yang dipengaruhi oleh detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. Sesekali ia mencuri pandang menatap Cia yang tak henti-hentinya menatap wajah Adelio.
Wajah Cia terlihat datar saat menatap Adelio namun sejujurnya ia sangat bahagia dan merasa gemas sendiri melihat wajah malu Adelio. Cia sekarang tahu mengapa Adelio tak mau menatap kedua matanya, itu semua karena Adelio merasa canggung.
Adelio melirik kedua iris mata Cia sejenak hingga kedua matanya bertemu pandang dan kemudian Adelio kembali fokus pada pipi Cia.
"Ada ap-"
Cup
Kedua mata Adelio membulat ketika sebuah kecupan mendarat di pipinya. Cia menjauhkan bibirnya dan tersenyum menatap Adelio yang kini terlihat sangat kaget dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.