Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 35



Adelio tak mengerti mengapa gadis ini selalu memukul bahunya dengan sangat keras. Apakah dia sengaja untuk mematahkan tulang bahunya. Bahkan Ia masih ingat pukulan kemarin, walau sejujurnya itu hanya tepukan.


"Hah!" Cia menghembuskan nafas berat Jadi, seperti ini jika, Fika yang satu-satunya sahabat Cia di dalam kelas tak ada. Rasanya begitu sangat sunyi dan membosankan. Tak ada tempat curhat, tak ada yang bisa dia marahi karena, oppa koreanya, tak ada sahabat makan di kantin, tak ada sahabat bobrok, tak ada yang mengerjakan tugasnya dan tak ada yang menemaninya memata-matai Ogi si idolanya itu.


Cia menghempaskan tubuhnya ke kursi lalu menenggelamkan wajahnya di permukaan tas lalu terdiam. Adelio ikut terdiam, entah apa yang terjadi dengan gadis ini yang nampak tak bersemangat seperti yang biasa Adelio lihat.


Cia mengangkat kepalanya secara tiba-tiba membuat Adelio tersentak kaget membuatnya gugup dengan wajah paniknya.


Tatapan Cia yang tajam seakan menikamnya begitu sadis. Apakah gadis ini akan marah lagi seperti biasanya?


"Hah!" Keluh Cia tak jelas dan mendecapkan bibirnya.


Cia melirik kembali Adelio yang nampak tertunduk di sampingnya. Rasanya membosankan jika, tak melampiaskan amarahnya pada seseorang.


"Heh!" Tegur Cia dengan nada menggertak sambil menatap Adelio yang ikut menatapnya.


"Gue kayak orang gila yah?"


Adelio terdiam heran, pertanyaan macam apa yang Cia barusan katakan kepadanya. Adelio terdiam tak menjawab pertanyaan aneh Cia.


Plak


Cia memukul meja dengan keras membuat Adelio tersentak kaget. Gadis ini marah lagi.


"Jawab!!!" bentaknya.


"Lo tau nggak kalau, kursi yang lo pake sekarang itu punya gue?"


Adelio terdiam sejenak.


"I..iya."


"Terus kalau lo udah tau ngapain lo duduk di situ?"


Adelio terdiam tak tau harus mengatakan apa. Memang benar jika, kursi ini adalah milik Cia tapi kan, Adelio hanya disuruh duduk oleh Bu Lia kalaupun, Adelio tau kursi ini punya orang, Adelio tak akan mau duduk di kursi ini.


"Ya udah." Adelio bangkit dari kursi.


Cia mengkerutkan alisnya mendengar perkataan singkat Adelio. Apakah pria ini akan pindah tempat duduk ? tapi jika, pria ini pindah dari bangkunya maka Cia pasti akan lebih sepi lagi dari sebelumnya. Jika, Fika tak ada untuk menemaninya di sekolah mungkin, Adelio bisa menjadi Fika yang akan menemaninya untuk mengerjakan tugas, menemaninya makan di kantin dan lebih utama menemaninya memata-matai Ogi.


"Duduk!" pintah Cia cepat.


Adelio menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Cia. Ada apa dengan otak gadis ini yang tiba-tiba berubah pikiran.


"Duduk!" pintah Cia lagi.


Adelio menghela nafas dan menurut saja. Ia kembali melangkah dan duduk kembali ke kursi.


"Mungkin hari ini atau beberapa hari berikutnya kayaknya lo masih bisa duduk di sini tapi, lo harus bisa ngegantiin tugas Fika untuk sementara waktu, yah sampai si Fika kembali sekolah."


Adelio melongo.


Apakah gadis ini mencoba memanfaatkan kehadirannya di sini?


"Mau nggak lo?" tanya Cia.


Adelio menghela nafas panjang setelah mendengar tawaran Cia. Jujur Adelio tak kenal dengan nama Fika yang baru saja Cia sebutkan. Jika, dia menolak tawaran Cia untuk mengganti Fika sementara waktu lalu dia harus duduk di mana? lagi pula tak ada bangku kosong di kelas ini.


"Mau nggak lo?!!!" Bentak Cia.


"I...iya sa...saya mau," jawab Adelio kaget.


Jam istirahat dimulai. Semua murid-murid nampak bergegas keluar dari kelas masing-masing melangkah menuju kantin. SMA Garuda bangsa hanya punya satu kantin yang berada di ujung tak jauh dari area lapangan bola dan bola basket. Kantin sekolah dengan tiga lantai ini berukuran lebih luas dan dilengkapi AC yang terpasang disetiap sisi ruangan.


