Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 7



Jendela kamar cia terhempas ditambah lagi suara lantai yang terdengar seperti ada benda besar yang jatuh. Dengan cepat Cia bangkit dari kasurnya lalu menatap ke arah jendela dan.....


   


"Surprise !" Teriak Devan kegirangan.


Cia terbelalak menatap Devan yang mulai melangkah ke arahnya.


   


"Kok Lo bis-" ucapan cia terhenti.


Cia melangkah mendekati Devan yang kini sudah berada di hadapannya sambil memegang piring serta gelas.


   


"Ah berisik lu! Naah sekarang berhubung gue udah ada di dalem jadi lu harus Mak-"


 


"Nggak !"


   


"Gue Belum selesai ngomong !"


   


"Yah terserah gue,  gue nggak peduli. lagian gue juga udah tau Lo mau ngomong apa !"


Cia melangkah menjauh lalu duduk di lantai sambil bersandar di samping kasur.


Devan menghembuskan nafas berat lalu, ikut duduk di samping cia tetap dengan piring dan segelas air di tangannya.


"Cia tukang bawel."


Devan mulai mengucapkan kalimat sambil menyanyi membuat wajah cia nampak semakin kesal.


   


"Terserah !"


   


"Suka marah-marah."


   


"Bodoh amat !"


   


"Ih lu parah lu ci."


   


"Apa sih ?"


 


"Lo tadi ngatain si mamat bodoh."


   


"Nggak !"


   


"Tadi lo bilang gitu."


   


"Nggak kampret !"


   


"Tadi barusan lo ngomong."


   


"Yang mana? gue nggak ngomong kayak gitu !"


   


"Ada tadi lo ngomong kayak gitu, Lo bilang bodoh amat." Tatap Devan jahil.


Cia terdiam mendengar ucapan ayahnya jadi maksud Devan adalah kalimat itu. Cia menatap wajah ayahnya sambil memasang wajah sangar untuk memastikan kepada ayahnya bahwa dia masih marah.


"Awas lu ! pasti si Mamat bakalan marah."


   


"Pasti dia bilang gini 'bener-bener Lo yah cia ngatain gue bodoh, Lo nggak tau menurut buku trisakti perbengkelan pasal 7 ayat 3 yang berbunyi ......" Celoteh Devan menirukan ucapan dan gaya Mamat.


Cia melipat bibir mungilnya kedalam berusaha menahan tawa ketika Devan mencontohi ucapan Mamat.


   


"Ih, malah ketawa."


Devan sedikit menundukkan kepalanya berusaha menatap wajah cia yang tertutup oleh rambut yang nampak di biarkan terurai.


   


"Nggak !!!"


   


"Terus apa kalau bukan ketawa?, Nyengir iya?"


   


"Lagian kalau ketawa itu yang gede biar kedengaran ! Jagan kayak tikus kejepit !" Oceh Devan lagi.


Cia melirik devan beberapa saat lalu kembali memasang wajah cuek.


   


"Nih makan ci ! Ada nasi tambah ik-"


   


"Nggak !"


   


"Belum selesai ci, nunggu selesai gue ngomong dulu dong baru ditolak !"


   


"Gue nggak lapar !"


   


kwerrrrkkkkk


Suara amukan perut cia terdengar membuat cia terkejut lalu mengigit bibir bawahnya dengan rasa malu. mulutnya memang bisa berbohong tapi suara ricuh perutnya seakan berkata jujur.


"Lo kentut ya ?"


   


"Enggak ! enak ajah" cia menunduk dengan wajah yang memerah.


   


Wajah cia nampak memerah menahan rasa malu, perutnya memang tidak bisa di ajak kerja sama.


   


"Udah dong nggak usah marah."


   


"Ya, udah deh gini kita ketemu Black pink !" Bisik Devan.


   


"Apa?" Tatap Cia terkejut mendengar perkataan ayahnya.


   


"Iya black pink yang tatuwidad tudu tudu tudu tu," ujar Devan sambil mengerakkan tangannya mengikuti gerakan ciri khas girlband asal Korea selatan itu.


   


"Yang bener ?" Tatap cia tak percaya.


   


"Iya bener yang bombaya bombaya."


   


"Ah beneran ? Black pink yang lisa kan ?" Tambah cia kegirangan.


Devan terdiam ia tak tau siapa nama lisa yang baru saja cia sebut.


   


"I.. iya dong si lisa black pink terus si Mita," ujarnya asal-asalan.


   


"Mita siapa ?" Tatap cia heran.


Jujur ia baru tau jika personil black pink ada yang bernama mita yang cia tau Mita adalah janda karyawan Laundry yang berada di sebelah bengkel.


   


 "Nggak ada yah?" jawab Devan lugu.


   


 "Yah nggak ada lah."


   


"Yah ngomongnya santai aja dong ci nggak usah ngegas gitu dong!"