Lantai pertama khusus untuk makanan ringan yang menyediakan berbagai jenis kerupuk, biskuit dan lain sebagainya.


Sementara lantai tiga hanya menyediakan makanan pencuci mulut seperti es cream, jus berbagai rasa, buah dan berbagai jenis kue.


Cia memasukkan bukuya ke dalam tas hitam lalu menatap Adelio yang nampak mencoret-coret kertas putih bergaris biru itu.


"Kita ke kantin!" Ajak Cia sembari bangkit dari kursi.


Adelio mendongak menatap gadis pemarah ini yang entah bicara dengan siapa.


Cia menoleh menatap Adelio yang menatapnya dengan tatapan bodoh.


"Kok, lo nggak berdiri?"


"Saya?"


Cia terdiam dengan wajah datarnya.


"Kamu ngajak saya?" tunjuk Adelio ke arah ujung hidungnya.


"Yah, iyalah!!!" geretaknya.


"Saya nggak lapar," jawab Adelio malas.


"Terserah, lo mau makan di kantin atau nggak, yah terserah!!! Yang gue mau, lo nemenin gue ngeliat idola gue!"


"Lo lupa yah? lo sekarang itu ngegantiin tugas Fika dan lo harus nurut sama gue! lo masih maukan duduk di kursi gue?"


Adelio terdiam mendengar ujaran Cia yang sepertinya ini ancaman sembari menatap Cia yang nampak duduk di atas meja. Cia melirik loli, Marisa dan medika yang nampak melangkah ke arahnya.


"Mending lo ikut gue ajah ke kantin dari para berhadapan sama si Loli." Cia tersenyum lalu melompat pelan dari meja dan melangkah berpapasan dengan loli dan ke dua sahabatnya itu.


Adelio menatap Cia yang kini melangkah pergi dan digantikan oleh Loli dan kedua sahabatnya yang mengikut di belakang.


"Hay Adelio," sapa Loli sembari tersenyum lalu duduk di atas meja dengan gaya yang menggoda.


Adelio terdiam, rasanya berhadapan dengan gadis-gadis ini membuatnya muak ditambah lagi godaan itu. Yang Cia katakan benar mungkin, lebih baik jika, ia ikut Cia ke kantin dari pada berhadapan dengan gadis-gadis ini.


"Tu...tu..tunggu!!!" teriak Adelio sambil berlari mengejar kepergian Cia yang belum jauh meninggalkan loli dan kedua sahabatnya yang nampak syok melihat Adelio pergi begitu saja.


"Loh!" Tatap loli tak percaya jika, Adelio berlari meninggalkannya dan memilih ikut dengan Cia, si gadis berandal itu.


"Lo harus bisa ngedapetin si Adelio, Li ! Kalau nggak si Cia bakalan bisa ngedapetin si Adelio," ujar Marisa dengan nada menghasut.


"Ih, nyebelin!!! Kurang ajar tuh si Cia." loli menghentakkan kakinya kesal.


"Sabar, Li. Kalau si Ogi, cowok yang paling tampan di sekolah ajah bisa lo dapetin dengan mudah, kenapa enggak sama si Adelio," tambah Marisa lagi.


"Tapi, kayaknya si Adelio itu susah buat di dapetin, Sa. Lo liat ajah, Sa! Dia nggak pernah ngomong sama gue."


"Yah, dia belum kenal sama lo ajah kalau, dia udah kenal sama lo, yah palingan si Adelio tuh yang ngejar-ngejar lo yah nggak, Ka?"


Marisa menatap Medika yang hanya terdiam tak menanggapi ucapan Marisa serta Loli yang ikut menatap.


...____****____...


"Ikut juga lo ternyata." Cia tersenyum sinis ketika Adelio kini melangkah di sampingnya.


Adelio hanya terdiam walau sejujurnya ia malu.


Kini mereka saling terdiam sambil terus melangkahkan kakinya menuju kantin sekolah. Baru kali ini Cia ke kantin tanpa ada sosok l Fika, rasanya ia benar-benar sangat rindu.


Cia melangkah masuk ke dalam kantin yang berada di lantai dua yang nampak sangat ramai dipenuhi oleh murid-murid dari berbagai tingkatan kelas yang berbeda-beda berbaur menjadi satu di dalam ruangan kantin.


Semua orang menoleh menatap ke arah Adelio yang melangkah masuk ke dalam kantin tepat di belakang Cia.