   


"Iya ayah ku sayang." Cia dengan gemasnya mencubit pipi Devan yang terasa mulus.


   


"Udah deh gue mau makan." Cia meraih piring dari lantai yang Devan letakkan tadi.


   


"Eh yang nyuruh lu makan siapa ? Sini !" Devan Manarik pelan piring yang cia pegang.


   


"Katanya buat gue ?" Ujar cia mempertahankan piring di tangannya seakan tak kuasa melepas piring itu.


   


"Nggak jadi."


   


"Ah gue lapar !" Cia mulai melembutkan suaranya menunjukan bahwa ia memang benar-benar lapar.


   


"Yah udah makan !" Devan melepas pegangannya membuat senyum cia merekah.


  


"Yah udah sana keluar gue mau makan ! jangan lupa black pinknya !"


Devan mendecapkan bibirnya setelah mendengar ucapan cia. Devan bangkit tanpa sepata-kata pun lalu melangkah keluar dari kamar cia.


Cia menatap punggung Devan yang perlahan mulai menjauh dan hilang ketika Devan telah benar-benar keluar dari kamarnya.


Dengan cepat cia memakan makanan yang Devan bawa tadi. Memang benar jika seseorang lapar harus segera makan dan jangan di tahan-tahan jika tidak yah seperti cia yang makan bagaikan orang yang kesurupan atau lebih mirip dengan orang yang tidak makan selama 7 hari. Huh agresif sekali.


"Makan yah makan tapi jangan gitu juga dong!" Ujar Devan sambil mengintip memperlihatkan separuh wajahnya.


   


"Bodoh amat !" teriak cia.


Pagi ini begitu sangat cerah dan yang paling terpenting hari ini adalah hari Minggu, Hari dimana anak-anak sekolah bersantai dan terlepas dari rantai pelajaran yang seakan membebani pikiran yah, walaupun kadang terlintas dipikiran bahwa hari Minggu kurang menyenangkan karena besok adalah hari Senin.


Cukup aneh memang tapi ini nyata. hari Senin dimana hari yang melelahkan Dimana kita harus upacara di tambah lagi pelajaran yang jujur menyiksa otak yah, itu kalau otak kalian kayak si cia.


Hari Selasa, Rabu dan Kamis lebih membosankan lagi yah, nggak jauh beda sama hari Senin cuman hari Senin ada upacaranya.


Hari Jumat, kalau ngebahas hari ini, hari ini itu seperti hari yang ngasih enak tapi disuruh bayar, contohnya nih yah, jam pulang emang cepet tapi, harus senam sehat satu sekolah, kerja bakti, ditambah lagi yang ikut kelas les tentang seni, olahraga, bahasa dan yang lainnnya.


Hari Sabtu ini nih hari yang di tunggu karena yang muncul di pikiran murid-murid terutama cia adalah setelah hari Sabtu adalah hari Minggu dan jika sudah hari Minggu malah kita kayak keganggu karena besok hari Senin, yah jujur itu definisi


Jadwal sekolah menurut cia.


Wangi parfum merek Vitalis itu tercium menyengat di dalam kamar cia. bibirnya mulai dipoles dengan listip berwarna pink ditambah maskara yang telah menyisir lembut bulu matanya.


jika boleh jujur cia tak pernah berdandan seperti ini tapi, cia harus tampil cantik untuk bertemu personil black pink. Rambut hitamnya nampak telah rapih dan berkilau setelah diberi minyak rambut merek cap kemiri.


"Huh," Cia bernafas lega setelah semuanya siap.


Baju pink yang Devan beli untuknya 2 tahun yang lalu kini sudah terpasang di tubuh langsingnya ditambah dengan celana Levis hitam.


Sebenarnya ia tak terlalu tertarik dengan dunia girlband asal Korea itu, rasa tertariknya tak seperti Fika yang memang suka mengenai hal yang berhubungan dengan korea. semua tentang Korea Fika tau dari A sampai z apa lagi tenang BTS huh, dia juaranya.


Kini cia teringat dengan Fika gadis pecinta Korea itu pasti akan terkejut dan irih mendengar jika ia akan bertemu dengan personil black pink.


Dengan senyuman ia meraih ponsel dari celana Levisnya lalu mengetik sesuatu.


Kambing ku 📷 📞


...Hari ini...


^^^oi Lo tau nggak gue^^^


^^^Mau ketemu sama^^^


^^^Balck pink!!!!. Wkwk^^^


^^^Nggak usah irih yah^^^


^^^08.24✅^^^


Cia menghembuskan nafas berat menatap centang satu dari ponselnya, apakah Fika masih tidur sehingga ia belum membuka handphone atau bagaimana. Biasanya gadis itu yang selalu berteriak untuk membagunkan nya di pagi hari tapi, kini tak ada chat darinya, tak ada telfon bahkan pesan suara untuknya.